There’s Always A Chance

Posted: Desember 31, 2013 in Cerita Mini (fiksi)

Lomba nulis cerpen kilat di malam tahun baru
“Mbak, nggak turun sekarang?”

“Pintu keluar masih penuh, Pak. Lagian nanti juga bakalan lama nunggu bagasi.”

Suara percakapan itu beradu dengan desing mesin pesawat yang baru beberapa saat mendarat di tanah Kalimantan. Kedua pintu keluar baru terbuka semenit yang lalu, namun para penumpang yang tidak sabaran sudah berdesakan di antara dua deret kursi. Alfa duduk diam mendengarkan di tempatnya dengan sabuk pengaman yang belum ia sentuh. Ia mengamati ibu-ibu yang kerepotan membawa dua tas oleh-oleh di tangan dan anaknya yang masih kecil. Dalam hati Alfa terbesit keinginan untuk menolongnya, namun lorong itu terlalu penuh hingga ia pun tidak muat menjejalkan diri di tengah-tengah orang-orang yang sibuk dengan barang bawaannya masing-masing. Alfa mencuri pandang ke arah perempuan yang ia dengar suaranya tadi. Gadis itu masih bergeming di tempatnya. Ia tampak asik memasukkan sebuah buku dan pemutar musik ke dalam tasnya. Kursi-kursi di sekitarnya sudah kosong melompong. Alfa pun kembali berkonsentrasi dengan dirinya sendiri.

Ban berjalan itu kembali dikerumuni manusia. Alfa berdiri di belakang para penumpang lainnya namun dengan tinggi tubuhnya, ia masih dapat mengamati koper-koper yang berjalan satu-persatu. Itu dia! Ia bergegas menyeruak memungut kopernya.

“Aw!” Pekik seorang perempuan.

Gadis itu tadi. Sesaat Alfa mengamati wajahnya sebelum muncul perasaan bersalah. “Maaf.. Maaf…” Koper Alfa tidak sengaja menyenggol gadis itu.

Gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya mengangkat kedua bahunya.

“Mari..” Ucap Alfa berbasa-basi, lalu membawa kopernya ke loket taksi. Alfa menoleh kembali ke gadis berambut hitam sebahu itu. Rambutnya tebal dan lurus. Hidungnya cukup mancung, mengingatkan Alfa kepada seseorang, namun entah siapa. Ia merasa deja vu.

***
Pemakaman umum Kota Palangkaraya di hari terakhir tahun 2013 itu lumayan ramai oleh pengunjung dibanding hari biasanya. Namun tidak ada siapa-siapa di sekitar Alfa. “Ma, apa kabar Mama di sana. Enakkah tinggal di Surga?” Air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia menyapu-nyapukan bunga yang bertaburan di atas batu nisan putih di hadapannya dengan tangan. “Aku kangen banget sama Mama. Mungkin gara-gara itu aku sampai ngerasa kalo cewek cantik yang kutemuin kemarin ngingetin aku sama Mama.” Alfa terpekur menatap nama dan tahun yang terukir di batu nisan itu. “Papa juga kangen sama Mama. Dia titip salam. Dia minta maaf karena nggak bisa ninggalin kerjaannya di Jakarta.”

“Ma, aku udah jadi sarjana sekarang. Makasih atas doa-doa Mama. Semoga aku bisa dapat kerjaan bagus, jadi orang sukses, jadi kebanggaan Papa sama Mama, dan dapat cewek sebaik Mama. Selamat tahun baru, Ma.” Alfa memejamkan matanya kemudian memanjatkan sebaris doa. Hari sudah sore di pemakaman itu. Beberapa kelompok orang datang dan pergi setelah menziarahi makam keluarganya.

Alfa bersiap pulang setika segerombol muda-mudi memasuki area pemakaman. Mereka tampak menenteng keranjang-keranjang berisi bunga rampai. Mereka berpapasan. Sekilas Alfa mengenali salah satu di antaranya. Ya. Gadis cuek di pesawat itu.

***
Dari kejauhan tampak Bundaran Besar diterangi lampu neon di setiap sisinya, tempat warga kota Palangkaraya berkumpul merayakan malam tahun baru. Alfa memarkirkan Jeep-nya cukup jauh. Jalan-jalan besar yang mengarah ke pusat Kota Cantik itu sudah dipadati parkir liar dan orang-orang yang berjalan kaki mendekati panggung hiburan, tempat para artis ibukota tampil menghibur masyarakat..

30 meter di depan panggung, Alfa berpikir kalau ia melihat siluet gadis itu lagi. ia memicingkan matanya. Penglihatannya tidak salah. Alfa merangsek ke depan, menyeruak ke samping gadis itu. “Hai..” Alfa mengembangkan senyumnya. Kedua lesung pipinya terukir jelas meski dalam cahaya remang-remang.

“Oh, hai.” Gadis itu tampak terkejut. Suaranya hampir tenggelam dalam hingar bingar musik dari sound sistem.

Alfa mengeraskan suaranya. “Kita ketemu di bandara kemarin. Koper.” Gadis itu mencoba mengingat-ingat. “Di kompleks pemakaman.. Err.. Aku juga liat kamu tadi sore.” Alfa terdiam sambil menggaruk kepalanya. Wajahnya samar-samar memerah. Ia sadar gadis itu tidak memperhatikannya saat berpapasan di pemakaman beberapa jam yang lalu.

“Oh, iya.” Bibir tipis gadis itu melengkung. Ia kembali mengamati Raisa yang sedang menyanyikan lagu favoritnya di atas panggung.

“Alfa.” Ucap Alfa sambil sedikit merunduk mendekati telinga gadis itu. Ia dapat mencium aroma wangi dari rambut gadis itu.

Gadis itu menoleh, lalu membalas jabat tangan Alfa. “Mia.”

“Sama siapa?”

Mia menyenggol kedua teman perempuannya dan memperkenalkan mereka satu persatu: Aline dan Septi.

“Cewek semua?” Tanya Alfa lagi.

“Cowokku di Bandung, gak bisa datang. Tunangannya Aline bentar lagi nyusul, jemput dia. Tinggal aku sama Septi,” jawab Mia. “Kamu?”

Tiba-tiba Alfa kehilangan semangat untuk menjawab pertanyaan itu. Ia mengangkat alisnya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Aku bareng lima ribu orang yang haus akan hiburan di tempat ini.” Ia menjawab sekenanya.

“Hahaha..” Tanpa disangka Mia tergelak. “Kamu bisa aja.” Ia memamerkan deretan giginya yang rapi.

Alfa ikut tersenyum sambil terus melirik ke wajah Mia yang berdiri di sebelahnya. Ia mencoba berpura-pura fokus pada band yang sedang beratraksi di panggung, namun pikirannya ingin merekam wajah cantik itu lama-lama. Kehangatan yang ia rindukan sejak dulu.

“Mia. Boleh minta nomor telfonmu?” Alfa menyodorkan ponselnya.

Gadis itu menatapnya tajam, seakan Alfa tertangkap basah sedang berusaha menipunya. Alfa salah tingkah.

Gadis itu tertawa lagi. “No problemo,” jawabnya sambil mengetik-ngetik di layar ponsel Alfa.

Tanpa mereka sadari kerumunan massa berangsur-angsur semakin ramai, saling mendesak untuk lebih dekat ke panggung. Udara dipenuhi riuh rendah musik dan suara yang keluar dari mulut ribuan orang serta bunyi letupan kembang api yang silih berganti menghiasi langit malam di pusat kota Palangkaraya. Sang pembawa acara yang berwajah oriental mirip Daniel Mananta memimpin hitungan mundur menyambut pergantian tahun.

….
SEMBILAN…

Entah apa yang akan terjadi nanti..

TUJUH…

Aku bersyukur bisa berada di sini..

LIMA…

Berdiri di sampingmu..

TIGA…

Seakan sudah lama aku mengenalmu..

SATU…

TEEEEEETTTTTT…. Terompet-terompet serentak ditiupkan..

Alfa tersentak saat merasa seperti ada sebentuk kulit halus menyentuh telapak tangannya. Alfa mengamati tanpa Mia sadari. Wajah gadis itu kaku, seakan jiwanya tidak berada dalam tubuhnya. Alfa balas menggenggam tangan Mia. Langit semakin terang oleh jutaan percikan api berwarna-warni.

“Selamat tahun baru Palangkaraya. Semoga kalian semua yang ada di sini, mulai detik ini, punya semangat baru untuk menghadapi hari yang baru di tahun 2014. Jangan lagi menoleh pada kegagalan di masa lalu. Maafkan segala kekeliruan yang sudah kita sendiri lakukan dan juga tentu saja kesalahan orang lain. Semua harus bangkit lagi, berjuang kembali untuk meraih hidup yang lebih baik, lebih sukses, lebih bahagiaaa!!!” Sang pembawa acara berorasi di tengah panggung dan kembali disambut sorakan dan tiupan terompet.

“Yuk, Nathan. Eh, sori.” Mia melepaskan tangannya. “Alfa. Aku pulang duluan ya.”

Alfa tersenyum. “Yup. Hati-hati di jalan, yaa.” Ia melambaikan tangannya. Matanya yang teduh terus mengamati sampai Mia dan Septi menghilang di tengah keramaian.

***
Alfa berbaring terlentang di atas kasur. Rumah begitu sepi hingga yang terdengar hanya detik jam yang tak henti berputar. Ia tidak berminat untuk keluar menjelajahi kota, apalagi ikut ke acara kakek dan neneknya menghadiri undangan koleganya. Malam belum larut, kantuk pun masih jauh dari kelopak matanya. Ia merenung, selain ibunya, apa lagi yang membawanya jauh ke kota ini? Ia punya kehidupan dan masa depan di ibukota.

Rrrrrrr… Rrrrrrr…

Alfa meraih ponsel yang bergetar di atas meja di samping ranjangnya. “Halo..”

“Hai.” Suara yang terdengar familiar. Mia.

“Ada apa nih? Tumben nelfon?” Tanya Alfa riang.

Hening sesaat. “Sori. Aku ganggu ya?”

“Nggak. Aku lagi santai di rumah. Kamu? Apa kabar?”

“Nggak. Ehm. Baik. Ehm. Tiba-tiba aja pengen ngobrol,” jawab Mia ragu-ragu. “Ya udah, aku gak enak ganggu malam-malam gini.”

“Eh, bentar. Jangan ditutup dulu,” cegah Alfa. “Kamu baik-baik aja? Ada yang pengen kamu omongin?” Alfa duduk tegak di tepi tempat tidurnya.

“Nggak papa. Aku lagi kesel aja.”

“Malam minggu kok kesel?” Goda Alfa. “Oh iya, cowok kamu nggak di sini ya?” Ia terkekeh.

Terdengar hela napas di seberang telefon. “Nathan nggak bisa dihubungin dari sore. BBM juga nggak dibales.” Mia membicarakan kekasihnya. Gantian Alfa yang menghela nafas tanpa Mia sadari.

“Udah coba hubungi teman-temannya?” Alfa mencoba terdengar wajar, meski dalam hati ia geregetan setengah mati.

“Belum, sih. Dia udah ingkar janji, gak dateng tahun baruan di sini. Inget itu bikin aku bete aja,” keluh Mia.

Alfa ingin tertawa, tapi ia tahan kuat-kuat. Ia tidak mau Mia menganggapnya ‘cowok tidak punya perasaan’. “Jangan bete-bete dong. Kan sayang kalau cewek cantik wajahnya cemberut.” Hening. Alfa menampar pelan pipinya sendiri. Ia merasa sudah terlalu lancang.

Alfa mendehem. “Besok siang ada acara nggak?” Ia berharap Mia tidak menyimak kata-katanya tadi. Atau jika sudah terlanjur mendengarnya, mudah-mudahan Mia segera melupakannya.

“Nggak ada, sih. Kenapa?

“Aku mau ke Nyaru Menteng. Ikut yuk?”

“Tempat penangkaran orang utan itu?” Tanya Mia tanpa semangat. Nyaru Menteng berjarak hampir satu jam dari rumahnya. “Aku takut sama orang utan.”

“Nggak papa. Kita liat yang jinak-jinak aja. Lagian di sana banyak nanny-nya. Pasti aman, kok. Ketimbang kamu bete aja di rumah” bujuk Alfa.

“Oke,” jawab Mia setengah hati.

***
Mia melangkah takut-takut memasuki pintu gerbang tempat penangkaran orang utan itu. Ia menarik bagian belakang baju Alfa. Pak Khairul, salah satu petugas yang sudah lama bekerja di penangkaran itu menyambut mereka dengan ramah.

“Kapan datang, Mas Alfa?” Ia menyalami Alfa dan Mia bergantian. Sementara Mia menatap kedua pria di hadapannya bergantian dengan wajah melongo.

“Minggu lalu, Pak. Gimana kabar anak-anak?”

“Roy dan Rani sudah cukup dewasa dan dilepas ke hutan sekitar dua bulan yang lalu,” jawab Pak Khairul. Rupanya mereka membicarakan bayi orang utan yang diselamatkan dari kebakaran hutan beberapa tahun yang lalu. “Kalau Alfian..” Pak Khairul terpekur sejenak. “Dia nggak selamat. Luka bakarnya sebagian besar sembuh, tapi ada beberapa bagian yang terlampau parah dan terlanjur terinfeksi. Dia meninggal dua hari setelah Mas Alfa terakhir ke sini.” Ia mengajak Alfa dan Mia ke gudang makanan lalu mendahului mereka ke kandang luas yang didesain mirip hutan hujan asli di pedalaman Kalimantan. “Kita ketemu Susan dulu. Dia baru melahirkan enam bulan yang lalu. Sekarang tampaknya dia hamil lagi, jadi agak sensitif,”

Mia mengerenyitkan dahinya. “Nggak menggigit, kan, Pak?” Tanyanya was-was.

Pak Khairul dan Alfa terbahak mendengarnya. “Susan cukup jinak. Tapi, manusia yang sedang hamil aja kadang berubah jadi pemarah. Begitu juga dengan orang utan.

Di dalam kandang raksasa itu tampak beberapa orang petugas yang disebut nanny sedang asik dengan pekerjaannya masing-masing. Beberapa orang sedang memberi makan hewan-hewan mirip manusia itu, sebagian memberi susu dalam botol dot bayi kepada bayi-bayi orang utan yang digendongnya, sedangkan di kejauhan tampak beberapa petugas sedang melatih hewan berbulu itu untuk bertahan hidup di alam liar. Pak Khairul memperkenalkan Alfa dan Mia kepada beberapa nanny baru dan lama yang sedang asik bermain dengan orang utan-orang utan itu. Suara burung hutan bersahut-sahutan dengan lengkingan-lengkingan orang utan dan owa dari kejauhan.

“Kamu sejak lahir tinggal di Palangkaraya tapi belum pernah ke sini?” Tanya Alfa heran.

Mia menggeleng. Ia jongkok dan dari jauh mengamati Alfa yang sedang memegangi seekor bayi orang utan. Sementara Pak Khairul pamit untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain. Bau kotoran hewan-hewan penghuni kandang itu masih tercium samar walaupun kandang itu terlihat cukup bersih.

“Ayo, dekat-dekat sini. Aman, kok,” bujuk Alfa.

Mia kembali menggeleng. “Kamu aja, deh.”

Alfa memberi tatapan ‘ya sudah’ ke arah Mia lalu kembali asik menggoda bayi orang utan yang dipegangnya. Ia menyodorkan sebotol susu lalu menjauhkannya lagi saat bayi orang utan itu akan meminumnya. Alfa tertawa jahil.

“Aku nggak punya saudara. Bermain dengan bayi-bayi orang utan ini membuatku merasa seperti memiliki keluarga yang besar,” kata Alfa tiba-tiba. “Mamaku sudah lama wafat. Aku sudah gak ingat dengan pasti kapan. Mungkin saat aku masih TK atau kelas 1 SD. Aku bahkan sudah gak ingat lagi gimana persisnya wajah mamaku.” Alfa tercenung. “Aku pulang ke sini untuk jenguk mamaku. Sekalian jenguk kakek & nenekku yang cuma tinggal bertiga sama mbak Minah di rumah.”

Mia menatapnya dengan wajah yang sulit ditebak. Ia ingin mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Alfa namun akhirnya urung melakukannya. “Papa kamu di mana?”

“Papa tingal di Jakarta. Dia sibuk dengan pekerjaannya. Dia nggak menikah lagi, jadi dengan bekerja dia anggap bisa membantu mengalihkan pikirannya dari mama.” Alfa terdiam.

“Kamu sendiri? Ngapain kemarin dari Jakarta?” Alfa mengamati wajah Mia lekat-lekat.

Mia memanyunkan bibirnya. Lucu. “Harus dijawab, ya?” Ia menarik napas. “Aku habis dari Bandung, nemuin Nathan. Dia nggak bisa balik karena sibuk sama thesisnya.”

“Ooh..,” jawab Alfa datar. “Kalian udah baikan?”

Mia mengangkat kedua bahunya enggan. Alfa mulai akrab dengan kebiasaan Mia yang satu ini. Keduanya kembali tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

“Alfa. Bulu mata kamu lentik juga ya?” Celetuk Mia tiba-tiba. Ternyata diam-diam Ia mengagumi bulu mata hitam lentik dan alis tebal yang terukir rapi melengkapi rambut ikal milik Alfa.

“Jangan lama-lama ngeliatinnya. Ntar naksir. Gimana Nathan?” ledek Alfa.

“Udah, jangan ngomongin dia. Bikin bete kumat lagi,” rajuk Mia.

Alfa menatap Mia sambil membelai bayi orang utan di pangkuannya. Ia tertawa-tawa melihat wajah manyun Mia.

Pak Khairul kembali menemui mereka. “Mas Alfa, mau liat Alfian?”

Alfa mengangguk dengan wajah sumringah.

“Alfian mau dilepas di habitatnya minggu depan. Kalau mau, Mas Alfa boleh ikut.”

“Oh, ya?” Alfa tampak antusias. “Mia boleh ikut nggak, Pak?”

Pak Khairul menatap Mia sekilas lalu tersenyum. “Boleh-boleh saja kalau berani. Medannya nggak mudah.”

Lagi-lagi Mia mengangkat kedua bahunya. “Nggak janji, ya.” Ia balas menatap wajah Alfa yang memasang ekspresi penuh harap.

“Siiip..”

***
Alfa meregangkan tubuhnya sesaat, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengucek-ucek matanya. Ia menyunggingkan senyum meski matanya silau karena cahaya matahari pagi yang menerobos melewati sela gorden. Tadi malam ia kesulitan memejamkan mata. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan apa saja yang akan ia lakukan hari ini. Bersama Mia. Ia bergegas ke kamar mandi.

Alfa mengecek ponselnya. Ada pesan BBM yang belum ia baca. Mia.

‘Alfa, sori, ya. Aku nggak jadi ikut hari ini..’

Alfa langsung memencet nomor ponsel Mia.

“Halo?” Terdengar suara berisik di belakang Mia.

“Halo, Mia? Kamu di mana? Ada apa? Kok tiba-tiba nggak jadi?”

“Halo? Alfa? Gak kedengeran. Aku lagi di bandara nih.”

“Hah? Kamu mau ke mana? Kok mendadak?” Alfa setengah berteriak.

“Nathan tiba-tiba dateng. Aku jemput dia.” Mia menjawab hati-hati.

“Oh. Ya udah. Selamat bersenang-senang,” ucap Alfa kecewa. Ia mengakhiri telefonnya dengan hati bagai habis tertimpa kayu gelondongan. Remuk.

***
Danau Tahai ramai pengunjung di hari libur ini. Dengan perasaan tak karuan Alfa mengayuh perahu angsanya kuat-kuat hingga terengah-engah kehabisan tenaga di tengah danau. Mestinya ia menaiki perahu angsa ini bersama Mia. Danau ini hanya berjarak 10 menit dari Nyaru Menteng. Ia sudah berencana untuk mengajak Mia menghabiskan sore ini di danau ini setelah mengantarkan orang utan dari Nyaru Menteng ke habitatnya. Akhirnya ia sendiri juga batal ikut rombongan Pak Khairul dan pergi ke danau wisata ini sendirian. Ia memerhatikan bayangan dirinya memantul di atas air jernih yang berwarna coklat kehitaman di bawahnya. Pohon-pohon rindang dengan akar-akar terjalin tampak tumbuh tak beraturan mengelilingi danau membuat udara terasa sejuk.

Kenapa harus Mia? Dan kenapa harus ada Nathan? Alfa mengenang kembali pertemuannya dengan Mia saat di pesawat, saat di bandara. Genggaman tangan Mia di malam tahun baru. Sifat tertutup Mia tidak mampu menyembunyikan kehangatan pribadinya. Alfa selalu merasa nyaman saat berada dekat dengan gadis itu. Hidungnya selalu mengingatkan Alfa akan kelembutan ibunya saat ia masih kecil dulu, meski Mia tidak benar-benar mirip dengan ibunya. Mia, Aku udah kangen sama kamu.

Alfa menarik napas panjang kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Mia udah punya cowok. Mereka saling menyayangi. Aku nggak punya kesempatan. Dia milik Nathan. Aku nggak berhak suka sama dia. Alfa membatin. Memikirkannya aja aku nggak pantas.

BRUKK!! Wajah muram Alfa tersentak kaget saat menyadari perahu angsanya menabrak perahu lain. Bapak muda yang sedang mengayuh perahunya bersama seorang anak perempuan itu tidak berkata apa-apa. “Maaf, Pak. Maaf, nggak sengaja.” Perasaan Alfa semakin tak karuan.

Bapak muda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lain kali jangan melamun, Dek. Apalagi kamu sendirian. Kalau kemasukan, gimana?” Ia terkekeh.

“Kemasukan itu apa, Pi?” Celetuk gadis cilik di sebelah bapak itu. Perahu Angsa mereka perlahan menjauh.

Alfa termenung. Tadi ia sempat membaca kalimat yang tertulis di kaos yang dikenakan bapak itu. ‘Keep calm. There’s Always A Chance’. Jangan menyerah. Selalu ada harapan. Tiba-tiba Alfa merasa jiwanya bangkit. Aku akan cari cara agar Mia juga menyukaiku.

***
Nathan sudah kembali ke Bandung. Mia yang merajuk membuatnya terpaksa pulang ke Palangkaraya untuk meluruskan persoalan. Namun waktunya tidak banyak, karena ia juga harus menyiapkan penelitian bersama profesornya ke luar negeri. Mia berceloteh tanpa beban saat mereka sedang bersantai di tepi kolam pemancingan tak jauh dari Jembatan Kahayan. Bagi Alfa, keterbukaan Mia yang menganggapnya seperti seorang sahabat adalah sebuah kemajuan. Meski keberadaan Nathan masih menjadi duri dalam daging bagi Alfa. Kenapa harus ada Nathan?

Pekerjaan freelance Mia di sebuah perusahaan konstruksi tidak memberikan Alfa banyak kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan Mia. Karena meski berstatus karyawan lepas, banyaknya proyek yang sedang dikerjakan Mia dan rekan-rekannya membuat ia tak punya banyak waktu luang. Namun Alfa tak mau berputus asa. “There’s always a chance”, bisiknya pelan.

“Kamu ngomong apa barusan?” Mia menyadarkan Alfa dari lamunannya.

“Eh, nggak. Nggak ngomong apa-apa,” sangkalnya. “Ini ikan nilanya mau dibakar apa digoreng?”

***
”Kamu harus balik ke Jakarta besok,” ucap Ayah Alfa tegas.

“Tapi, Pa..” Alfa ragu melanjutkan kata-katanya. Ia tahu tak ada gunanya membantah perintah ayahnya, orang tua tunggal yang sudah membesarkannya sendirian. “Aku kan baru sebentar di Palangkaraya. Kakek dan nenek masih butuh aku di sini.” Ia mencoba mencari alasan.

“Papa butuh bantuan kamu di sini secepatnya. Kamu mau liat Papa jatuh sakit akibat lembur tiap hari karena nggak ada yang bantuin Papa di kantor?”

Alfa terenyuh. Tidak ada bantahan lagi. Indahnya matahari terbenam petang ini buyar hanya karena sebuah panggilan telefon dari Jakarta.

***
‘Aku harus ketemu sama kamu malam ini.’

Pesan itu sudah terkirim satu jam yang lalu.

“Ada apa, sih?” Mia menemui Nathan dengan piyama hijau toska lembut yang ditutupi sweater navi blue dan beberapa buah rol rambut di kepalanya.

Alfa terkekeh melihat penampilan Mia yang berbeda dari biasanya. Namun ia segera teringat akan tujuannya menemui Mia. “Yuk, ikut.” Alfa setengah memerintah.

“Ke mana?” Pertanyaan retorik yang hanya dijawab Alfa dengan membukakan pintu penumpang Jeep-nya dan menuntun Mia ke kursi tersebut.

“Kita nggak akan ke mall atau restoran.” Kata Alfa menenangkan Mia yang tampak cemas karena keluar rumah hanya dengan kostum tidurnya. Alfa mengajaknya berkeliling kota, menikmati jalanan lebar yang lengang dan lampu-lampu jalan yang cahayanya lebih banyak dibantu oleh taburan bintang dan bulan purnama yang bersinar terang.

“Aku harus balik ke Jakarta besok.” Pandangan Alfa lurus ke depan. Sementara Mia menatapnya dengan lidah tercekat.

“Aku harus bantuin Papa di kantor,” lanjut Alfa tanpa gairah.

Mia terdiam. Pikirannya berkecamuk, namun ia tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Ia takut mengucapkan sesuatu yang tidak tepat, yang mungkin bisa merusak suasana, atau malah melukai hati Alfa.

“Maaf, aku nggak bisa lama-lama tinggal di sini. Aku nggak pengen balik, tapi aku juga nggak tega sama Papa.”

Aku pengen tetap di sini, dekat sama kamu. Jagain kamu. Bikin kamu juga sayang sama aku.

“Iya. Papa kamu orang yang paling penting dalam hidup kamu. Kamu nggak boleh ngecewain dia.” Akhirnya Mia berhasil mengucapkan sesuatu yang terdengar bijak.

Buat aku, kamu dan papa sama-sama penting, jawab Alfa dalam hati.

“Hati-hati, ya,” lanjut Mia sebelum kembali tercenung.

“Kamu juga jaga diri baik-baik.” Sampai aku balik ke sini lagi, lanjut Alfa lagi dalam hati. Kemudian hanya terdengar deru mesin mobil di sepanjang sisa perjalanan.

***
Antrian konter chek in tiket sudah mengular saat Alfa tiba. Ia memeriksa jam tangannya. Ia tidak datang terlambat.

“Alfa!” Suara yang sudah mulai tertanam di otaknya sejak sebulan belakangan ini sayup-sayup terdengar. Ia berpaling dan menemukan Mia di kejauhan. Dengan setengah tak percaya ia keluar dari barisan antrian.

“Ngapain kamu di sini?” Ia memerhatikan kelopak mata Mia tampak sembab. Mungkin ia juga kurang tidur.

“Cuma mau nganterin kamu.”

“Cuma itu?” Alis hitam Alfa terangkat sementara kedua matanya mengerjap-ngerjap.

Mia tampak gelisah. “Jaga kesehatan ya. Jangan terlalu fokus kerja sampai lupa istirahat,” ucapnya sesaat kemudian.

Alfa tersenyum.

“Ya udah. Masuk sana,” usir Mia dengan halus seraya menyodorkan tangannya.

Alfa menggenggam tangan Mia dengan erat. Harusnya ini saat di mana aku memeluk dan membelai rambut kamu, Mia. Alfa mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri, mengusir khayalan dalam kepalanya.

‘There’s Always A Chance’.

“Sampai ketemu lagi, ya.” Wajah Alfa berseri-seri walaupun saat itu harus berpisah dengan belahan hatinya. “There’s always a chance,” bisiknya.

Follow @raiyaroof via twitter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s