Belajar Produktif

ThinkingCap.png

Salah satu resolusi 2013 saya adalah ‘menjadi lebih produktif’. Produktif bukan hanya soal finansial, tetapi juga bagaimana caranya supaya bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Karena saya punya jiwa pemalas, maka perlu usaha ekstra untuk mewujudkan resolusi ini. Saya bertekad melakukan banyak hal kecil (karena belum mampu membuat sebuah terobosan besar) yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas diri dan kualitas hidup. Saya pun berusaha untuk lebih banyak membaca, khususnya bacaan-bacaan yang dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.

Tahun ini sepertinya saya belum mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis. Maka saya mencoba mempelajari hal lain, yaitu menulis. Dengan hobi membaca sejak kecil dan (mungkin) saya dikaruniai sedikit bakat dalam kecerdasan linguistik, saya mencoba untuk belajar dengan lebih tekun untuk mengembangkannya. Saya terobsesi ingin membuat ‘karya’.

Selain membaca buku tentang tulis-menulis, saya juga googling via blekberi untuk menambah referensi. Belajar menulis pun dimulai dari hal yang paling kecil: membuat kicauan (twit) yang singkat, padat, jelas dan menarik dalam 140 karakter. Di twitter saya mengikuti (following) beberapa penerbit terkenal di Indonesia, beberapa penulis yang sudah menghasilkan karya-karya bermutu, travel-blogger, dan beberapa akun menarik lainnya.

Di minggu pertama ‘twiteran’ saya sudah mengikuti beberapa kuis via twiter. Sebagian besar syaratnya hanya membuat satu kicauan menarik sesuai dengan tema lomba. Setelah mencoba beberapa kali, saya memenangkan kuis di akun @TrinityTraveler yang berhadiah sampel produk mie instan dan 1 halaman komik berukuran besar berbingkai kaca, yang dibuat berdasarkan rangkaian cerita yang disusun oleh pemenang kuis, termasuk saya sendiri. Hadiahnya enggak banget, karena mie instannya pun nggak enak sama sekali. Hehe.

Setelah itu, saya tetap sering mengikuti kuis, namun kurang berhasil. Kebanyakan kuis yang berhadiah 1 buah novel diikuti oleh ratusan bahkan ribuan peserta yang fanatik dengan penulis novel tersebut dan mengirimkan jawababnya dengan membabi-buta. Kadang saya hanya memilih mengikuti kuis yang hanya memperbolehkan mengirimkan 1 twit dan ‘hanya’ harus beradu kreativitas dalam merangkai kata, namun tetap gagal. Mungkin faktor domisili saya yang sangat jauh dari ibukota negara juga berpengaruh, karena ongkos kirimnya saja hampir sama dengan nilai hadiahnya.

Berbulan-bulan kemudian saya mengikuti kuis yang diselenggarakan sebuah maskapai penerbangan Belanda. Akun versi Indonesia-nya masih baru dengan sedikir follower. Dalam rangka HUT-nya ke 88, mereka menyediakan 88 hadiah merchandise berupa tas sporty berukuran besar dan gantungan kunci dengan logo maskapai tersebut. Syaratnya hanya mengirimkan jawaban kreatif maksimal 3 kali. Saya akhirnya menang (lagi). Puji Tuhan.

Akhir 2012 saya mengikuti kuis untuk memperebutkan pre-order buku edisi khusus full colour dan cetakan terbatas, bertandatangan penulisnya. Saya memenangkannya. Tapi bodohnya, saya tidak memperhatikan jika judul kuisnya adalah ‘pre-order’! itu artinya saya harus membayar. Sial.

Di tahun 2013 saya jadi lebih aktif dalam kuis atau kompetisi menulis kecil-kecilan. Saya terobsesi ingin menang kuis berhadiah novel, apapun judulnya. Bulan Januari saya membuat resensi buku di blog dan terpilih dalam resensi pilihan di situs dan akun media sosial milik Gramedia Pustaka Utama, berhadiah 1 buku yang mereka terbitkan dengan judul pilihan saya. Informasinya juga saya dapatkan di twitter. Setelah itu saya juga memenangkan CD seminar motivasi Tung Desem Waringin, juga via twitter.

Di hari Valentine kemarin, saya memang tidak mendapatkan sebatang coklat pun, tapi saya berhasil memenangkan sebuah novel dari Bentang Pustaka. Entah novel apa, hitung-hitung buat menambah koleksi. Lumayaaan…

*pic’s taken from http://www.belairorthodontics.com/images/ThinkingCap.iclip.gif

Follow @raiyaroof via twitter

Iklan

Mencela Karya Orang Lain

Sampai sekitar 3 tahun yang lalu saya beberapa kali membeli novel Indonesia atau terjemahan yang isinya ternyata sangat mengecewakan. Walaupun sampul dan sinopsis di bagian belakang sampulnya kelihatan bagus, tidak jarang isinya masih jauh dari harapan, padahal harganya lumayan mahal. Setelah itu saya putuskan untuk hanya membeli novel yang sudah banyak mendapar review bagus atau karya penulis terkenal yang tidak diragukan lagi kualitasnya, atau novel biasa-biasa saja tapi dijual murah/obral (yang penting asli). Untuk menambah koleksi, paling-paling saya hanya berharap bisa memenangkan kuis berhadiah novel.

Suatu hari saya mencela sebuah novel lokal best seller yang harganya mahal tapi sekitar 20 halaman pertamanya sangat buruk dan membosankan (saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya karena novel tersebut kemudian hilang tercecer). Kepada saya seorang teman berkomentar: “nggak semua orang bisa menulis!”

Saya terhenyak mendengar sentilannya.

Namun sesaat kemudian saya menemukan pembenaran untuk hinaan yang saya lontarkan. Di era modern ini semua orang berhak untuk memiliki pendapat. Sebagai konsumen yang membayar pake uang, wajar kalau kita mengemukakan apresiasi (positif atau negatif) kita terhadap produk yang kita beli. Kita tidak harus jadi ahli di bidang itu hanya untuk mendapatkan hak berbicara dan mengkritik, kecuali memang ingin jadi kritikus profesional. Jadi tidak ada salahnya kalau kita menyesal sudah membeli sebuah produk, mencelanya, dan pada akhirnya punya pilihan untuk akan atau tidak lagi membeli produk yang sama. Hehe..

Follow @raiyaroof via twiter

Visit Malay Peninsula (prekuel part 1)

Cabin-Approved.jpg

Ini adalah bakal cerita pengalaman pertama saya ke luar negeri.

Demi impian keliling dunia, saya harus berhemat agar bisa pergi ke lebih banyak negara dengan tabungan yang ada. Itupun perginya ‘nyicil’ dan kalau bisa ke 2-5 negara dalam satu trip, karena tiket PP ke Indonesia mahal. Selain itu, saya juga harus ‘menyeberang’ ke Pulau Jawa dulu, jadi butuh biaya ekstra. Saya pun memutuskan bahwa jalan-jalan bergaya backpacker bisa ditiru, seperti travel blogger ternama Indonesia: Duo Ransel & Trinity. Saya sanggup hidup susah saat jalan-jalan, dengan bonus dapat banyak pengalaman unik. Untuk perjalanan pertama, saya memilih negara-negara terdekat yang tidak membutuhkan visa dan kalau bisa, minimal dua negara sekaligus agar mendapatkan stempel keimigrasian lebih banyak di paspor, (konon) untuk modal jika suatu hari nanti ingin mengajukan visa ke negara lain yang lebih sulit dimasuki oleh rakyat jelata dari negara dunia ketiga seperti Indonesia.

Bersama Ifit dan Debe, dua partner in crime dalam hal ‘jalan-jalan pelit’, saya akan menjejakkan kaki di Malaysia dan Singapura dengan biaya penerbangan sangat murah. Tiga bulan sebelum keberangkatan kami memburu tiket promo Air Asia yang sedang merayakan ulang-tahunnya; Jakarta (CKG) – Kuala Lumpur (KUL) hanya Rp.888,- (tentunya plus biaya tambahan – kami menyebutnya jebakan betmen). Total hanya Rp.117.888,- per orang, tanpa bagasi. Kami memanfaatkan fitur hemat penerbangan Air Asia, yaitu membeli beberapa layanan pilihan sesuai kebutuhan (tidak butuh bagasi maka tidak perlu membayar biaya bagasi). Agar bawaan kami bisa dibawa masuk kabin, kami harus mengikuti aturan ukuran tas maksimal yang diperbolehkan. Kami pun membeli ransel 45L agar ringkas dan ringan. Bawaan minimal dan tidak ada niat untuk beli suvenir dan oleh-oleh, dan pastinya tidak terima titipan. Tanpa bagasi terdaftar, kami bisa menghemat waktu karena tidak perlu mengantri di tempat pengambilan bagasi.

Sambil mengumpulkan informasi tempat wisata di Malaysia dan Singapura, saya mengusulkan bahwa kami harus mampir ke Penang, salah satu kota situs warisan dunia versi UNESCO. Kebetulan Debe menemukan tiket pesawat promo Kuala Lumpur – Penang hanya Rp.110.00,- per orang. Tanpa pikir panjang, kami pun membelinya. Ifit pun menambahkan bahwa kami juga harus mampir ke Melaka yang juga kota situs warisan dunia. Dari info yang dia dapat di internet, ada seorang pengelola hostel keturunan Al Banjari – tokoh ulama di Kalimantan Selatan ratusan tahun yang lalu – di Melaka. Mungkin kami akan mendapatkan kemudahan di sana karena kami semua pernah tinggal di Banjarmasin dan fasih berbahasa Banjar.

Namun ternyata eh ternyata, setelah mempelajari peta, kami baru menyadari bahwa Penang berada di luar jalur Kuala Lumpur – Singapura. Berlawanan arah! Padahal rencananya kami akan naik bus dari Malaysia ke Singapura. Bertiga kami ternyata bukan hanya partner in pelit tapi juga partner in dodol! Jika ingin ke Penang dan Melaka maka akan banyak buang waktu dan tenaga. Dengan alternatif lain pun, jika ingin tetap ke Penang kami harus mencari tiket murah Penang-Singapura – yang tidak berhasil kami dapatkan. Setelah perdebatan panjang, akhirnya kami putuskan untuk membatalkan trip ke Penang dan merelakan tiket Kuala Lumpur – Penang yang sudah terlanjur dibeli, hangus. Tiket bus Kuala Lumpur – Melaka dan Melaka – Singapura akan kami beli di sana.

Berhubung saya tinggal di pedalaman Kalteng, tidak memiliki akses internet kecuali blekberi dan juga tidak memiliki kartu kredit, urusan browsing dan beli tiket online saya serahkan ke Ifit di Banjarmasin dan Debe di Jambi (kolaborasi antarpulau-antarprovinsi). Urusan itinerary pun saya serahkan kepada mereka berdua. Saya hanya sesekali memberikan pendapat. Dengan terus memantau akun-akun maskapai penerbangan LCC (Low Cost Carrier) di twiter, saya dapat dengan cepat memberitahukan mereka berdua jika ada promo tiket pesawat lagi. Alhasil kami juga mendapatkan tiket promo Jetstar Airways untuk pulang dari Singapura ke Jakarta. Tidak semurah promo Air Asia, namun kami tidak berhasil menemukan harga lain di bawah 58 SGD. Sayangnya tiket PP Banjarmasin-Jakarta lumayan mahal. Ditambah airport tax di setiap bandara yang kami singgahi, total saya harus mengeluarkan uang 2 juta rupiah hanya untuk ongkos penerbangan. Fewh!

-bersambung-

Follow @raiyaroof via twiter

The Summons

The Summons[Resensi] ‘Seruan terakhir sang mantan hakim dan misteri yang ditinggalkannya pada putra sulungnya.’

Penggemar novel yang terlalu banyak membaca teen/chick-lit dan novel-novel roman suatu hari tentu akan merasa bosan dengan plot yang sudah dapat ditebak. Seperti kebanyakan novel/drama percintaan, ceritanya akan terdiri dari perkenalan tokoh & masalah, konflik pertama, solusi, klimaks (konflik kedua), solusi/penyelesaian, penutup. Jika demikian ada baiknya untuk mencoba genre lain seperti novel-novel karya John Grisham yang diterbitkan oleh Gramedia. John Grisham tidak menulis cerita misteri dan kriminal melainkan konflik-konflik yang terjadi dalam kehidupan orang-orang yang terlibat dengan dunia pengadilan, yaitu hakim, jaksa, pengacara, terdakwa, saksi, klien dari biro hokum, dan sejenisnya.

Dalam novel berjudul The Summons ini, tokoh yang diangkat adalah seorang profesor hukum, bernama Ray Atlee, putra seorang mantan hakim besar yang terkenal adil, tegas dan jujur. Ray dan adiknya Forrest memiliki hubungan yang buruk dengan ayah mereka yang sudah tua dan sekarat karena mengidap kanker, diabetes, dan berbagai penyakit komplikasi lainnya. Ibu mereka telah lama meninggal sejak mereka masih remaja.

Ray si pemberontak, memilih untuk menempuh pendidikan dan profesi yang disukainya, yaitu menjadi pengajar di sebuah sekolah hukum ternama. Ia menolak untuk mengikuti harapan ayahnya agar membuka praktek hukum bersama ayahnya di kampung halaman. Adiknya, Forrest lebih kacau lagi karena telah menjadi kriminal dan pecandu sejak masih remaja dan bolak-balik menjalani detoksifikasi dan rehabilitasi selama hampir 20 tahun. Keduanya sama-sama gagal dalam menjalani rumah tangga dan sama-sama memilih untuk hidup terpisah, jauh dari sang ayah.

Suatu hari, kedua Atlee bersaudara mendapatkan surat panggilan bergaya resmi, khas sang mantan hakim tua. Tampaknya ayah mereka sudah demikian sekarat dan bersiap untuk mengucapkan testamen terakhirnya dan menyerahkan surat wasiat. Tidak banyak peninggalan yang bisa diharapkan selain sebuah rumah tua dan tidak terawat peninggalan keluarga Atlee di atas tanah yang luas di sebuah daerah terpencil dan mungkin sedikit uang tabungan. Sebagian besar penghasilan dan uang pensiun sang mantan hakim telah dihambur-hamburkan untuk amal, sebagian lagi untuk biaya pengobatannya.

Ray tiba di rumah ayahnya terlebih dahulu dan menemukan sang ayah sudah berbaring terbujur kaku sendirian di atas sofa ruang baca. Di tengah keterkejutan dan penyesalannya karena telah datang terlambat, ia menemukan berkotak-kotak uang tunai senilai lebih dari 3 juta dolar, tersusun rapi dalam lemari di bawah rak buku ayahnya. Jumlah tersebut jauh melebihi penghasilan yang mampu didapatkan ayahnya selama bekerja seumur hidupnya. Tanpa sepengetahuan adiknya bahkan siapapun, ia menyembunyikan uang tersebut sambil mencari tahu dari mana datangnya uang sebanyak itu. Ia harus menyelidiki semuanya sambil merahasiakannya dari aparat berwajib dan petugas pajak (IRS) yang sudah pasti akan mengambil setengahnya sebagai pajak warisan.

Namun dalam perjalanan penyelidikannya, Ray Atlee berulang kali mendapat teror dari sosok misterius yang tampaknya tahu akan keberadaan uang tersebut. Bahkan si peneror tampaknya tahu ke mana pun tujuan pelarian dan letak persembunyiannya. Bagaimanakah Ray akhirnya dapat menguak misteri sumber uang tersebut? Siapakah sosok misterius yang mengincar uang jutaan dolar tersebut? Apa yang akhirnya Ray lakukan dengan uang tersebut? Petualangan Ray Atlee dalam menyelidiki dan menyembunyikan uang tersebut akan membawa kita kepada akhir yang sulit diduga dan cukup mengharukan.

The Summons cukup menarik, meski tidak menyajikan konflik dan klimaks yang ‘wah’. Namun bagusnya tidak ada deskripsi panjang lebar dengan penjelasan yang rumit dan kurang bermanfaat terhadap struktur cerita seperti beberapa novel Grisham lainnya. Kisah dalam novel ini mengalir natural dan berhasil membuat pembaca terlarut dalam penuturannya. 3.5 of 5 stars dari saya!

  • Judul : Panggilan (The Summons)
  • Pengarang : John Grisham
  • Alih Bahasa : Hidayat Saleh
  • Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun terbit : 2011 (cetakan kedua)
  • Tebal : 432 hlm
  • ISBN : 978-979-22-6188-2

Follow @raiyaroof via twiter

Tips Mengatur Cash-Flow Agar Tidak Boros

Cover buku

Kepuasan dan kebahagian dalam hidup bervariasi bagi setiap orang. Banyak orang setuju bahwa kebahagiaan tidak dapat dinilai dengan uang. Namun pada kenyataannya sebagian besar impian yang membahagiakan seseorang harus dibayar/dibeli dengan uang.

Kecuali sudah terlahir sebagai anak milyuner atau menikah dengan pengusaha kaya raya, bekerja keras dan berhemat (plus menabung) bisa jadi merupakan satu-satunya cara untuk mewujudkan segala keinginan kita. Akan tetapi banyak orang yang mengalami kesulitan dalam berhemat dan menabung, meskipun memiliki pendapatan lebih dari cukup. Kebiasaan hidup konsumtif merupakan momok terbesar.

Beberapa tahun yang lalu saya menemukan buku bagus dengan judul ‘Rahasia Menjadi Kaya Sejak Usia Muda’. Judulnya sangat menarik, begitu juga dengan tampilannya, dan dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga tidak membosankan. Buku ini sebenarnya berisi cara mengelola uang yang baik dan cara mengembangkan diri kita agar lebih mudah menghasilkan uang sejak usia muda.

Iwan Wahyudi, penulis buku ini membeberkan cara mengelola uang yang cocok untuk dipraktekkan sejak berstatus pelajar dan mahasiswa. Ia membuka mata kita tentang bagaimana kita mengalami ‘bocor halus’, yaitu pengeluaran-pengeluaran kecil yang sesungguhnya tidak perlu dan seharusnya dapat ditabung, contohnya uang yang dihabiskan untuk nongkrong di cafe atau menonton bioskop. Ia juga mengingatkan kita untuk memilih atau membedakan mana yang menjadi ‘kebutuhan’ (dasar) dan mana yang menjadi ‘keinginan’ kita. Sebaiknya kita tidak membeli sesuatu yang tidak benar-benar kita butuhkan. Pemborosan seperti itu membuat kita sulit untuk menabung. Kita diajarkan untuk berhemat, tetapi juga jangan menjadi pelit, harus ingat amal dan sedekah. Penting untuk mencatat berapa pemasukan dan pengeluaran kita sehari-hari, agar tahu berapa persen yang kita belanjakan, di mana pengeluaran yang dapat dipangkas, dan berapa persen yang dapat kita tabung.

Dalam buku ini Iwan Wahyudi juga menyarankan untuk menghindari utang (penggunaan credit card dan pembelian barang/rumah/tanah dengan cara kredit) karena sebenarnya kredit sangat merugikan mengingat adanya bunga dan mekanisme penghitungan cicilan yang rumit (baca: menjebak) yang pada akhirnya akan membuat kita membayar jauh lebih mahal dari jumlah uang yang seharusnya kita keluarkan. Kita juga diajarkan untuk kebal terhadap jebakan promosi (diskon) yang membuat kita tanpa sengaja membeli barang-barang yang tidak penting atau tidak sedang kita butuhkan.

Selain itu ia juga menyarankan untuk berinvestasi. Bukan hanya berupa materi, tetapi juga keterampilan dan hal-hal positif lainnya untuk meningkatkan kualitas diri kita yang bisa kita pergunakan di kemudian hari dan tentunya menguntungkan bagi kita sendiri. Dalam buku ini kita diajak untuk menanamkan pikiran positif di kepala kita, kemudian menggali dan mengembangkan potensi/bakat yang kita miliki untuk membuat kita menjadi lebih produktif dan akhirnya dapat meningkatkan penghasilan. Contohnya ikut kursus-kursus keterampilan yang sesuai dengan potensi dan pekerjaan/cita-cita kita. Terakhir pada bagian penutup ia menyarankan untuk membuang jauh-jauh pikiran untuk mencari ’jalan pintas’ dalam kehidupan kita sehari-hari. Buku ini sangat berguna bagi para generasi muda yang ingin sukses di masa depan. Buku yang membuka wawasan dan cukup aplikatif.

  • Judul : Rahasia Menjadi Kaya Sejak Usia Muda
  • Penulis : Iwan Wahyudi
  • Penerbit : PT.Elex Media Komputindo
  • Tanggal terbit : Juni 2008
  • Tebal : 160 hlm
  • ISBN : 979-273-000-1

*Follow @raiyaroof via twiter

Blog di WordPress.com.

Atas ↑