PTT Galau

Posted: Oktober 26, 2012 in Dokter PTT

fotoku_4Sudah berbulan-bulan blog ini tidak tersentuh. Entah kenapa, sejak 2,5 tahunan yang lalu semakin malas menulis, seiring dengan menurunnya minat membaca. Nonton TV dan mengutak-atik smartphone lebih menarik ketimbang membuka buku dan novel-novel bagus serta laptop. Padahal ada niat untuk menuliskan pengalaman-pengalaman kerja yang menarik seperti masa-masa koas dulu. Janji untuk bercerita tentang kehidupan di rumah sakit pun tidak bisa saya penuhi. Apa daya, impian untuk menulis cerita yang layak untuk dijadikan skenario serial macam House dan  Grey Anatomy versi Indonesia pun menguap dengan perlahan tapi pasti.

Sejak Oktober 2012 ini saya berganti status dari dokter freelance atawa dokter kontrak menjadi dokter PTT pusat di pedalaman Kalimantan. Perlu waktu satu setengah tahun untuk menyiapkan mental untuk keluar dari zona nyaman kehidupan kota yang sangat mudah. Memang sih kedua orang tua saya tinggal di salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah, kota kecil yang sepi, tapi setidaknya ada listrik full, air ledeng lancar, jaringan TV kabel, dan sambungan internet.

Hampir 2 tahun yang lalu, setelah melaksanakan prosesi sumpah dokter, menyelesaikan uji kompetensi, dan mendapatkan STR (Surat Tanda Registrasi dokter), beberapa orang teman bergegas mendaftarkan diri untuk mengikuti PTT pusat. Alasan terbesar memilih untuk PTT ketimbang jadi PNS sih karena punya pengalaman PTT memberi poin lebih jika ingin melanjutkan pendidikan untuk menjadi dokter spesialis; di samping itu gaji dokter PTT lumayan besar. Konsekuensinya, mereka harus siap untuk ditempatkan di daerah-daerah tertinggal yang minim fasilitas.

Banyak cerita yang sudah saya dengar dari teman-teman yang sudah pernah merasakan kehidupan PTT – tentang gimana lamanya perjalanan menuju lokasi penempatan dan sulitnya medan yang harus ditempuh, listrik yang kadang ada kadang cuma wacana, tidak ada sinyal ponsel, sulit mendapatkan air bersih, banyak nyamuk dan hewan liar yang berbahaya, masyarakat yang kurang terdidik dan sulit menerima informasi-informasi baru dari kota serta sulit diajak bekerjasama, ditambah kasus-kasus penyakit sulit dengan fasilitas yang super minim. Belum lagi kondisi geografis daerah yang menjadi lokasi penempatan dokter PTT, kalau bukan daerah pegunungan yang rawan konflik seperti di Papua, pasti daerah-daerah tepi laut seperti di Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara, atau pedalaman Kalimantan yang harus ditempuh melalui sungai.

Kalau mau PTT, jelas saya tidak akan memilih Papua. Sedangkan di tepi laut atau mengarungi sungai juga sulit buat saya yang tidak bisa berenang ini, karena notabene ada kewajiban pelayanan puskesmas keliling ke desa-desa dengan mengendarai speedboat/perahu motor/sampan. Ngeri sekali membayangkan jika saya harus hidup di desa yang serba kekurangan tanpa jaminan keselamatan, tetapi dituntut untuk memberi pelayanan maksimal. Namun apa mau dikata, akhirnya saya ikut PTT juga.

Sejak awal tahun 2012 saya mulai memutuskan untuk mencoba mendaftar PTT pusat yang dibuka tiap 3 bulan sekali. Saya memilih penempatan di wilayah kabupaten kampung halaman saya yang bisa dibilang berada tepat di tengah-tengah pulau Kalimantan, agar dekat dengan tempat tinggal orang tua saya. Di kesempatan pertama ternyata tidak ada formasi di kabupaten yang saya inginkan. Di kesempatan kedua, karena kegalauan hidup dan pikiran yang labil, saya melewatkan masa pendaftaran yang hanya dibuka selama 1 minggu. 1 hari setelah pendaftaran itu ditutup, saya baru tahu jika pendaftaran telah dibuka seminggu yang lalu. Aissssh…

Akhirnya di kesempatan ketiga untuk tahun 2012 saya berhasil mendaftar sebagai dokter PTT pusat, lulus seleksi, kemudian ditempatkan di kabupaten yang telah saya pilih. Sebagian besar kecamatan dan desa di kabupaten ini berada di tepi sungai Barito dan anak-anak sungai di sekitarnya. Medan yang sangat ingin saya hindari, namun tidak banyak pilihan lain. Saya ditempatkan di Puskesmas Mengkatip yang wilayah kerjanya meliputi 9 desa di pedalaman, menembus hutan melewati anak-anak sungai Barito. Dari kabupaten ke kecamatan ini harus ditempuh dengan menumpang speedboat selama 3 jam. Desa terjauh yang harus dikunjungi saat kegiatan puskesmas keliling juga harus ditempuh dengan mengendarai speedboat selama 2 jam. Jika mengendarai kapal motor, waktu tempuhnya bisa mencapai dua kali lipat.

Uhm.. masih banyak hal yang bisa diceritakan; akan saya lanjutkan secepatnya begitu kembali bertemu dengan akses internet. See you..

*Doakan saya bisa kembali dari penugasan dalam keadaan sehat wal’afiat, jauh dari marabahaya dan celaka. Aamiiiin*

*Follow @raiyaroof via twiter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s