Berjibaku di ‘Kandang Singa’

Posted: November 20, 2013 in Intermezzo

Ini adalah lanjutan dari kisah Beginner dan Keluar Dari Mulut Buaya, Ada Mulut Singa dan Dinosaurus Mengantri.

Ujian PPDS tahap II saya ibaratkan dengan ‘kandang singa’. Ada beberapa rintangan sulit yang harus saya hadapi di fase ini, mulai dari tes psikiatri berupa psikotes, MMPI, sampai wawancara dengan psikiater, hingga General Check Up. Para calon residen harus dipastikan sehat fisik & mentalnya. *lap keringat*

Kalau dalam tes akademik kemarin saya terpaksa memutar otak untuk memilih jawaban mana yang paling masuk akal (yang paling benar), mengandalkan logika (karena nggak menguasai teorinya) dengan cara menganalisis soal dan mencocokkannya dengan pilihan jawaban yang tersedia, kali ini yang dinilai adalah keadaan mental dan fisik saya apa adanya – nggak perlu mikir. Tapi tetap saja saya nggak tenang kalau tanpa persiapan. Apalagi melihat ada puluhan judul buku contoh soal-soal psikotes yang dipajang di toko buku bikin saya merasa terintimidasi. Beberapa teman menyemangati saya untuk belajar psikotes dengan sungguh-sungguh. Bahkan seorang teman ‘memaksa’ saya untuk menghapalkan kunci jawaban MMPI milik orang lain! Absurd..

Setahu saya, psikotes digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan dan kematangan mental seseorang sedangkan MMPI digunakan untuk menilai kepribadian, kewarasan, dan gangguan mental yang mungkin tersembunyi (CMIIW). Psikotes terdiri dari beberapa kelompok soal pilihan ganda yang harus dikerjakan dalam waktu terbatas. Sedangkan MMPI terdiri dari 567 soal (pernyataan) dengan pilihan jawaban ya(setuju)/tidak. Sejauh yang saya tahu juga, kepribadian & status mental seseorang sudah bawaan dalam dirinya, tidak bisa dimanipulasi atau ditutup-tutupi (jika seluruh pernyataan dipilih dengan jujur).

Maka tibalah fase ujian tahap II. Di hari pertama saya langsung mengikuti psikotes yang hanya berlangsung sekitar dua jam lebih. Jauh lebih singkat dan jumlah soal yang jauh lebih sedikit ketimbang 2 psikotes yang pernah saya ikuti saat masuk SMU dan kuliah. Setelah istirahat, kami langsung melanjutkannya dengan MMPI. Lancar. Kan sudah ‘belajar’.. Yang penting baca soal dengan teliti dan ingat-ingat pernyataan-pernyataan sebelumnya, karena ada beberapa pernyataan yang berulang, dengan bentuk kalimat yang berbeda (kalimat aktif atau pasif). Jika pilihan kita berubah-ubah, maka kita bisa dinilai tidak konsisten. Malu kan?

Menurut saya, rangkaian tes di fase ini cukup mudah, nggak perlu banyak mikir. Makanya saya menganalogikannya dengan kandang singa: ngeri, berbahaya, banyak (singanya). Tapi karena zodiak saya berlambang singa, harusnya ‘kandang singa’ ini menerima saya dengan tangan terbuka. Saya menggampangkannya.

My day was super perfect before that kamfret text message came. I have to retake MMPI test! *maybe bcoz I’m looks too nice as a human being* (twit saya sore itu)

Saya harus mengulang MMPI, sodara-sodara! Saya merasa sudah memilih jawaban-jawaban dengan ‘sempurna’, tapi ternyata hasil MMPI saya TIDAK VALID! Salahnya di mana???

Dengan rasa penasaran, saya baru browsing info tentang MMPI. Ternyata ada banyak faktor yang dapat membuat hasil MMPI kita tidak valid. Tidak menjawab lebih dari 30 soal, tidak konsisten, menyimpang (pura-pura sehat atau pura-pura sakit), berbohong/mendeskripsikan diri terlalu positif (yang tidak realistis), dan berusaha tampak terlalu baik (hati) atau sikap positif/normatif yang ekstrim (rukun dengan org lain, bebas dari masalah psikologi, terlalu yakin dengan kebaikan manusia) ternyata tidak dapat diterima dalam skoring MMPI.

Teman-teman ‘menuduh’ saya TIDAK KONSISTEN tapi saya yakin satu-satunya kesalahan saya adalah karena saya tampak ‘terlalu malaikat’ di tes MMPI. Yah, saat mengikuti MMPI itu mood saya sedang bagus-bagusnya. I was too positive! Saya memilih pernyataan yang menunjukkan bahwa saya orang baik, yang bahkan terlalu baik untuk manusia kebanyakan. (Silakan coba sendiri kalau pingin tahu bagaimana komponen tes MMPI).
I am in manic phase.. Soo positive.. And it’s seems unrealistic for MMPI scoring.. *invalid and be retaker* #bipolarmentaldisorder (twit saya lagi)

Besoknya saya pun mengulang MMPI dan berusaha untuk menjadi lebih tampak ‘manusiawi’. Semuanya lancar. Syukurlah.

Hari berikutnya, saya mengikuti wawancara dengan seorang psikiater yang mengkonfirmasi hasil psikotes & MMPI saya. Sialnya dalam wawancara, ibu ahli jiwa itu juga bertanya banyak hal soal kehidupan pribadi saya dan mengungkit-ungkit masalah-masalah yang sudah enggan untuk saya bahas lagi (malesbanget.com). Mood bahagia saya beberapa hari sebelumnya pun langsung down ke level depresi. Ah, payah!

Follow @raiyaroof via Twitter

Komentar
  1. did mengatakan:

    punya soal2 mmpi? butuh nih kaa hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s