Aku dan Pasar Pagi

Posted: Juli 6, 2013 in Cerita Mini (fiksi)

Ratusan pasang kaki berlalu lalang beberapa jengkal dari tempatku berbaring, mengibaskan debu-debu kasat mata ke wajahku. Namun meski kuhirup udara kotor banyak-banyak, batuk pun aku tidak berdaya. Beberapa orang melemparkan uang receh ke sisi tubuhku. Sebagian memandangiku dengan iba, sebagian lagi bergidik menatapku tanpa mengisyaratkan rasa simpati. Dengan cepat ibuku mengumpulkan uang kertas dari atas tikarku dan membiarkan uang-uang koin tetap berserakan di sekelilingku.

Setiap hari minggu, saat langit masih gelap, ibuku menggendongku ke pasar pagi. Ia lalu membaringkanku di atas tikar dan menggelar dagangannya yang tidak seberapa di tikar lain. Batok kepalaku melebar, sedangkan tubuhku yang kurus hanya berupa sepotong badan dengan tungkai-tungkai lumpuh berbentuk tulang yang terbungkus kulit yang kering dan pucat. Aku tak ubahnya sesosok alien yang muncul dari perut bumi.

Kata orang, aku hidrosefalus. Jaringan otakku gagal berkembang sejak aku berumur satu tahun. Bukan salah ibuku jika aku cacat. Ia-lah yang selama ini merawatku: memberiku makan alakadarnya, mencuci pakaianku, dan menolongku saat buang air. Ibuku miskin. Ayahku sudah lama kabur entah ke mana. Entah akan jadi apa aku nanti. Yang aku tahu hanya membantu ibuku mengemis sebisaku untuk menafkahi kami berdua.

*Terinspirasi dari seorang anak hidrosefalus yang terbaring di atas tikar di Pasar Sunday Morning, UGM, Yogyakarta.*

Follow @raiyaroof via twiter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s