The Cuckoo’s Calling

Posted: Maret 1, 2014 in Books section
image

Dekut burung kukuk

[Resensi] Saat kematian digambarkan begitu nyata, melaui kisikan-kisikan yang ia tinggalkan pada orang-orang terdekat semasa hidupnya.

Kisah ini bermula dari kematian mengenaskan seorang model tenama, Lula Landry yang tubuhnya terhempas jatuh ke atas jalanan Mayfair di kota London yang bersalju dari atas balkon lantai tertinggi apatemen 3 lantai yang ditinggalinya. Ada berjuta alasan yang membuat seluruh dunia mempercayai bahwa gadis dengan gangguan mental bipolar sekaligus pecandu narkoba itu telah mengakhiri hidupnya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Akan tetapi John Bristow, kakak angkat korban yang sangat penyayang dan protektif terhadap Lula yakin bahwa adiknya terlalu waras untuk mencoba bunuh diri di puncak karirnya yang gemilang. Ia mungkin dapat menerima kematian adiknya, namun tidak dapat mempercayai bahwa tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas peristiwa itu. Tidak ada apapun yang ia inginkan, kecuali keadilan.

Dengan sedikit asa, John menemui seorang kenalan lama, mantan polisi militer di cabang investigasi khusus yang pernah menerima penghargaan dan saat ini berkarir sebagai detektif swasta, Cormoran Strike. Strike, tanpa John ketahui (meski ia telah menyelidiki secara mendalam mengenai latar belakang kehidupan Strike), adalah pria usia pertengahan 30an yang gagal dalam percintaan, terlilit utang hingga hampir bangkrut, dan hampir tidak memiliki klien potensial yang dapat menjadi sumber pemasukan bagi keberlangsungan kantor detektifnya, bahkan untuk menunjang kehidupannya sehari-hari. John mengabaikan penampilan Strike yang tak kalah busuk dibanding kantor kumuhnya. Ia hanya berharap Strike menjadi satu-satunya orang di muka bumi (selain dirinya sendiri) yang percaya bahwa adiknya telah dibunuh dengan sengaja, dan bersedia melakukan sesuatu untuk menguak kebenaran. John beruntung Strike tertarik mencobanya. Dengan pengalamannya yang matang di Angkatan Darat, ketelitiannya, dan sedikit kerja keras, serta bantuan berharga dari sekretaris temporernya, Robin, Strike meyakini bahwa kebenaran (akan) berangsur-angsur muncul dari banyaknya detail yang (tampaknya) tidak saling terkait. Yang tidak – belum – ia miliki hanyalah bukti. (Hal.325)

Dengan pintar Galbraith alias JK Rowling menggiring pembaca kepada berbagai asumsi dalam teka-teki kematian Lula – yang biasa dipanggil Cuckoo (Burung Kukuk) oleh salah seorang sahabatnya. Bersama fakta-fakta yang terkuak samar satu persatu, jika benar kematian Lula adalah sebuah tindak kriminal, maka bisa saja kita berpikir bahwa setiap tokoh dalam novel ini (kecuali Strike sendiri tentunya), mungkin adalah pembunuhnya. Pembunuh berdarah dingin yang keji. Berbalut drama kehidupan selebritis yang glamor (kontras dengan sang tokoh utama), novel ini begitu menghanyutkan sampai pada akhirnya kita diberi sebuah penutup yang epik dan memuaskan. Wajar jika novel ini mendapat penilaian yang positif dari para kritikus Eropa.

Konon The Cuckoo’s Calling merupakan novel pertama dalam serial detektif yang akan ditulis oleh JK Rowling yang mengangkat tokoh utama bernama Cormoran Strike. Strike adalah seorang tokoh yang unik dengan sedikit kelebihan dan sedemikian banyak kekurangannya. Berasal dari sebuah keluarga yang berantakan, hidupnya yang tak kalah carut marut tetap saja menampilkan kebaikan dan sisi positif dari seseorang yang mampu bertahan, selamat dari masa muda yang mengerikan. Setidaknya nilai moral yang dimiliki Strike masih dapat dijadikan teladan bagi para pembaca, meski saya menyarankan sebaiknya novel ini hanya boleh dibaca oleh pembaca yang cukup umur.

Sebagai salah satu karya JK Rowling, secara naluriah kita pasti akan membandingkan novel ini dengan mahakaryanya yang fenomenal, Harry Potter. Seperti biasa novel JK Rowling sarat dengan deskripsi. Ia menggambarkan latar, suasana, hingga emosi tokoh-tokohnya dengan gablang, seterang kemampuan pembaca untuk berimajinasi. Sayangnya desripsinya yang berlebihan dalam usahanya memvisualisasikan tiap ruangan yang menjadi latar dalam novel ini malah memperlambat plotnya. Bagi pembaca novel-novel detektif, detil-detil semacam itu patut diabaikan. Yang terpenting adalah: Apa yang sebenarnya telah terjadi? Siapa pelakunya?

Adegan demi adegan dalam kisah ini ditata sedemikian rupa seperti kepingan puzzle yang unik dan rumit, namun saling mengisi dan melengkapi menjadi sebuah cerita yang utuh, begitu lugas bagai menyaksikan sendiri sebuah peristiwa yang menggetarkan sekaligus memilukan. Tak ayal pembaca pun larut membaca sebuah novel berukuran besar, setebal 520 halaman dengan font kecil ini tanpa mau melepaskannya dari pandangan sebelum berhasil menamatkannya.

Mengapa harus Strike yang dipilih John untuk menangani kasus ini? Apa hubungan antara masa lalu Strike dan kasus kematian Lula yang janggal? Siapa dalang dari tragedi ini dan apa motifnya? Dan apakah pada akhirnya keadilan benar-benar dapat ditegakkan? Sebaiknya temukan sendiri dan nikmati kesenangan saat membaca novel ini. Sayangnya karena detil-detil tak penting yang terkesan dipaksakan dalam visualisasi setting, saya tidak dapat memberikan nilai sempurna untuk novel ini; hanya 4,5 dari 5 bintang..

(Tak lupa saya memberikan apresiasi untuk penerjemah, Siska Yuanita serta tim editor yang telah menyusun kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia – yang saya yakini – tak kalah indah dibanding versi aslinya. Hanya saja saya menemukan 4-5 kesalahan pengetikan di sepanjang novel ini. Tapi tetap saja: Good job, anyway)

Judul : The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk)
Pengarang : Robert Galbraith a.k.a. JK Rowling
Alih Bahasa : Siska Yuanita
Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2014
Tebal : 520 hlm
ISBN : 978-602-03-0062-7

*Tulisan ini terpilih menjadi #ResensiPilihan Gramedia minggu pertama Maret 2014
*http://gramedia.tumblr.com/post/78525660138/resensi-pilihan-the-cuckoos-calling

Follow @raiyaroof via twiter

Komentar ditutup.