‘Gracias’, How She Upheld Their Dignity

Posted: November 1, 2013 in Intermezzo

IMG02259-20131101-1551.jpgNggak ada yang salah soal kita nggak bisa bahasa Inggris. Cuma repot aja pas kita ingin jalan-jalan ke luar negeri, atau ‘menerima tamu’ bule, atau seperti dalam pendidikan, kita butuh literatur-literatur berbahasa Inggris. Kalau memang nggak butuh, nggak usah malu kalau nggak bisa bahasa Inggris. Karena memang bukan bahasa ibu/ayah kita. Pelajaran bahasa Indonesia aja belum tentu dapat nilai 100..

Suatu hari saya masuk ke Periplus di bandara Juanda. Saat saya sedang melihat-lihat buku tak jauh dari meja kasir, datang seorang wanita bule menemui petugas kasir. Dia mengucapkan beberapa patah kata: ‘Spanish..‘ ‘Bla-bla‘ (juga dalam bahasa Spanyol).. *si petugas memandanginya sambil berusaha memahaminya* ‘Do yo have Spanish?‘ Wanita itu berkata lagi dalam bahasa Inggris campur Spanyol (campur bahasa Tarzan).

‘Kamus?’ Tanya pria di balik meja kasir. Wanita bule itu menggeleng. Lalu seorang perempuan Indonesia tak jauh dari saya mencoba membantunya berkomunikasi. ‘Are you looking for Spanish book?‘ Wanita bule itu mengangguk cepat.

No, we don’t have‘, jawab sang kasir.

Wanita bule Spanyol itu paham. ‘Ok,’ katanya sambil menggumamkan beberapa patah kata dalam bahasa Inggris & Spanyol. ‘Gracias!,’ katanya lagi dengan nyaring sebelum keluar dari Periplus.

Saya terpana menatap wanita bule itu berlalu. Betapa ngototnya ia tetap menggunakan bahasa Spanyol, meski ia tahu jelas bahwa tidak ada yang memahami maksudnya. Saya yakin, setidak-tidaknya ia bisa sedikit bahasa Inggris dan mengucapkan kata-kata populer dalam bahasa Inggris seperti, ‘excuse me‘, ‘sorry‘, dan ‘thank you‘.

Tapi tidak. Ia ngotot mengucapkan ‘gracias‘. Ia tidak mau mengalah dengan menggunakan bahasa selain bahasa bangsanya.

Saya jadi teringat tulisan seorang travel blogger (sudah ngubek-ubek nyari link tulisan itu tapi nggak ketemu). Kenapa di Indonesia kita selalu berusaha ‘mengalah’ demi menunjukkan keramah-tamahan kepada tamu-tamu asing (turis) dengan menggunakan bahasa Inggris, hingga mengucapkan ‘terima kasih’ pun tetap dalam bahasa Inggris. Padahal, di negara-negara Eropa yang tidak berbahasa Inggris, meski melayani turis dengan menggunakan bahasa Inggris, mereka setidaknya tetap menunjukkan identitasnya dengan mengucapkan Merci, Gracias, Danke, dll. Kenapa pariwisata Indonesia tidak mempopulerkan ucapan TERIMA KASIH dan ‘memaksa’ turis-turis asing untuk belajar mengucapkan TERIMA KASIH? Setidaknya orang-orang asing dapat melihat bahwa kita juga bisa ‘ngotot’ menunjukkan identitas, budaya, dan harga diri sebagai bangsa yang besar, Bangsa Indonesia..

(Hal sepele, tapi patut dipertimbangkan, bukan?)

Follow @raiyaroof via Twitter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s