Rezeki Tak Ke Mana

Posted: Maret 5, 2013 in Jalan-jalan

Baca prekuelnya di sini

Saat membeli tiket promo Air Asia ke KL, kami hanya membayar harga tiket Rp.888,- + Rp.99.000,- untuk biaya fuel surcharge, booking fee, PPN, dsb. Setahu kami, kami masih harus membeli tempat duduk (seat) selambatnya 4 jam sebelum keberangkatan, dan membeli bagasi 15 kg jika backpack kami tidak diizinkan masuk kabin pesawat. Maklum agar harga tiketnya terlihat murah, Air Asia hanya menawarkan harga basic fares tapi setelah itu kita harus membayar biaya-biaya tambahan lainnya. Mereka juga cukup ketat dalam aturan ukuran barang yang boleh dibawa masuk ke kabin. Kami nekat menunda membeli seat dan bagasi agar tidak rugi banyak jika pejalanan kami batal. Selain itu kami juga punya banyak waktu di Soeta, jadi masih bisa membeli langsung di counternya.

Pesawat saya dan Ifit dari Banjarmasin tiba di waktu yang hampir bersamaan dengan pesawat Debe dari Jambi pagi itu. Debe berinisiatif untuk melakukan online check in duluan untuk kami bertiga. Namun tidak muncul tagihan untuk seat yg harusnya kami beli. Seingat kami dalam promo tidak disebutkan bahwa harga tiket sudah termasuk seat. Agar lebih yakin, kami mendatangi counter penjualan tiket Air Asia dan mengecek+ngeprint tiket kami. Tetap tidak ada tagihan. Backpack kami pun memenuhi syarat untuk masuk kabin, jadi tidak perlu membayar bagasi.

Kami kemudian memutuskan untuk ke counter check in lebih awal, tapi tampak antrian sangat panjang di depan counter. Setelah celingak-celinguk sebentar, kami menemukan mesin auto-check-in yang semuanya kosong dan mencobanya. Cukup susah untuk men-scan barcode (yang kami terima via email) dari layar HP. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya kami mendapatkan boarding pass dengan nomor kursi Hot Seat! Itu artinya kami mendapatkan kursi istimewa yang lebih mahal dengan ruang yang lebih lega dan (yang tidak disangka) GRATIS!! Entah kami tidak memperhatikan bahwa tiket yang kami beli adalah promo All Fare In, atau we were just lucky.. Pure lucky! Penantian panjang kami di bandara terbayarkan..

Tiba di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Kuala Lumpur sudah larut malam waktu setempat. Kami membeli tiket bus menuju KL Cental seharga RM.9 dan menempuh perjalanan 1 jam lebih. Rencananya kami akan menumpang Monorail atau MRT sampai stasiun yang terdekat dengan hostel, tapi karena sudah hampir tengah malam dan tidak ada lagi kereta yang beroperasi, akhirnya kami memilih untuk naik taksi resmi, hanya RM.15 (karena ternyata tidak terlalu jauh dari lokasi hostel).

Lucunya, supir taksi yang kami tumpangi tidak hapal jalan!!! Dia mengaku baru sebulan jadi sopir taksi di KL, dan bertanya-tanya kepada kami lewat mana untuk sampai ke hostel, padahal kami bertiga baru pertama kali ke KL.. Saya langsung su’udzon, jangan-jangan dia bohong karena ada niat jahat. Untung ada GPS, walaupun 2 kali berputar-putar karena salah belok dan di daerah itu jalurnya 1 arah, akhirnya kami diantar sampai ke depan BackHome Hostel di Tun H.S. Lee street dengan selamat. Saat itu sudah pukul 00.15.

Kami mendapatkan dormitory room isi 8 bed. Kamar kami hanya terisi oleh 1 orang bule laki-laki yang ramah asal Afrika Selatan bernama Darryl. Ia hanya menginap 1 malam karena besoknya akan terbang ke Bali. Tempatnya bersih dan nyaman, dengan free teh, kopi instan, krimer, gula, air panas & dingin 24 jam.

Besok paginya Debe menghubungi Atuknya. Namun karena beliau sibuk (sepertinya beliau adalah politisi yang berkolega dengan Anwar Ibrahim), kami disuruh jalan-jalan dulu, sampai pukul 10 pagi. Kami lalu berjalan kaki ke daerah Central Market/Pasar Seni (yang belum buka karena kepagian), Petaling Street dan China Town. Kami pun melanjutkan perjalanan sampai ke stasiun monorel dan menumpang sampai ke stasiun Bukit Nanas, dekat Petronas Towers. Sayangnya karena hari Senin, kami tidak bisa naik ke menaranya. Akhirnya kami hanya duduk-duduk di depan dan foto-foto, sambil menunggu Atuk Ikhsan menjemput kami. Ternyata istri beliau ikut dan disopiri oleh putra mereka, Pak Cik Hakim. Pak Cik ini seorang manager di RHB bank tapi sedang cuti 1 hari.

Kami dibawa makan siang di sebuah restoran Arab yang porsinya besar. Memang sih, makannya keroyokan, tapi walaupun kami bertiga sudah kenyang makan Nasi Mandi + ayam & kambing, Nenek tetap memesan tambahan nasi & roti Arab! Kami terpaksa terus mengunyah walau perut sudah nggak muat lagi. Setelah makan, kami dibawa ke rumah Atuk karena mereka ingin sholat dulu, dan Atuk masih ada kesibukan lain. Setelah itu nenek & pak cik mengantar kami berkeliling Putra Jaya & Cyber Jaya. Nenek dengan antusias menjelaskan semua hal (dengan bangga) persis seperti tour guide, bedanya ini GRATIS! Entah antara pamer atau hanya sebuah keramahan terhadap tamu dari negeri tetangga. Sambil terkagum-kagum, kami memaki-maki dalam hati: ‘Negara kamfreto!’ Tapi setelah itu Ifit bilang kalo dia ingin pindah kewarganegaraan.. Cih!

Di KL orang-orang berbicara dengan bahasa Melayu campur Inggris, tapi tetap saja agak sulit dimengerti karena aksen mereka beda. Untungnya saya dulu sering nonton Upin-Ipin, jadi ‘boleh lah cakap Melayu sikit-sikit’ (pake logat si Ehsan).

Follow @raiyaroof via twitter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s