Berjibaku di ‘Kandang Singa’

Ini adalah lanjutan dari kisah Beginner dan Keluar Dari Mulut Buaya, Ada Mulut Singa dan Dinosaurus Mengantri.

Ujian PPDS tahap II saya ibaratkan dengan ‘kandang singa’. Ada beberapa rintangan sulit yang harus saya hadapi di fase ini, mulai dari tes psikiatri berupa psikotes, MMPI, sampai wawancara dengan psikiater, hingga General Check Up. Para calon residen harus dipastikan sehat fisik & mentalnya. *lap keringat*

Kalau dalam tes akademik kemarin saya terpaksa memutar otak untuk memilih jawaban mana yang paling masuk akal (yang paling benar), mengandalkan logika (karena nggak menguasai teorinya) dengan cara menganalisis soal dan mencocokkannya dengan pilihan jawaban yang tersedia, kali ini yang dinilai adalah keadaan mental dan fisik saya apa adanya – nggak perlu mikir. Tapi tetap saja saya nggak tenang kalau tanpa persiapan. Apalagi melihat ada puluhan judul buku contoh soal-soal psikotes yang dipajang di toko buku bikin saya merasa terintimidasi. Beberapa teman menyemangati saya untuk belajar psikotes dengan sungguh-sungguh. Bahkan seorang teman ‘memaksa’ saya untuk menghapalkan kunci jawaban MMPI milik orang lain! Absurd..

Setahu saya, psikotes digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan dan kematangan mental seseorang sedangkan MMPI digunakan untuk menilai kepribadian, kewarasan, dan gangguan mental yang mungkin tersembunyi (CMIIW). Psikotes terdiri dari beberapa kelompok soal pilihan ganda yang harus dikerjakan dalam waktu terbatas. Sedangkan MMPI terdiri dari 567 soal (pernyataan) dengan pilihan jawaban ya(setuju)/tidak. Sejauh yang saya tahu juga, kepribadian & status mental seseorang sudah bawaan dalam dirinya, tidak bisa dimanipulasi atau ditutup-tutupi (jika seluruh pernyataan dipilih dengan jujur).

Maka tibalah fase ujian tahap II. Di hari pertama saya langsung mengikuti psikotes yang hanya berlangsung sekitar dua jam lebih. Jauh lebih singkat dan jumlah soal yang jauh lebih sedikit ketimbang 2 psikotes yang pernah saya ikuti saat masuk SMU dan kuliah. Setelah istirahat, kami langsung melanjutkannya dengan MMPI. Lancar. Kan sudah ‘belajar’.. Yang penting baca soal dengan teliti dan ingat-ingat pernyataan-pernyataan sebelumnya, karena ada beberapa pernyataan yang berulang, dengan bentuk kalimat yang berbeda (kalimat aktif atau pasif). Jika pilihan kita berubah-ubah, maka kita bisa dinilai tidak konsisten. Malu kan?

Menurut saya, rangkaian tes di fase ini cukup mudah, nggak perlu banyak mikir. Makanya saya menganalogikannya dengan kandang singa: ngeri, berbahaya, banyak (singanya). Tapi karena zodiak saya berlambang singa, harusnya ‘kandang singa’ ini menerima saya dengan tangan terbuka. Saya menggampangkannya.

My day was super perfect before that kamfret text message came. I have to retake MMPI test! *maybe bcoz I’m looks too nice as a human being* (twit saya sore itu)

Saya harus mengulang MMPI, sodara-sodara! Saya merasa sudah memilih jawaban-jawaban dengan ‘sempurna’, tapi ternyata hasil MMPI saya TIDAK VALID! Salahnya di mana???

Dengan rasa penasaran, saya baru browsing info tentang MMPI. Ternyata ada banyak faktor yang dapat membuat hasil MMPI kita tidak valid. Tidak menjawab lebih dari 30 soal, tidak konsisten, menyimpang (pura-pura sehat atau pura-pura sakit), berbohong/mendeskripsikan diri terlalu positif (yang tidak realistis), dan berusaha tampak terlalu baik (hati) atau sikap positif/normatif yang ekstrim (rukun dengan org lain, bebas dari masalah psikologi, terlalu yakin dengan kebaikan manusia) ternyata tidak dapat diterima dalam skoring MMPI.

Teman-teman ‘menuduh’ saya TIDAK KONSISTEN tapi saya yakin satu-satunya kesalahan saya adalah karena saya tampak ‘terlalu malaikat’ di tes MMPI. Yah, saat mengikuti MMPI itu mood saya sedang bagus-bagusnya. I was too positive! Saya memilih pernyataan yang menunjukkan bahwa saya orang baik, yang bahkan terlalu baik untuk manusia kebanyakan. (Silakan coba sendiri kalau pingin tahu bagaimana komponen tes MMPI).
I am in manic phase.. Soo positive.. And it’s seems unrealistic for MMPI scoring.. *invalid and be retaker* #bipolarmentaldisorder (twit saya lagi)

Besoknya saya pun mengulang MMPI dan berusaha untuk menjadi lebih tampak ‘manusiawi’. Semuanya lancar. Syukurlah.

Hari berikutnya, saya mengikuti wawancara dengan seorang psikiater yang mengkonfirmasi hasil psikotes & MMPI saya. Sialnya dalam wawancara, ibu ahli jiwa itu juga bertanya banyak hal soal kehidupan pribadi saya dan mengungkit-ungkit masalah-masalah yang sudah enggan untuk saya bahas lagi (malesbanget.com). Mood bahagia saya beberapa hari sebelumnya pun langsung down ke level depresi. Ah, payah!

Follow @raiyaroof via Twitter

Iklan

‘Gracias’, How She Upheld Their Dignity

IMG02259-20131101-1551.jpg

Nggak ada yang salah soal kita nggak bisa bahasa Inggris. Cuma repot aja pas kita ingin jalan-jalan ke luar negeri, atau ‘menerima tamu’ bule, atau seperti dalam pendidikan, kita butuh literatur-literatur berbahasa Inggris. Kalau memang nggak butuh, nggak usah malu kalau nggak bisa bahasa Inggris. Karena memang bukan bahasa ibu/ayah kita. Pelajaran bahasa Indonesia aja belum tentu dapat nilai 100..

Suatu hari saya masuk ke Periplus di bandara Juanda. Saat saya sedang melihat-lihat buku tak jauh dari meja kasir, datang seorang wanita bule menemui petugas kasir. Dia mengucapkan beberapa patah kata: ‘Spanish..‘ ‘Bla-bla‘ (juga dalam bahasa Spanyol).. *si petugas memandanginya sambil berusaha memahaminya* ‘Do yo have Spanish ~?‘ Wanita itu berkata lagi dalam bahasa Inggris campur Spanyol (campur bahasa Tarzan).

‘Kamus?’ Tanya pria di balik meja kasir. Wanita bule itu menggeleng. Lalu seorang perempuan Indonesia tak jauh dari saya mencoba membantunya berkomunikasi. ‘Are you looking for Spanish book?‘ Wanita bule itu mengangguk cepat.

No, we don’t have‘, jawab sang kasir.

Wanita bule Spanyol itu paham. ‘Ok,’ katanya sambil menggumamkan beberapa patah kata dalam bahasa Inggris & Spanyol. ‘Gracias!,’ katanya lagi dengan nyaring sebelum keluar dari Periplus.

Saya terpana menatap wanita bule itu berlalu. Betapa ngototnya ia tetap menggunakan bahasa Spanyol, meski ia tahu jelas bahwa tidak ada yang memahami maksudnya. Saya yakin, setidak-tidaknya ia bisa sedikit bahasa Inggris dan mengucapkan kata-kata populer dalam bahasa Inggris seperti, ‘excuse me‘, ‘sorry‘, dan ‘thank you‘.

Tapi tidak. Ia ngotot mengucapkan ‘gracias‘. Ia tidak mau mengalah dengan menggunakan bahasa selain bahasa bangsanya.

Saya jadi teringat tulisan seorang travel blogger (sudah ngubek-ubek nyari link tulisan itu tapi nggak ketemu). Kenapa di Indonesia kita selalu berusaha ‘mengalah’ demi menunjukkan keramah-tamahan kepada tamu-tamu asing (turis) dengan menggunakan bahasa Inggris, hingga mengucapkan ‘terima kasih’ pun tetap dalam bahasa Inggris. Padahal, di negara-negara Eropa yang tidak berbahasa Inggris, meski melayani turis dengan menggunakan bahasa Inggris, mereka setidaknya tetap menunjukkan identitasnya dengan mengucapkan Merci, Gracias, Danke, dll. Kenapa pariwisata Indonesia tidak mempopulerkan ucapan TERIMA KASIH dan ‘memaksa’ turis-turis asing untuk belajar mengucapkan TERIMA KASIH? Setidaknya orang-orang asing dapat melihat bahwa kita juga bisa ‘ngotot’ menunjukkan identitas, budaya, dan harga diri sebagai bangsa yang besar, Bangsa Indonesia..

(Hal sepele, tapi patut dipertimbangkan, bukan?)

Follow @raiyaroof via Twitter

Keluar Dari Mulut Buaya, Ada Mulut Singa dan Dinosaurus Mengantri

Setelah penantian penuh kegalauan selama hampir seminggu, tibalah hari pengumuman hasil tes akademik kemarin. Kata seorang teman lulusan FK setempat yang sama-sama ikut tes, pengumuman biasanya baru keluar setelah lewat tengah hari. Benar saja, pagi harinya ditempel pemberitahuan bahwa hasil tes akan diumumkan di dekanat & website pada hari itu, Jumat 18 Oktober 2013 pukul 2 siang.

Pukul setengah 2 saya bergabung dengan para peserta yang sudah berkumpul di depan ruang sekretariat dekanat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam. Semua menunggu dengan sabar meski harap-harap cemas. Menit demi menit pun berlalu, masih belum ada kejelasan. Pukul 2 seperempat semua mulai gelisah. Sampai akhirnya seorang dokter pria membuyarkan lamunan dengan suara nyaring: “Sudah keluar di web!”

Masing-masing langsung mengeluarkan gadgetnya. Yang tidak punya sarana untuk membuka website langsung mengerubungi teman sejawat yang membawa ipad & tab bagai pengunjung pasar yang sedang menonton tukang obat alternatif beratraksi. Saya pun ikut mengintip. Puji Tuhan saya termasuk dalam 14 orang dari 28 peserta tes PPDS pediatri yang lolos ke tahap berikutnya. Rasanya lega, bagaikan baru lolos dari mulut buaya.

Tapi perjalanan masih panjang. Keluar dari mulut buaya, bersiap-siaplah masuk ke mulut singa. Di belakangnya juga masih ada mulut dinosaurus yang menunggu.

Keesokan harinya kami kembali ke dekanat untuk mendaftar ulang. Rangkaian psikotes, tes psikiatri tertulis (MMPI), wawancara psikiatri, sampai tes kesehatan (General Check Up) akan berlangsung maraton pada tanggal 23-26 Oktober ini. Kelihatannya bakal cukup melelahkan, mengingat psikotes biasanya berlangsung lama dan harus banyak berpikir (dengan sangat cepat). Saya mengibaratkan menghadapi tes-tes ini bagaikan bertarung melawan beberapa ekor singa.

Karena saya berzodiak Leo yang digambarkan serupa singa, rasanya tes-tes ini akan cukup ‘bersahabat’ dengan saya. Mudah-mudahan.. (‾ʃƪ‾) *Wish me luck!*

*Follow @raiyaroof via twiter

Beginner

Kemarin, tgl 12 Okt 2013, untuk pertamakalinya saya menyicipi atmosfer tes PPDS. Baru tes akademik aja sih. Jurusannya? Ehm.. Pediatri. Pesertanya 29 orang, minus 1 orang yang nggak datang ujian. Satu angkatan peserta dibagi dua kelas. Kelas kami bergabung dengan calon PPDS Gizi Klinik, Forensik, Anestesi, Bedah, Obsgin, Neurologi, 1 lagi lupa.. Krikkrik..

Tes akademik ini tertulis, dengan sistem pilihan ganda sebanyak 71 soal. Jumlahnya nggak lazim, tapi semoga saja 21 di antaranya adalah soal bonus. Hehe.. Sebagian besar adalah soal kasus, yang, tentu saja belum pernah saya jumpai di puskesmas pedalaman (tepok jidat), jadi agak sulit dilogika. Rata-rata ada sekitar 3-5 soal merupakan kasus-kasus yang serupa tapi tak sama. Gejalanya mirip, tapi penyakitnya beda. Pilihan a, b, c, d, e-nya untuk ke-3-5 soal itu sama persis, seperti diagnosis banding (differential diagnosis), hanya kasusnya saja yang berbeda-beda. Syukur-syukur kalau kasusnya khas dan pilihan jawabannya tersedia. Kalau yang membingungkan & menjebak?

Ada satu contoh soal kasus yang paling ajaib. Anak umur sekian tahun, datang dengan batuk dan stridor. Apa diagnosisnya? I really didn’t have any idea. Beberapa pilihan yang masih saya ingat adalah a.lupa, b.croup, c.lupa, d.epiglotis, e.batuk rejan, dua dari pilihan jawaban itu sudah saya pakai di soal kasus lain. Biasanya stridor ada di penyakit difteri, tapi nggak ada di pilihan-pilihan itu. Saya cuma bisa garuk-garuk kepala. Hehehe…

Nggak ada alasan soal kurang belajar atau kurang persiapan. Setiap tindakan pasti ada konsekuensinya. Tesnya sulit? Ya iya lah.. Tapi yang lain juga bilang gitu. Jadi masih belum pasti bakal tereliminasi di awal atau nggak. Berdoa aja supaya bisa maju ke tahap berikutnya, yaitu psikotes & tes kesehatan. Mudah-mudahan yang diterima lebih banyak daripada semester lalu yang cuma 6 orang, dan saya salah satunya. Aamiiiinn.. (‾ʃƪ‾)

*Follow @raiyaroof via twiter

Ngemis Student Loan

100 USDStudent loan alias pinjaman mahasiswa bukanlah hal baru di negara-negara maju. Pinjaman ini berupa kredit yang diberikan oleh negara kepada mahasiswa selama kuliah dari S1 hingga S3, guna membiayai uang kuliah, buku-buku, dan biaya hidup. Umumnya dana ini dicairkan setiap minggu selama batas waktu tertentu dan baru dibayar/dikembalikan setelah periode pinjaman berakhir atau pilihan lainnya adalah setelah yang bersangkutan mendapatkan pekerjaan & penghasilan yang memadai. Di sebagian besar negara, pinjaman ini tidak berbunga selama masa pencairan dana dan baru ditambahkan bunga dan pajak saat memasuki masa pengembalian utang. Tujuan student loan ini untuk menjamin setiap warga negara memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya tanpa khawatir kehabisan dana meski tidak mendapatkan beasiswa. Di samping itu, pembiayaan berdasarkan utang kepada negara yang masa pencairannya sangat dibatasi berefek memacu mahasiswa untuk lulus tepat waktu kemudian segera mencari pekerjaan yang layak agar dapat segera membayar utang biaya kuliahnya.

Student loan tidak bersifat cuma-cuma seperti beasiswa. Lembaga milik pemerintah yang mengelola student loan cukup selektif dalam menerima permohonan pinjaman dari para mahasiswa atau calon mahasiswa. Di samping itu mereka juga mengingatkan agar para pemohon mempertimbangkan student loan sebagai jalan terakhir, mengingat pinjaman ini nantinya akan berbunga dan dikenai pajak yang tinggi sehingga jika tidak pintar memilih metode pengembaliannya, dapat merugikan yang bersangkutan. Pembayaran utang student loan akan lebih ringan jika segera memulai masa pembayaran setelah masa pencairan berakhir, atau dengan kata lain memilih metode pembayaran sedini mungkin. Di beberapa negara, student loan disediakan oleh pemerintah maupun pihak swasta. Akan tetapi penetapan bunga yang tinggi oleh pihak swasta sering merugikan peminjam, sehingga kebanyakan tidak diijinkan lagi oleh pemerintah.

Di Indonesia saya masih belum pernah mendengar ada kredit untuk mahasiswa seperti student loan di negara barat. Padahal kredit ini sangat bermanfaat bagi lulusan SMA yang tidak dapat kuliah karena tidak ada biaya. Dengan adanya student loan maka kesempatan untuk meraih pendidikan tinggi akan terbuka lebar, sehingga sudah barang tentu kualitas sumber daya manusia di Indonesia akan jauh meningkat. Dengan pendidikan yang tinggi, para sarjana akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan atau membuka lapangan pekerjaan sendiri.

Salah satu bidang pendidikan yang sangat membutuhkan student loan adalah pendidikan kedokteran, terutama di jenjang post graduate yaitu saat ingin melanjutkan ke program pendidikan dokter spesialis (PPDS). Ada ribuan dokter umum di Indonesia yang hanya bisa bermimpi ingin menjadi dokter spesialis karena terkendala biaya. Meski pemerintah pusat dan daerah menyediakan beasiswa, jumlah penerimanya sangat terbatas, sehingga tidak dapat mengakomodir seluruh peminat PPDS. Saya sangat berharap pemerintah dapat mempertimbangkan student loan di Indonesia. Ketimbang uang triliunan Rupiah dipakai untuk mengimpor daging sapi, lebih baik dana tersebut digunakan untuk mengutangi mahasiswa yang benar-benar serius ingin kuliah setinggi mungkin. Biarlah orang Indonesia tidak makan daging, cuma makan tahu-tempe, yang penting generasi mudanya terdidik dan mampu bersaing baik di dalam maupun luar negeri.

(Curhatan dokter umum yang bermimpi ingin jadi ahli tapi bayar sekolahnya mahal)

*Sumber: Wikipedia

Follow @raiyaroof via twitter

A Swiss Army Knife Kind of Human

Seorang comic/komedian menulis bio twitternya: ‘A Swiss Army Knife kind of comedian’. Maksudnya ia adalah seorang komedian yang juga merangkap sebagai penulis buku komedi, penulis naskah film (juga komedi), menyutradarai film pendek komedi, dan berakting di film-film yang ia tulis. Dengan bakat yang ia miliki, dia mencoba melakukan semua bidang keterampilan yang berhubungan dengan komedi.

Saya langsung diam dan berpikir sejenak. Sebagai manusia, jika dianalogikan dengan sebilah pisau, bisakah saya berjenis pisau Swiss Army? Ada banyak alat dan fungsi yang disatukan dalam pisau ini. Walaupun bertipe paling sederhana (bodi paling tipis dengan peralatan paling sedikit), tapi tetap saja pisau Swiss Army yang serbaguna, bukan? Sesaat saya merasa sedikit ngeri jika mengingat-ingat lagi soal bentuk pisau Swiss Army – trauma!

Setelah itu mulai saya mendata apa yang yang bisa (atau mampu) saya lakukan? Selain berprofesi sebagai dokter, saya memang sedang mempelajari beberapa bidang nonformal lainnya, namun belum secara profesional. Jadi, belum saatnya berhenti belajar. Semua orang berhak dan bisa menjadi pisau Swiss Army. Saya yakin tidak ada yang mustahil jika kita percaya; yang penting mau berusaha, atau bahasa Arab-nya: “Man jadda wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.

Follow @raiyaroof via twitter

Belajar Produktif

ThinkingCap.png

Salah satu resolusi 2013 saya adalah ‘menjadi lebih produktif’. Produktif bukan hanya soal finansial, tetapi juga bagaimana caranya supaya bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Karena saya punya jiwa pemalas, maka perlu usaha ekstra untuk mewujudkan resolusi ini. Saya bertekad melakukan banyak hal kecil (karena belum mampu membuat sebuah terobosan besar) yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas diri dan kualitas hidup. Saya pun berusaha untuk lebih banyak membaca, khususnya bacaan-bacaan yang dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

Tahun ini sepertinya saya belum mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis. Maka saya mencoba mempelajari hal lain, yaitu menulis. Dengan hobi membaca sejak kecil dan (mungkin) saya dikaruniai sedikit bakat dalam kecerdasan linguistik, saya mencoba untuk belajar dengan lebih tekun untuk mengembangkannya. Saya terobsesi ingin membuat ‘karya’.

Selain membaca buku tentang tulis-menulis, saya juga googling via blekberi untuk menambah referensi. Belajar menulis pun dimulai dari hal yang paling kecil: membuat kicauan (twit) yang singkat, padat, jelas dan menarik dalam 140 karakter. Di twitter saya mengikuti (following) beberapa penerbit terkenal di Indonesia, beberapa penulis yang sudah menghasilkan karya-karya bermutu, travel-blogger, dan beberapa akun menarik lainnya.

Di minggu pertama ‘twiteran’ saya sudah mengikuti beberapa kuis via twiter. Sebagian besar syaratnya hanya membuat satu kicauan menarik sesuai dengan tema lomba. Setelah mencoba beberapa kali, saya memenangkan kuis di akun @TrinityTraveler yang berhadiah sampel produk mie instan dan 1 halaman komik berukuran besar berbingkai kaca, yang dibuat berdasarkan rangkaian cerita yang disusun oleh pemenang kuis, termasuk saya sendiri. Hadiahnya enggak banget, karena mie instannya pun nggak enak sama sekali. Hehe.

Setelah itu, saya tetap sering mengikuti kuis, namun kurang berhasil. Kebanyakan kuis yang berhadiah 1 buah novel diikuti oleh ratusan bahkan ribuan peserta yang fanatik dengan penulis novel tersebut dan mengirimkan jawababnya dengan membabi-buta. Kadang saya hanya memilih mengikuti kuis yang hanya memperbolehkan mengirimkan 1 twit dan ‘hanya’ harus beradu kreativitas dalam merangkai kata, namun tetap gagal. Mungkin faktor domisili saya yang sangat jauh dari ibukota negara juga berpengaruh, karena ongkos kirimnya saja hampir sama dengan nilai hadiahnya.

Berbulan-bulan kemudian saya mengikuti kuis yang diselenggarakan sebuah maskapai penerbangan Belanda. Akun versi Indonesia-nya masih baru dengan sedikir follower. Dalam rangka HUT-nya ke 88, mereka menyediakan 88 hadiah merchandise berupa tas sporty berukuran besar dan gantungan kunci dengan logo maskapai tersebut. Syaratnya hanya mengirimkan jawaban kreatif maksimal 3 kali. Saya akhirnya menang (lagi). Puji Tuhan.

Akhir 2012 saya mengikuti kuis untuk memperebutkan pre-order buku edisi khusus full colour dan cetakan terbatas, bertandatangan penulisnya. Saya memenangkannya. Tapi bodohnya, saya tidak memperhatikan jika judul kuisnya adalah ‘pre-order’! itu artinya saya harus membayar. Sial.

Di tahun 2013 saya jadi lebih aktif dalam kuis atau kompetisi menulis kecil-kecilan. Saya terobsesi ingin menang kuis berhadiah novel, apapun judulnya. Bulan Januari saya membuat resensi buku di blog dan terpilih dalam resensi pilihan di situs dan akun media sosial milik Gramedia Pustaka Utama, berhadiah 1 buku yang mereka terbitkan dengan judul pilihan saya. Informasinya juga saya dapatkan di twitter. Setelah itu saya juga memenangkan CD seminar motivasi Tung Desem Waringin, juga via twitter.

Di hari Valentine kemarin, saya memang tidak mendapatkan sebatang coklat pun, tapi saya berhasil memenangkan sebuah novel dari Bentang Pustaka. Entah novel apa, hitung-hitung buat menambah koleksi. Lumayaaan…

*pic’s taken from http://www.belairorthodontics.com/images/ThinkingCap.iclip.gif

Follow @raiyaroof via twitter

Mencela Karya Orang Lain

Sampai sekitar 3 tahun yang lalu saya beberapa kali membeli novel Indonesia atau terjemahan yang isinya ternyata sangat mengecewakan. Walaupun sampul dan sinopsis di bagian belakang sampulnya kelihatan bagus, tidak jarang isinya masih jauh dari harapan, padahal harganya lumayan mahal. Setelah itu saya putuskan untuk hanya membeli novel yang sudah banyak mendapar review bagus atau karya penulis terkenal yang tidak diragukan lagi kualitasnya, atau novel biasa-biasa saja tapi dijual murah/obral (yang penting asli). Untuk menambah koleksi, paling-paling saya hanya berharap bisa memenangkan kuis berhadiah novel.

Suatu hari saya mencela sebuah novel lokal best seller yang harganya mahal tapi sekitar 20 halaman pertamanya sangat buruk dan membosankan (saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya karena novel tersebut kemudian hilang tercecer). Kepada saya seorang teman berkomentar: “nggak semua orang bisa menulis!”

Saya terhenyak mendengar sentilannya.

Namun sesaat kemudian saya menemukan pembenaran untuk hinaan yang saya lontarkan. Di era modern ini semua orang berhak untuk memiliki pendapat. Sebagai konsumen yang membayar pake uang, wajar kalau kita mengemukakan apresiasi (positif atau negatif) kita terhadap produk yang kita beli. Kita tidak harus jadi ahli di bidang itu hanya untuk mendapatkan hak berbicara dan mengkritik, kecuali memang ingin jadi kritikus profesional. Jadi tidak ada salahnya kalau kita menyesal sudah membeli sebuah produk, mencelanya, dan pada akhirnya punya pilihan untuk akan atau tidak lagi membeli produk yang sama. Hehe..

Follow @raiyaroof via twiter

Tips Mengatur Cash-Flow Agar Tidak Boros

Cover buku

Kepuasan dan kebahagian dalam hidup bervariasi bagi setiap orang. Banyak orang setuju bahwa kebahagiaan tidak dapat dinilai dengan uang. Namun pada kenyataannya sebagian besar impian yang membahagiakan seseorang harus dibayar/dibeli dengan uang.

Kecuali sudah terlahir sebagai anak milyuner atau menikah dengan pengusaha kaya raya, bekerja keras dan berhemat (plus menabung) bisa jadi merupakan satu-satunya cara untuk mewujudkan segala keinginan kita. Akan tetapi banyak orang yang mengalami kesulitan dalam berhemat dan menabung, meskipun memiliki pendapatan lebih dari cukup. Kebiasaan hidup konsumtif merupakan momok terbesar.

Beberapa tahun yang lalu saya menemukan buku bagus dengan judul ‘Rahasia Menjadi Kaya Sejak Usia Muda’. Judulnya sangat menarik, begitu juga dengan tampilannya, dan dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga tidak membosankan. Buku ini sebenarnya berisi cara mengelola uang yang baik dan cara mengembangkan diri kita agar lebih mudah menghasilkan uang sejak usia muda.

Iwan Wahyudi, penulis buku ini membeberkan cara mengelola uang yang cocok untuk dipraktekkan sejak berstatus pelajar dan mahasiswa. Ia membuka mata kita tentang bagaimana kita mengalami ‘bocor halus’, yaitu pengeluaran-pengeluaran kecil yang sesungguhnya tidak perlu dan seharusnya dapat ditabung, contohnya uang yang dihabiskan untuk nongkrong di cafe atau menonton bioskop. Ia juga mengingatkan kita untuk memilih atau membedakan mana yang menjadi ‘kebutuhan’ (dasar) dan mana yang menjadi ‘keinginan’ kita. Sebaiknya kita tidak membeli sesuatu yang tidak benar-benar kita butuhkan. Pemborosan seperti itu membuat kita sulit untuk menabung. Kita diajarkan untuk berhemat, tetapi juga jangan menjadi pelit, harus ingat amal dan sedekah. Penting untuk mencatat berapa pemasukan dan pengeluaran kita sehari-hari, agar tahu berapa persen yang kita belanjakan, di mana pengeluaran yang dapat dipangkas, dan berapa persen yang dapat kita tabung.

Dalam buku ini Iwan Wahyudi juga menyarankan untuk menghindari utang (penggunaan credit card dan pembelian barang/rumah/tanah dengan cara kredit) karena sebenarnya kredit sangat merugikan mengingat adanya bunga dan mekanisme penghitungan cicilan yang rumit (baca: menjebak) yang pada akhirnya akan membuat kita membayar jauh lebih mahal dari jumlah uang yang seharusnya kita keluarkan. Kita juga diajarkan untuk kebal terhadap jebakan promosi (diskon) yang membuat kita tanpa sengaja membeli barang-barang yang tidak penting atau tidak sedang kita butuhkan.

Selain itu ia juga menyarankan untuk berinvestasi. Bukan hanya berupa materi, tetapi juga keterampilan dan hal-hal positif lainnya untuk meningkatkan kualitas diri kita yang bisa kita pergunakan di kemudian hari dan tentunya menguntungkan bagi kita sendiri. Dalam buku ini kita diajak untuk menanamkan pikiran positif di kepala kita, kemudian menggali dan mengembangkan potensi/bakat yang kita miliki untuk membuat kita menjadi lebih produktif dan akhirnya dapat meningkatkan penghasilan. Contohnya ikut kursus-kursus keterampilan yang sesuai dengan potensi dan pekerjaan/cita-cita kita. Terakhir pada bagian penutup ia menyarankan untuk membuang jauh-jauh pikiran untuk mencari ’jalan pintas’ dalam kehidupan kita sehari-hari. Buku ini sangat berguna bagi para generasi muda yang ingin sukses di masa depan. Buku yang membuka wawasan dan cukup aplikatif.

  • Judul : Rahasia Menjadi Kaya Sejak Usia Muda
  • Penulis : Iwan Wahyudi
  • Penerbit : PT.Elex Media Komputindo
  • Tanggal terbit : Juni 2008
  • Tebal : 160 hlm
  • ISBN : 979-273-000-1

*Follow @raiyaroof via twiter

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑