Visit Malay Peninsula (prekuel part 2)

Posted: Maret 3, 2013 in Jalan-jalan

Cek part 1 di sini

Waktu keberangkatan sudah semakin dekat. Keribetan mencari penginapan pun dimulai. Ifit sudah membeli buku jalan-jalan murah ke Malaysia dan ke Singapura. Debe pun sudah menginstal aplikasi booking hostel online di iPhone 5 terbarunya. Ya, demi si gadget mahal ini dia membuang limit kartu kreditnya, dan seminggu kemudian panik karena nggak bisa booking tiket pesawat, bus, kereta, hostel (pake -S-), dan tiket masuk wahana-wahana hiburan di Malaysia dan Singapura online karena limit kartu kreditnya habis! Hedewh….

Perbincangan di WhatsApp terus bergulir. Hampir setiap hari, dari minggu ke minggu, hal yang terus dibahas adalah booking hostel dan tetek bengek backpacking. Cukup repot karena rencananya kami akan menginap di 3 kota: Kuala Lumpur, Melaka, dan hedon di Singapura, dan belum ada yang berpengalaman pergi ke kota-kota ini. Dasar tiga orang random, di saat heboh-hebohnya membicarakan perbandingan hostel-hostel yang ditemukan via internet, terselip pembicaraan-pembicaraan soal konser JKT 48 & beli-beli merchandisenya, gosip artis gay, pasangan ‘Twilight’ Robsten, gadget, galau karena patah hati dan pengen bunuh diri di hari Valentine habis ngeliat orang pacaran di recent updates bbm (Ifit yang bekerja di RSJ langsung menawarkan antidepresan), memilih-milih dompet dan ransel baru, snack Fitbar yang ok buat ransum di jalan nanti, bahkan sampai kedua manusia labil itu ‘memaksa’ saya untuk mengikuti tes kepribadian di http://www.mypersonality.info. Dari situ terungkap bahwa kami bertiga masing-masing punya kepribadian ENTP, ENFP, dan INTJ (E=Entroverted, I=Introverted, T=Thinker, F=Feeling, P=Perceiving, J=Judging). Extrovert thinker si inspirator, extrovert feeler yang optimistik, dan introvert thinker yang selalu kebagian tugas untuk ‘mikir’ di saat kepepet. Kombinasi yang luar biasa! Sebagai orang yang paling introvert dari kami bertiga, saya merasa paling waras. Btw, saya juga bukan penggemar JKT 48. Peace.

Berhubung saya masih terperangkap di pedalaman sampai batas waktu yang belum ditentukan, dan belum merasa perlu banget, maka saya belum punya kartu kredit. Urusan booking dan pembelian apapun, saya serahkan kepada kedua teman extrovert saya. Parahnya, kartu kredit Ifit yang sudah apply berbulan-bulan yang lalu dan sudah di-ACC berminggu-minggu yang lalu belum juga sampai ke tangannya, dengan alasan belum selesai dicetak. Malah pin dan promo menginap gratis 3 malam di hotel berbintang (di Indonesia) yang datang duluan (tergiur mendengar kata GRATIS, Debe langsung browsing dan merencanakan jalan-jalan ke Lombok – helloowh, ke Semenanjung Melaka ini saja belum berangkat!).

Tapi kartu kredit bukan halangan, bisa pinjam milik teman. Browsing hostel pun terus berlanjut. Fyi, hoStel adalah penginapan murah yang biasanya diinapi para backpacker. Kalau di Indonesia mungkin bisa disebut losmen atau yang agak keren sedikit, guest house. Ada pilihan yang bagus dengan 1 kamar 1 tempat tidur dan kamar mandi di dalam, ada juga yang sejenis asrama (dorm room/dormitory), baik khusus perempuan maupun campur. Untuk kamar bersama ini ada yang mulai dari 4, 6, 8, 9, 12, 18, sampai 30 orang mixed per kamar! Bused! Setelah browsing berhari-hari, bolak-balik buka berbagai situs, chatting sepanjang hari, Debe dan Ifit menemukan beberapa pilihan bagus. Tapi ya, dasarnya random dan galau, sudah ketemu hostel yang reviewnya bagus dan lagi diskon, masih saja kedua orang extrovert ini bimbang dalam mengambil keputusan. Akhirnya pas ngecek hostel yang promo tadi, diskonnya sudah tidak ada dan kembali ke harga normal. Fiuh!

Ada lagi, di salah satu kota, kami sudah booking hostel untuk 1 malam. Untuk booking saja sudah kena charge booking fee 210 ribuan. Eeeh, ketemu hostel lain dengan kelebihan dan promo menarik, si Debe langsung tergiur. Setelah itu lanjut kedua sejawat saya ini sibuk menyebutkan puluhan hostel di berbagai lokasi di tiga kota yang akan kami tuju, dengan berbagai kelebihannya dan reviewnya yang bagus-bagus. Lagi-lagi mereka tergiur dan bingung sendiri, sampai akhirnya mereka menemukan bahwa sebagian besar hostel di Singapura tidak menerima pembayaran dengan kartu kredit, jadi bisa saja tidak booking dari sekarang atau nanti kami pikirkan lagi saat sudah berada di Malaysia. Saya yang hanya jadi penonton setia di multichat kami cuma bisa mengurut dada.

*Sepertinya saya terjebak di antara 2 fans fanatik JKT48* *melambaikan tangan*

Follow @raiyaroof via Twitter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s