Traveling ke Jepang

Chureito Pagoda, Arakurayama Sengen Park, Fuji-Kawaguchiko

Jepang adalah salah satu negara dengan biaya hidup tertinggi di dunia, tapi tetap saja jadi destinasi wisata dambaan hampir semua orang. Pariwisata Jepang sangat didukung oleh promosi dan moda transportasi umum yang sangat mudah bagi turis. Oleh sebab itu tidak sulit untuk traveling ke Jepang tanpa menggunakan jasa tour.

Kota-kota di Jepang sangat nyaman dan aman, dengan cuaca yang sejuk di musim semi dan gugur, juga udara yang relatif bersih, serta taman cantik yang tersebar di seluruh sudut kota. Faktor keamanan dan keselamatan diutamakan dalam segala aspek. Para petugas selalu siaga dan waspada untuk memastikan bahwa aturan keselamatan dijalankan dengan benar. Contohnya petugas penjaga peron kereta. Dengan serius ia menggerakan tangan menunjuk tepi rel kereta dari ujung ke ujung dan menatap lurus searah dengan gerakan tangan disertai ucapan kata-kata yang memastikan tidak ada calon penumpang yang berdiri di depan garis kuning (terlalu dekat ke rel) dan membahayakan diri.

Kota-kota di Jepang sangat bersih dan teratur. Penduduknya taat dalam urusan membuang sampah. Tidak ada yang membuang sampah bahkan robekan kertas kecil sekalipun di sembarang tempat (kecuali yang tidak sengaja diterbangkan angin kencang). Sampah botol plastik dan kaleng minuman dipisah sedemikian rupa sejak dari rumah masing-masing. Kertas, plastik, kaca/beling, dan logam, semua didaur ulang. Meski tidak ada ancaman denda apapun seperti di Singapura, warga Jepang dengan sadar dan tertib menaati setiap aturan yang berlaku. Keteraturan membuat hidup lebih mudah dan nyaman. Setiap orang sadar, merugikan orang lain akan merugikan diri kita sendiri. Keluar dan masuk kereta dengan tertib, tidak ada yang berebut giliran antri, tidak ada yang menghalangi jalan di eskalator, tidak ada yang boleh nyelonong di jalan, tidak mengganggu kenyamanan orang lain (tidak merokok, tidak mengobrol dengan nyaring, dan tidak membunyikan ponsel di tempat umum). Setiap orang tidak boleh mengambil hak orang lain, termasuk hak untuk mendapatkan lingkungan yang bersih.

Sama seperti negara-negara Eropa dan negara maju lainnya, pejalan kaki akan selalu mendapatkan haknya selama menaati rambu lalu lintas. Mobil-mobil akan mengalah kepada pejalan kaki yang akan menyeberang, kecuali ada rambu yang melarang pejalan kaki untuk menyeberang jalan. Mayoritas penduduk Jepang menggunakan alat transportasi umum yang dikombinasikan dengan berjalan kaki atau bersepeda sejauh 1-2 km, karena itu disediakan fasilitas trotoar yang bersih, nyaman, bahkan bersahabat bagi difabel.

Soal makanan, kecuali sushi dan sashimi yang mentah, selera orang Jepang mirip dengan lidah orang Dayak: suka makanan asin dan berkuah. Makanan utamanya adalah nasi dengan ikan dan sayuran yang dioseng atau direbus, ditemani semangkuk kecil sup miso dan rumput laut. Mungkin karena pernah dijajah oleh Jepang, waktu kecil dulu saya sering dibuatkan nenek nasi kepal yang diisi suwiran ikan asin, mirip onigiri, hanya saja waktu itu di Kalimantan tidak ada nori (olahan rumput laut kering yang rasanya gurih). Minuman orang Jepang tidak jauh dari teh (ocha/matcha) dan sake (mirip tuak). Snack yang populer di Jepang selain mochi adalah semacam crackers yang terbuat dari tepung beras, dipanggang, lalu ditaburi garam. Rasanya mirip rengginang. Kadang diberi perisa seafood, tapi… Tetap saja rasanya mirip rengginang.

Tempat-tempat wisata andalan di Jepang hampir sama saja di setiap kota, yaitu kuil dan kastil. Dan saya tambahkan Starbucks sebagai pelengkap, karena di manapun pasti bertemu dengan gerai kopi ini. Bahkan Jepang punya list gerai Starbucks terindah di setiap penjuru negara ini. Jika berkunjung ke lebih dari dua kota atau bahkan sampai berkeliling Jepang, pasti akan bosan jika hanya mengunjungi dan berfoto di kuil dan kastil. Tapi memang ada beberapa spot wisata yang memiliki keunikan tersendiri. Entah karena ciri khas bangunannya, seperti Sensoji Temple di Tokyo atau Fushimi Inari di Kyoto; karena lokasinya indah dan pernah menjadi tempat syuting film-film box office seperti Arashiyama Bamboo Grooves dan Gion; pemandangan Gunung Fuji seperti di Fuji-Kawaguchiko; atau karena ada ikon makanan khasnya seperti kepiting di Dotonbori Osaka dan Ramen museum di Yokohama. Berbelanja atau hanya cuci mata pun bisa jadi alternatif.

Hampir semua kuil dan kastil di Jepang dihiasi taman dan ditanami pohon-pohon Sakura, indah sekali jika berkunjung pada awal musim semi. Setelah bunga-bunga Sakuranya rontok, barulah daun-daun hijaunya bertunas, sehingga pohon Sakuranya akan tampak seperti pepohonan biasa. Pada awal musim gugur, pepohonan di Jepang akan berganti warna-warni dan kembali memancarkan keindahannya sebelum dedaunannya layu dan rontok menjelang musim dingin. Itulah kenapa puncak musim wisata ke Jepang adalah saat musim Sakura (hanami) dan pada awal musim gugur (momiji).

Berapa biaya jalan-jalan ke Jepang?

Gambaran biaya wisata ke Jepang hampir sama dengan yang bisa kita lihat di promo-promo tur ke Jepang. Untuk backpacker, biasanya dapat menekan biaya di ongkos penginapan dan makan. Biaya menginap di hostel atau hotel kapsul umumnya ‘hanya’ sebesar Rp.350-500 ribu per orang per malam. Tapi harus rela sekamar dengan orang asing, dengan ranjang tingkat mirip asrama, dan kamar mandi di luar. Jika pergi 2-6 orang, bisa memilih kamar private atau dorm dengan 3-6 bed (tetap pakai kamar mandi umum di luar). Keuntungan di hostel adalah biasanya disediakan dapur umum dengan kompor + alat masak, microwave, gratis kopi+teh+gula+krimer, gratis sabun mandi + shampo, serta tersedia kulkas untuk menitipkan bahan makanan. Cocok untuk mereka yang sulit beradaptasi dengan makanan setempat atau ingin berhemat dengan membawa bahan makanan dari rumah (bisa juga membeli bahan masakan di minimarket terdekat). Makan di restoran berkisar antara Rp.100-500 ribu per orang. Biaya transportasi kereta dalam kota masih di kisaran Rp.100 ribu per hari, lebih mahal lagi jika naik taksi, sewa mobil, atau ada perjalanan ke luar kota dengan Shinkansen. Biaya masuk tempat wisata masih di kisaran kurang dari Rp.100 ribu, kecuali masuk ke theme park yang biasanya di kisaran satu jutaan. Jadi total biaya yang dibutuhkan untuk jalan-jalan ke Jepang bisa dihitung sendiri bukan?

Gloomy Kanazawa

NB: Saya heran dengan orang-orang yang termakan isu dan propaganda yang menyebutkan bahwa negara kita semakin susah, kehidupan masyarakat semakin sulit, Indonesia akan bubar tahun 2030. Sebegitu beratnyakah beban hidupmu? Atau kamu memang kurang piknik? Sampai begitu pesimisnya sehingga selalu berprasangka buruk? Kehidupan masyarakat di kampung saya di pedalaman Kalimantan saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan 20 tahun yang lalu. Jika saat ini banyak orang miskin, jaman dulu lebih banyak lagi orang yang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Buktinya, selama saya di Jepang, di setiap kota pasti bertemu dengan beberapa grup orang Indonesia. Bahkan di Chureito Pagoda, selama hampir 2 jam saya di sana, setidaknya 20% pengunjungnya adalah orang Indonesia. Sebagian di antaranya adalah backpacker, yang tentu saja bukan orang kaya.

Sungguh 10-20 tahun yang lalu tidak pernah terbayang bisa jalan-jalan ke luar negeri. Tapi sekarang semua orang boleh bermimpi dan berhak mewujudkannya.

Baca juga: traveler wanna be; impian ke luar negeri; tips menabung

Iklan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑