Victorinox Pembawa Petaka

Posted: Desember 29, 2012 in Intermezzo

Victorinox vs thumbSaat jalan-jalan ke Bandung awal tahun lalu, pisau lipat Victorinox atau dulu dikenal sebagai pisau lipat McGyver tercantum dalam list barang yang ingin saya beli. Selain pisau lipat, juga terdapat ransel dan boot hiking dalam list saya untuk persiapan jalan-jalan ala backpacker suatu hari nanti. Karena beberapa teman saya yang sedang menempuh pendidikan di Bandung sedang sibuk, tidak ada teman yang bisa menemani saya ke pasar Baru yang terkenal paling lengkap di Bandung. Agak malas juga keliling pasar sendirian, lebih baik nongkrong di toko buku. Baru pada suatu sore menjelang petang, salah seorang teman punya waktu untuk mengantarkan saya ke sebuah outlet ransel dan peralatan panjat tebing terkenal.

Karena tidak mendapatkan ransel sesuai model dan ukuran yang saya inginkan di toko tersebut, kami pun berangkat ke outlet lainnya. Sama seperti di outlet sebelumnya, saya tidak menemukan ransel yang saya inginkan. Sambil melihat-lihat seisi toko, saya tertarik dengan deretan pisau lipat Victorinox dengan berbagai ukuran dan model di dalam lemari kaca. Ada berbagai jenis pisau lipat Victorinox standar berwarna merah – warna favorit saya, namun ada juga jenis yang lebih feminin, berwarna bening dan berukuran lebih kecil, tentu dengan logo khas Swiss Army. Ketebalan pisau lipat Victorinox tergantung dengan banyaknya peralatan yang tersedia di dalamnya, dan tentu juga mempengaruhi harganya.

Setelah menunjukkan contoh pisau lipat standar (dengan ketebalan sedang) kepada kami, mas penjaga toko meninggalkan kami melihat-lihat sendirian. Saya pun dengan antusias membuka-buka sendiri salah satu pisau lipat ‘feminin’ di situ. Satu persatu peralatannya saya buka, dimulai dari pisau, gunting, hingga beberapa jenis obeng. Ketika saya akan mengeluarkan pembuka botol yang agak lengket dan sulit dibuka, tiba-tiba pisau lipatnya yang sangat tajam menutup dan menjepit ibu jari saya. Dalam sepersekian detik, saya kira ujung ibu jari kanan saya sudah terpotong habis. Ternyata hanya luka iris yang cukup dalam, memotong kulit, jaringan lunak, dan beberapa pembuluh darah di sisi luar ibu jari saya. Perlahan-lahan darah mengalir dari luka tersebut. Mas penjaga toko yang terkejut dengan keributan yang saya buat langsung mencarikan peralatan P3K.

“Kita harus ke IGD,” kata saya kepada teman saya sambil menekan luka ibu jari saya dengan tangan kiri. “Lukanya harus dijahit.” Saya cukup panik membayangkan hal terburuk pada ibu jari saya.

Namun demikian sebelum ke rumah sakit, saya tetap membeli dan membayar salah satu pisau lipat Victorinox dengan peralatan yang cukup lengkap yang sudah saya lihat sebelumnya – bukan yang melukai ibu jari saya. Apa mau dikata, pertama sudah niat ingin membeli, kedua untuk menutupi malu karena kecerobohan saya sendiri. Soal ransel dan boot? Lupakan saja.  Saat membayar, mas penjaga toko baru mengatakan bahwa mata pisau – yang tentunya paling berbahaya – harusnya dibuka/keluarkan paling akhir. Oalah, dari tadi sampeyan ke mana aja?

Sampai di IGD RS pendidikan di Bandung, saya disambut beberapa mahasiswa koas dan residen bedah. Teman yang menangantar saya membantu mengurus administrasi. Biasanya saya yang menangani pasien luka, sekarang saya yang jadi pasien. Seperti lazimnya RS pendidikan, mahasiswa koas bedah bertugas meng-anamnesis pasien baru. Lucunya saat itu adalah masa pergantian shift jaga koas; dan tiap orang koas ingin tahu luka saya seperti apa. Jadi saya harus membuka bebat tekan pada ibu jari saya dan menunjukkan luka yang terus mengeluarkan darah itu kepada dua shift koas bedah (satu shift ada 5-7 orang), residen bedah, dan akhirnya kepada residen orthopedi yang bertugas menangani luka saya.

Sebagian besar mahasiswa koas tersebut berwajah keturunan India dan melayu. Ternyata mereka warga negara Malaysia yang sedang menempuh pendidikan dokter di Bandung, kelas internasional. Sambil menunggu residen ortopedi menyiapkan diri, beberapa orang koas bedah menyiapkan peralatan dan memberi suntikan antitetanus. Wah, biasanya saya yang menyuntik pasien dengan sesuka hati, sekarang giliran saya yang merasakan sakitnya disuntik. Hehehe. Seorang teman datang menyusul ke IGD, dengan muka jahil ia memotret saya yang duduk di atas brankar, tidak lupa ia menertawakan kekonyolan saya petang itu. Sial!

Ibu jari saya mendapat dua jahitan – yang menurut saya kurang rapi karena rigi sidik jari saya akhirnya bergeser dan meninggalkan segaris bekas luka. Untuk biaya perawatan di IGD tersebut saya harus mengeluarkan uang lima ratus ribu rupiah, belum termasuk obat pereda nyeri dan antibiotik. Cukup mahal untuk dua jahitan yang menurut saya kurang rapi itu. Ah, sudahlah.

Yang jelas, sejak kejadian itu saya trauma jika memegang pisau lipat Victorinox. Pisau yang sudah saya beli hanya tersimpan rapi di lemari, tidak ada niat untuk menggunakannya.

*Follow @raiyaroof via twiter

Komentar
  1. joe mengatakan:

    boleh tau mas, outlet peralatan panjat tebing yg jual pisau victorinox alamatnya dimana? trims

  2. Andry Permana mengatakan:

    saya menjual Victorinox Original 100% Swiss, bisa WA : 087815101986 trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s