The Silkworm

Posted: Januari 25, 2015 in Books section


Resensi The Silkworm

Ulat Sutra


[Resensi] ‘Sekelumit perjalanan hidup seorang detektif pincang yang diselingi pembunuhan keji terhadap seorang novelis yang haus popularitas.’

Apa yang paling menarik dari sebuah cerita detektif? Ketegangan saat sang detektif berhadapan dengan penjahat? Kecerdasannya dalam menganalisis kasus dan menemukan bukti-bukti? Atau bagian penutup yang menampilkan bagaimana sang detektif mengungkapkan kebenaran dengan cara-cara yang tidak pernah terpikir oleh pembaca?

Kasus apa yang pembaca harapkan ditampilkan dalam sebuah kisah detektif? Pengungkapan kejahatan penipuan? Pencurian? Konflik pribadi sang klien? Perselisihan? Perselingkuhan? Atau pembunuhan? Para penggemar adrenalin tentu memilih yang terakhir, pembunuhan sadis yang pada umumnya berlatar dendam..

Setelah kehebohan kasus kematian selebriti Lula Landry yang fakta-fakta pembunuhannya berhasil diungkap oleh kegigihan seorang detektif partikelir berkaki buntung bernama Cormoran Strike (dalam The Cuckoo’s Calling), ia mendapat ganjaran dengan meningkatnya jumlah klien dan tentunya pendapatan yang masuk ke rekeningnya, hingga ia mampu membayar Robin, asistennya yang kini telah diangkat menjadi pegawai tetap. Meski kasus-kasus yang berdatangan cukup membosankan dan memaksanya untuk melakukan berbagai pengintaian di tengah musim dingin yang menggigit terhadap para kekasih yang dicurigai berselingkuh, setidaknya ia mendapat banyak pemasukan dari para pria dan wanita kaya yang bersedia membayar mahal. Ia membutuhkan uang.. dan pengalihan dari kehidupan pribadinya yang rumit dan getir.

Pada suatu hari, kepandaian, imajinasi, dan pengalaman Strike saat menjadi tentara di Unit Investigasi Khusus Angkatan Darat kembali diuji. Seorang wanita paruh baya, istri penulis mesum yang tidak terkenal datang ke kantor Strike untuk memohon bantuan. Suaminya telah pergi dari rumah selama 10 hari dan tidak ada kabar sedikit pun. Ia tidak mengharapkan kasih sayang dan perhatian dari sang suami yang tidak setia itu, namun ia dan putrinya yang menderita keterbelakangan mental tengah membutuhkan kehadiran dan sokongannya atas kehidupan mereka. Kasus ini tidak cukup potensial untuk mendatangkan uang bagi kantor detektif Strike, namun entah karena iba, penasaran, atau kata hatinya, Strike menerima kasus ini dan mengerjakannya dengan penuh kesungguhan.

Awalnya pencarian sang penulis terdengar cukup mudah, mengingat sempitnya lingkaran sosial sang penulis dan istrinya yang malang. Namun pencarian Strike hampir buntu meski sudah mengerahkan berbagai trik untuk meminta keterangan dari segelintir orang yang mengenal sang penulis. Setelah pencarian panjang yang dipersulit oleh cuaca ekstrim dan kondisi kakinya yang kembali memburuk, sang penulis akhirnya ditemukan oleh Strike sendiri, dalam keadaan tidak bernyawa, di lokasi yang paling sulit diduga oleh para kerabatnya sendiri. Tanda-tanda penganiayaan yang keji ditemukan di tubuh korban. Yang paling mengerikan, kondisi tubuh korban dan ‘panggung’ kematiannya ternyata ditata sama persis seperti akhir hidup tokoh utama yang ia tulis sendiri di manuskrip terakhirnya, Bombyx Mori, yang penuh kontroversi dan belum sempat diterbitkan. Tak ayal, para kolega dan kerabat yang digambarkan sang penulis dengan kejam dalam bukunya dan tentunya juga sudah pernah mengintip draft tersebut serta merta dimasukkan ke dalam daftar tersangka. Penghinaan fatal yang ia lakukan terhadap orang-orang terdekat dan para koleganya dari dunia penerbitan, serta rahasia-rahasia kelam yang terkuak dapat menjadi motif untuk pembunuhan itu.

Akan tetapi upaya Strike untuk mengungkap kasus pembunuhan itu terbentur hukum yang berlaku. Pihak kepolisian Metro – yang sinis terhadap Strike karena telah mempecundangi mereka dalam kasus Lula Landry – tidak mengizinkan Strike mengusik kasus ini. Strike dihadapkan pada pilihan: menyerahkan kasus tersebut sepenuhnya ke tangan polisi, atau mengeraskan hatinya untuk melanjutkan penyelidikannya. Sayangnya arah penyelidikan dan dugaan polisi tidak dapat diterima begitu saja oleh insting Strike yang cukup terlatih. Mau tidak mau ia, dengan dibantu oleh asistennya yang cantik, serta beberapa teman lamanya, melakukan upaya secara sembunyi-sembunyi guna menemukan pelaku yang sebenarnya dan menyelamatkan orang tak bersalah yang terjebak karena kebodohannya sendiri.

Strike, digambarkan dalam novel ini, secara perlahan tapi pasti, menyusun kerangka kasus ini dengan rapi. Ia menentukan para calon tersangka, mereka-reka motifnya, dan mengumpulkan bukti yang dapat memberatkan tersangka. Tanpa dukungan pihak yang berwenang dan akses yang cukup terhadap barang bukti, Strike meraba-raba kasus ini dengan sabar namun tetap awas terhadap setiap kemungkinan. Namun karena begitu banyaknya kebencian yang bertebaran dalam novel ini, pembaca akan sulit memilih mana tersangka yang memiliki motif paling besar untuk membunuh sang penulis. Keterangan demi keterangan yang dikumpulkan dari tiap tersangka tampaknya berdiri sendiri-sendiri dan tidak mengarah ke mana-mana. Hanya dengan keuletan detektif dan asistennya inilah, bukti-bukti baru ditambahkan dan terjalin benang merah yang bermuara kepada satu tersangka, pembunuh berdarah dingin yang tidak disangka-sangka (meski sebenarnya di awal Rowling sudah memberikan petunjuk secara tersirat)!

Perjalanan karir J.K. Rowling dalam dunia novel secara kebetulan mengiringi proses hidup orang-orang seusia saya. Dari masa remaja yang dihiasi oleh perjalanan hidup Harry Potter di Sekolah Sihir Hogwarts dari tahun pertama hingga ketujuh, karya-karya Rowling berlanjut beberapa tahun kemudian dengan hadirnya Cormoran Strike dalam serial detektif yang baru diterbitkan sebanyak 2 judul, yaitu The Cuckoo’s Calling dan The Silkworm. Para penggemar novel-novel bertema kriminal (misteri, detektif, hukum) pasti dapat menemukan perbedaan antara penuturan Sir Arthur Conan Doyle dalam Serial Sherlock Holmes dengan serial thriller karangan J.K. Rowling yang bercerita tentang kehidupan detektif partikelir, Cormoran Strike, dengan karakter dan latar belakang kehidupan yang sangat unik namun menyentuh. Meski sama-sama berlatar belakang Inggris, tampak perbedaan yang nyata antara Sherlock Holmes dan Cormoran Strike. Jelas bahwa J.K. Rowning membawa nuansa baru dalam fiksi detektif masa kini.

Pada masa hidup Sherlock Holmes di akhir abad ke-19, di mana teknologi masih cukup primitif, segala macam keahlian Holmes sangat diandalkan dalam memecahkan berbagai kasus kriminal. Ia dapat melenggang ke dalam suatu perkara, mengacak-acak barang bukti, hingga memberi perintah pada pihak kepolisian, dan pada akhirnya membongkar fakta-faktanya dengan sangat brilian. Tak jarang bukti-bukti yang ia dapat akhirnya diandalkan oleh para penegak hukum sebagai dasar penangkapan dan pemberian hukuman terhadap para penjahat.

Namun berbeda halnya dengan Cormoran Strike yang di era modern ini tidak memiliki yurisdiksi atas korban dan tempat kejadian perkara, ia tidak dapat meneliti barang bukti dengan mata kepalanya sendiri. Bahkan bukti-bukti yang didapatkan dengan susah payah atas inisiatifnya sendiri pun harus segera diserahkan kepada pihak yang berwenang dan hanya boleh diproses oleh institusi-institusi resmi pemerintah. Strike harus memutar otak agar dapat menggali fakta dari luar lingkaran kasus tersebut. Dengan metodenya sendiri Strike dapat meminta keterangan dari para saksi, mengorek informasi yang tidak disadari berguna dari orang-orang yang pernah bertemu korban – yang umumnya enggan membuka diri karena takut terlibat, mengumpulkan bukti-bukti tidak langsung, lalu mengonfirmasi alibi, motif, dan kesempatan untuk melakukan kejahatan yang dimiliki oleh pelaku. Dengan kepandaian dan pengalamannya, serta bantuan dari asistennya yang pernah mengecap pendidikan psikologi, Stike dapat merangkai fakta demi fakta dari keterangan-keterangan terpisah yang ia dapat dari berbagai sumber, ditambah sedikit barang bukti dan petunjuk yang tepat, hingga terbongkarlah kasus tersebut.

Sosok Cormoran Strike dengan wajah tidak menarik dan tubuh seperti raksasa yang berjalan tertatih-tatih mungkin tidak akan mudah membuat pembaca jatuh hati. Namun perjalanan hidupnya yang pilu, keuletan, dedikasi, dan ketulusan hatinya pelan-pelan menarik simpati dari para pembaca. Karakter pahlawan yang manusiawi, dengan banyak kekurangan namun memiliki moral yang baik, sangat dibutuhkan saat ini. Sayangnya tema pembunuhan yang terlalu sadis, dibumbui kisah mesum dan perselingkuhan yang kurang mendidik membuat novel ini kurang pantas untuk dibaca oleh pembaca yang belum dewasa, meski dengan bimbingan orang tua. Satu pengulangan kecil di BAB 1 (“Langkahnya yang tidak seimbang terlihat makin kentara…”, hal.10; dan “…ketimpangan Strike semakin tampak jelas seiring tiap langkah.”, hal.14) memberi kesan bahwa Rowling agak terburu-buru menyelesaikan novel ini. Di samping itu, deskripsi berlebihan (khas Rowling) mengenai latar dalam beberapa adegan dalam novel ini cukup membosankan. Selebihnya, sebuah kisah misteri, dunia detektif yang menegangkan, sedikit permainan psikologi, dan ditaburi drama sentimentil, serta penggunaan istilah-istilah medis berbahasa latin membuat The Silkworm sangat menarik dan menghibur. 4 of 5 stars dari saya!

· Judul : Ulat Sutra (The Silkworm)
· Pengarang : Roberth Galbraith (Nama alias dari J.K. Rowling)
· Alih Bahasa : Siska Yuanita
· Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
· Tahun terbit : 2014
· Tebal : 536 hlm
· ISBN : 978-602-03-0981-1

Follow @raiyaroof via twitter

Komentar ditutup.