Aku dan Pasar Pagi

Ratusan pasang kaki berlalu lalang beberapa jengkal dari tempatku berbaring, mengibaskan debu-debu kasat mata ke wajahku. Namun meski kuhirup udara kotor banyak-banyak, batuk pun aku tidak berdaya. Beberapa orang melemparkan uang receh ke sisi tubuhku. Sebagian memandangiku dengan iba, sebagian lagi bergidik menatapku tanpa mengisyaratkan rasa simpati. Dengan cepat ibuku mengumpulkan uang kertas dari atas tikarku dan membiarkan uang-uang koin tetap berserakan di sekelilingku.

Setiap hari minggu, saat langit masih gelap, ibuku menggendongku ke pasar pagi. Ia lalu membaringkanku di atas tikar dan menggelar dagangannya yang tidak seberapa di tikar lain. Batok kepalaku melebar, sedangkan tubuhku yang kurus hanya berupa sepotong badan dengan tungkai-tungkai lumpuh berbentuk tulang yang terbungkus kulit yang kering dan pucat. Aku tak ubahnya sesosok alien yang muncul dari perut bumi.

Kata orang, aku hidrosefalus. Jaringan otakku gagal berkembang sejak aku berumur satu tahun. Bukan salah ibuku jika aku cacat. Ia-lah yang selama ini merawatku: memberiku makan alakadarnya, mencuci pakaianku, dan menolongku saat buang air. Ibuku miskin. Ayahku sudah lama kabur entah ke mana. Entah akan jadi apa aku nanti. Yang aku tahu hanya membantu ibuku mengemis sebisaku untuk menafkahi kami berdua.

*Terinspirasi dari seorang anak hidrosefalus yang terbaring di atas tikar di Pasar Sunday Morning, UGM, Yogyakarta.*

Follow @raiyaroof via twiter

Iklan

Blog di WordPress.com.

Atas ↑