Love’s Chemistry: Hormon-hormon yang Bikin Orang Cinta Mati

Posted: Maret 1, 2012 in 'Bout Love

Ternyata dalam proses mencintai ada faktor internal yang membuat kita tanpa sadar jatuh cinta semakin dalam terhadap pasangan. Faktor internal ini dipengaruhi oleh hormon-hormon yang dilepaskan tubuh, entah karena distimulasi oleh emosi atau justru hormon-hormon itu sendiri yang mempengaruhi emosi manusia.

Ilmu ini bukan saya pelajari dari artikel atau jurnal-jurnal ilmiah kedokteran, tetapi dari sebuah drama Korea berjudul My Lovely Sam Soon (My Name is Kim Sam Soon). Di drama tersebut seorang tokohnya yang berprofesi sebagai mahasiswa kedokteran di Amerika menjelaskan tahap-tahap hormonal saat orang jatuh cinta – kepada kekasihnya. Saya sendiri cuma geleng-geleng kepala, karena saya tidak tahu sebanyak itu; mungkin harus bertanya dulu ke internis konsulen endokrinologi. Setelah browsing sedikit – sekali lagi saya akui karena otak saya membeku setelah 1,5 tahun jarang membaca artikel-artikel ilmiah berbahasa Inggris, saya menemukan beberapa penjelasan tambahan dari blog dan artikel berita online. Berikut ini uraiannya.

Saat sepasang laki-laki dan perempuan saling mengenal dan tertarik satu sama lain, tubuh masing-masing akan melepaskan hormon Testosteron dan Estrogen. Kedua hormon ini membuat si laki-laki menjadi lebih maskulin dan si perempuan menjadi lebih feminin. Estrogen menyebabkan kelembutan khususnya pada perempuan, sedangkan testosteron bertanggung jawab atas semangat dan libido. Efek kedua hormon ini biasanya jarang lebih dari beberapa minggu atau bulan.

Selanjutnya keduanya mulai merasa cocok dan saling menginginkan, muncul hasrat dan perasaan jatuh cinta. Hormon yang diproduksi terutama adalah Dopamin dan Serotonin. Selain itu ada juga Norepinefrin dan Feromons, bahkan juga Adrenalin. Kelima hormon ini menimbulkan efek yang mirip dengan amfetamin, yaitu menstimulasi pusat rasa bahagia di otak dan mengakibatkan efek samping seperti peningkatan frekuensi denyut jantung, kehilangan nafsu makan dan tidur, serta meningkatkan perasaan antusias dan gembira. Ada penelitian yang menyebutkan tahap ini dapat berlangsung selama 1,5-3 tahun.

Serotonin atau hormon bahagia adalah zat kimia paling penting saat seseorang jatuh cinta. Serotonin mendorong seseorang untuk membangun hubungan cinta yang mendalam. Hormon inilah yang membutakan mata saat jatuh cinta, membuat seseorang menjadi ‘tergila-gila’ dan perilakunya ini sulit dijelaskan dengan akal sehat. Serotonin membawa mood positif, sehingga kadar serotonin yang rendah dapat membuat seseorang menjadi depresi dan emosional.

Dopamin bertanggung jawab untuk reaksi emosi dan mental. Dopamin yang dirilis otak saat seseorang jatuh cinta membuat dirinya menjadi lebih berenergi dan fokus, juga penuh rasa ingin tahu, optimis, dan penuh motivasi. Hal ini berdampak pada keseluruhan gerak tubuh. Tersenyum lebih sering, berdiri lebih tegak dan suara yang lebih tegas, semua ini membuat dirinya menjadi lebih menarik. Dopamin memunculkan rasa bahagia yang berhubungan dengan perasaan antisipasi dan keinginan, juga meningkatkan libido. Efek buruknya, dopamin menimbulkan masalah sulit konsentrasi karena terlalu fokus obsesif terhadap pasangan.

Dopamin, Norepinefrin, dan juga Kortisol yang dilepaskan tubuh saat jatuh cinta mengalihkan aliran darah dari usus sehinga mengakibatkan perasaan mual pada perut, kadang hormon-hormon ini juga menyebabkan rasa sakit kepala.

Kombinasi adrenalin dan norepinefrin mempunyai efek yang paling dapat dirasakan oleh tubuh. Kegelisahan, jantung berdegup kencang atau berdebar-debar terjadi karena tubuh memompa adrenalin. Sirkulasi darah yang meningkat dan karena cenderung menahan napas membuat pipi terlihat kemerahan. Saat jatuh cinta, mata juga akan terlihat lebih besar dan berbinar-binar. Hal ini karena asupan energi yang maksimal dan membuat seseorang yang sedang jatuh cinta tetap terlihat ceria meskipun merasa lelah.

Tahap selanjutnya adalah ketika pasangan tersebut mulai memikirkan sebuah hubungan jangka panjang dan komitmen, seperti menikah dan memiliki anak. Hormon yang paling berpengaruh adalah Oksitosin dan Vasopresin. Oksitosin dilepaskan tidak hanya pada saat melakukan hubungan seksual, tetapi juga pada saat seorang ibu menyusui bayinya. Oksitosinlah yang membangun cinta sejati dan menimbulkan rasa keterikatan yang kuat. Tindakan non-seksual seperti memeluk, menyentuh, dan membelai juga meningkatkan produksi oksitosin yang pada akhirnya akan menumbuhkan rasa cinta, bahagia, tenang, dan nyaman. Sedangkan vasopresin adalah hormon pengendali ikatan jangka panjang pada mamalia.

Jadi, percaya atau tidak, jatuh cinta bukanlah suatu kebetulan. Tubuh memilih sendiri saat bersama siapa ia akan merilis hormon-hormon cinta tersebut. Akal dan pikiran hanya mampu dan berhak memilih jauh sebelum hormon-hormon ini membanjiri aliran darah.

“Bertemu adalah kesempatan.. Mencintai adalah pilihan.. Ketika bertemu seseorang yang membuat kita tertarik, itu bukan pilihan, itu kesempatan.” -Olla Ramlan-

*pic’s taken from http://www.ideachampions.com/heart/archives/quotes/index.shtml
*Follow @raiyaroof via twiter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s