​Hasil Survei Harga Kaos Jogja

Posted: Agustus 14, 2016 in Jalan-jalan

Yogyakarta atau yang biasa kita sebut Jogja saat ini adalah salah satu destinasi wisata populer di Indonesia. Selain menjual wisata budaya, keraton, candi, alam, dan kuliner, Jogja juga menjadi sentra cinderamata berupa berbagai jenis kerajinan tangan, serta yang paling laris berupa batik dan kaos. 

Saya sedang berlibur ke Jogja bersama seorang teman kerja yang berstatus ibu-ibu doyan belanja. Hasil dari keluar masuk toko batik dan kaos serta berkelana di jalan Malioboro, saya dapat menyimpulkan bahwa harga kain batik (bahan) maupun pakaian batik jadi bervariasi, ada rupa ada harga. Beda merk beda kualitas kain, warna, corak, maupun jahitan. Lebih baik dibanding-bandingkan dengan toko sebelah sebelum memilih. 

Lain halnya dengan kaos. Kaos khas Jogja yang populer pertama kali adalah merk Dagadu, dengan sablonan bertuliskan kata-kata maupun kalimat unik dan lucu. Setelah itu bermunculanlah merk-merk lain dengan kualitas dan harga yang bervariasi. Jika untuk kualitas kaos kita beri penilaian dari A sampai E, berikut ini adalah variasi harga yang kami dapatkan untuk dijadikan standa​r harga kaos dewasa dan di mana tempat membeli yang murah. Kaos termahal dengan kualitas bagus (jahitan rapi dan bahan halus) saya asumsikan bernilai A, seharga sekitar 50-60 ribu bisa ditemukan di sekitar jalan Malioboro maupun sentra kaos merk terkenal (yang katanya asli). Mahal karena merk atau karena orisinalitas. Sedangkan kaos termurah saya temukan di area pintu keluar Candi Prambanan, hanya 15 ribu/buah, untuk kualitas E+ yang sedikit lebih baik dibanding kaos partai saat menjelang pemilu. Untuk nilai Berikutnya nilai B+ saya berikan kepada merk JR yang berbahan halus dan tebal dan saya dapatkan seharga (pas) 35 ribu di Malioboro. Kualitasnya mirip kaos suvenir dari Universal Studio Singapura. Nilai B saya berikan untuk kaos-kaos merk CP baik yang sablon maupun bordir dengan harga sekitar 35 ribu juga (mungkin masih bisa ditawar 100 ribu dapat 3), banyak dijual di sepanjang jalan Malioboro. Nilai C+ saya berikan untuk merk JM yang dibanderol seharga 30 ribu (satuan, dijual lebih murah jika beli puluhan), tokonya ada di jalan Dagen, Malioboro, bahan halus tapi lebih tipis dibandingkan merk JR. Lalu nilai C untuk merk OB yang sayangnya dijual kemahalan, yaitu 50 ribu/buah di daerah Suryoputran (sejalur jika naik becak putar-putar dari Malioboro-keraton-batik/kaos-bakpia). Kaos di toko yang sama, yang dijual 25 ribu/buah pun kualitasnya setara D bagi saya. Ah, lebih baik mengubek-ubek kaos di jalan Malioboro. Apalagi sekarang kebanyakan para pedagang kaos sudah mematok harga pas, tidak perlu repot menawar lagi. 

Kalau jalan-jalan di seputaran Malioboro akan ada banyak tukang becak yang menawarkan tumpangan ke sentra batik dan kaos di daerah Suryoputran hingga ke sentra bakpia dan tidak lupa mampir ke Keraton Yogyakarta hanya dengan 10 ribu perak bolak balik. Murah. Tapi untuk beli oleh-oleh kaos, yang termurah saya dapatkan di kawasan Candi Prambanan (sore menjelang tutup), yang kedua di kawasan Malioboro. Untuk pakaian batik anak-anak berbahan tipis dan dingin seperti kain bali, di daerah Suryoputran saya terlanjur membeli seharga 40 ribuan. Padahal barang yang sama dijual hanya seharga 15 ribu di Prambanan. Entah memang harganya segitu atau karena penjualan sepi saat bukan musim libur sehingga para pedagang suvenir di Candi Prambanan banting harga. Sore hari menjelang Candi Prambanan tutup, gantungan kunci dan gelang tali dijual seharga 1 ribu, sendal-sendal Jogja dan kalung-kalung aksesoris dibandrol hanya 10 ribu. Bahkan hiasan mobil-mobilan dan helikopter kayu ditawarkan hanya 5 ribu perak!

Kembali bicara soal kaos Jogja, saya belum menemukan kaos katun tipis dan dingin seperti yang biasa ditemukan di distro atau toko-toko terkenal di mall. Biasanya kaos bagus di mall memiliki kisaran harga dari 89 ribu sampai 249 ribu. Jika ingin kaos Jogja yang murah tapi bagus, sebaiknya banding-bandingkan aja dari satu penjual ke penjual lainnya. Beda merk, beda standar harga. Merk yang sama bisa jadi dijual beda harga. Kadang sudah capek-capek nawar di satu penjual, ternyata dijual lebih murah di tempat lain. Intinya kalo mau murah, harus usaha. 

The Silkworm

Posted: Januari 25, 2015 in Books section


Resensi The Silkworm

Ulat Sutra


[Resensi] ‘Sekelumit perjalanan hidup seorang detektif pincang yang diselingi pembunuhan keji terhadap seorang novelis yang haus popularitas.’

Apa yang paling menarik dari sebuah cerita detektif? Ketegangan saat sang detektif berhadapan dengan penjahat? Kecerdasannya dalam menganalisis kasus dan menemukan bukti-bukti? Atau bagian penutup yang menampilkan bagaimana sang detektif mengungkapkan kebenaran dengan cara-cara yang tidak pernah terpikir oleh pembaca?

Kasus apa yang pembaca harapkan ditampilkan dalam sebuah kisah detektif? Pengungkapan kejahatan penipuan? Pencurian? Konflik pribadi sang klien? Perselisihan? Perselingkuhan? Atau pembunuhan? Para penggemar adrenalin tentu memilih yang terakhir, pembunuhan sadis yang pada umumnya berlatar dendam..

Setelah kehebohan kasus kematian selebriti Lula Landry yang fakta-fakta pembunuhannya berhasil diungkap oleh kegigihan seorang detektif partikelir berkaki buntung bernama Cormoran Strike (dalam The Cuckoo’s Calling), ia mendapat ganjaran dengan meningkatnya jumlah klien dan tentunya pendapatan yang masuk ke rekeningnya, hingga ia mampu membayar Robin, asistennya yang kini telah diangkat menjadi pegawai tetap. Meski kasus-kasus yang berdatangan cukup membosankan dan memaksanya untuk melakukan berbagai pengintaian di tengah musim dingin yang menggigit terhadap para kekasih yang dicurigai berselingkuh, setidaknya ia mendapat banyak pemasukan dari para pria dan wanita kaya yang bersedia membayar mahal. Ia membutuhkan uang.. dan pengalihan dari kehidupan pribadinya yang rumit dan getir.

Pada suatu hari, kepandaian, imajinasi, dan pengalaman Strike saat menjadi tentara di Unit Investigasi Khusus Angkatan Darat kembali diuji. Seorang wanita paruh baya, istri penulis mesum yang tidak terkenal datang ke kantor Strike untuk memohon bantuan. Suaminya telah pergi dari rumah selama 10 hari dan tidak ada kabar sedikit pun. Ia tidak mengharapkan kasih sayang dan perhatian dari sang suami yang tidak setia itu, namun ia dan putrinya yang menderita keterbelakangan mental tengah membutuhkan kehadiran dan sokongannya atas kehidupan mereka. Kasus ini tidak cukup potensial untuk mendatangkan uang bagi kantor detektif Strike, namun entah karena iba, penasaran, atau kata hatinya, Strike menerima kasus ini dan mengerjakannya dengan penuh kesungguhan.

Awalnya pencarian sang penulis terdengar cukup mudah, mengingat sempitnya lingkaran sosial sang penulis dan istrinya yang malang. Namun pencarian Strike hampir buntu meski sudah mengerahkan berbagai trik untuk meminta keterangan dari segelintir orang yang mengenal sang penulis. Setelah pencarian panjang yang dipersulit oleh cuaca ekstrim dan kondisi kakinya yang kembali memburuk, sang penulis akhirnya ditemukan oleh Strike sendiri, dalam keadaan tidak bernyawa, di lokasi yang paling sulit diduga oleh para kerabatnya sendiri. Tanda-tanda penganiayaan yang keji ditemukan di tubuh korban. Yang paling mengerikan, kondisi tubuh korban dan ‘panggung’ kematiannya ternyata ditata sama persis seperti akhir hidup tokoh utama yang ia tulis sendiri di manuskrip terakhirnya, Bombyx Mori, yang penuh kontroversi dan belum sempat diterbitkan. Tak ayal, para kolega dan kerabat yang digambarkan sang penulis dengan kejam dalam bukunya dan tentunya juga sudah pernah mengintip draft tersebut serta merta dimasukkan ke dalam daftar tersangka. Penghinaan fatal yang ia lakukan terhadap orang-orang terdekat dan para koleganya dari dunia penerbitan, serta rahasia-rahasia kelam yang terkuak dapat menjadi motif untuk pembunuhan itu.

Akan tetapi upaya Strike untuk mengungkap kasus pembunuhan itu terbentur hukum yang berlaku. Pihak kepolisian Metro – yang sinis terhadap Strike karena telah mempecundangi mereka dalam kasus Lula Landry – tidak mengizinkan Strike mengusik kasus ini. Strike dihadapkan pada pilihan: menyerahkan kasus tersebut sepenuhnya ke tangan polisi, atau mengeraskan hatinya untuk melanjutkan penyelidikannya. Sayangnya arah penyelidikan dan dugaan polisi tidak dapat diterima begitu saja oleh insting Strike yang cukup terlatih. Mau tidak mau ia, dengan dibantu oleh asistennya yang cantik, serta beberapa teman lamanya, melakukan upaya secara sembunyi-sembunyi guna menemukan pelaku yang sebenarnya dan menyelamatkan orang tak bersalah yang terjebak karena kebodohannya sendiri.

Strike, digambarkan dalam novel ini, secara perlahan tapi pasti, menyusun kerangka kasus ini dengan rapi. Ia menentukan para calon tersangka, mereka-reka motifnya, dan mengumpulkan bukti yang dapat memberatkan tersangka. Tanpa dukungan pihak yang berwenang dan akses yang cukup terhadap barang bukti, Strike meraba-raba kasus ini dengan sabar namun tetap awas terhadap setiap kemungkinan. Namun karena begitu banyaknya kebencian yang bertebaran dalam novel ini, pembaca akan sulit memilih mana tersangka yang memiliki motif paling besar untuk membunuh sang penulis. Keterangan demi keterangan yang dikumpulkan dari tiap tersangka tampaknya berdiri sendiri-sendiri dan tidak mengarah ke mana-mana. Hanya dengan keuletan detektif dan asistennya inilah, bukti-bukti baru ditambahkan dan terjalin benang merah yang bermuara kepada satu tersangka, pembunuh berdarah dingin yang tidak disangka-sangka (meski sebenarnya di awal Rowling sudah memberikan petunjuk secara tersirat)!

Perjalanan karir J.K. Rowling dalam dunia novel secara kebetulan mengiringi proses hidup orang-orang seusia saya. Dari masa remaja yang dihiasi oleh perjalanan hidup Harry Potter di Sekolah Sihir Hogwarts dari tahun pertama hingga ketujuh, karya-karya Rowling berlanjut beberapa tahun kemudian dengan hadirnya Cormoran Strike dalam serial detektif yang baru diterbitkan sebanyak 2 judul, yaitu The Cuckoo’s Calling dan The Silkworm. Para penggemar novel-novel bertema kriminal (misteri, detektif, hukum) pasti dapat menemukan perbedaan antara penuturan Sir Arthur Conan Doyle dalam Serial Sherlock Holmes dengan serial thriller karangan J.K. Rowling yang bercerita tentang kehidupan detektif partikelir, Cormoran Strike, dengan karakter dan latar belakang kehidupan yang sangat unik namun menyentuh. Meski sama-sama berlatar belakang Inggris, tampak perbedaan yang nyata antara Sherlock Holmes dan Cormoran Strike. Jelas bahwa J.K. Rowning membawa nuansa baru dalam fiksi detektif masa kini.

Pada masa hidup Sherlock Holmes di akhir abad ke-19, di mana teknologi masih cukup primitif, segala macam keahlian Holmes sangat diandalkan dalam memecahkan berbagai kasus kriminal. Ia dapat melenggang ke dalam suatu perkara, mengacak-acak barang bukti, hingga memberi perintah pada pihak kepolisian, dan pada akhirnya membongkar fakta-faktanya dengan sangat brilian. Tak jarang bukti-bukti yang ia dapat akhirnya diandalkan oleh para penegak hukum sebagai dasar penangkapan dan pemberian hukuman terhadap para penjahat.

Namun berbeda halnya dengan Cormoran Strike yang di era modern ini tidak memiliki yurisdiksi atas korban dan tempat kejadian perkara, ia tidak dapat meneliti barang bukti dengan mata kepalanya sendiri. Bahkan bukti-bukti yang didapatkan dengan susah payah atas inisiatifnya sendiri pun harus segera diserahkan kepada pihak yang berwenang dan hanya boleh diproses oleh institusi-institusi resmi pemerintah. Strike harus memutar otak agar dapat menggali fakta dari luar lingkaran kasus tersebut. Dengan metodenya sendiri Strike dapat meminta keterangan dari para saksi, mengorek informasi yang tidak disadari berguna dari orang-orang yang pernah bertemu korban – yang umumnya enggan membuka diri karena takut terlibat, mengumpulkan bukti-bukti tidak langsung, lalu mengonfirmasi alibi, motif, dan kesempatan untuk melakukan kejahatan yang dimiliki oleh pelaku. Dengan kepandaian dan pengalamannya, serta bantuan dari asistennya yang pernah mengecap pendidikan psikologi, Stike dapat merangkai fakta demi fakta dari keterangan-keterangan terpisah yang ia dapat dari berbagai sumber, ditambah sedikit barang bukti dan petunjuk yang tepat, hingga terbongkarlah kasus tersebut.

Sosok Cormoran Strike dengan wajah tidak menarik dan tubuh seperti raksasa yang berjalan tertatih-tatih mungkin tidak akan mudah membuat pembaca jatuh hati. Namun perjalanan hidupnya yang pilu, keuletan, dedikasi, dan ketulusan hatinya pelan-pelan menarik simpati dari para pembaca. Karakter pahlawan yang manusiawi, dengan banyak kekurangan namun memiliki moral yang baik, sangat dibutuhkan saat ini. Sayangnya tema pembunuhan yang terlalu sadis, dibumbui kisah mesum dan perselingkuhan yang kurang mendidik membuat novel ini kurang pantas untuk dibaca oleh pembaca yang belum dewasa, meski dengan bimbingan orang tua. Satu pengulangan kecil di BAB 1 (“Langkahnya yang tidak seimbang terlihat makin kentara…”, hal.10; dan “…ketimpangan Strike semakin tampak jelas seiring tiap langkah.”, hal.14) memberi kesan bahwa Rowling agak terburu-buru menyelesaikan novel ini. Di samping itu, deskripsi berlebihan (khas Rowling) mengenai latar dalam beberapa adegan dalam novel ini cukup membosankan. Selebihnya, sebuah kisah misteri, dunia detektif yang menegangkan, sedikit permainan psikologi, dan ditaburi drama sentimentil, serta penggunaan istilah-istilah medis berbahasa latin membuat The Silkworm sangat menarik dan menghibur. 4 of 5 stars dari saya!

· Judul : Ulat Sutra (The Silkworm)
· Pengarang : Roberth Galbraith (Nama alias dari J.K. Rowling)
· Alih Bahasa : Siska Yuanita
· Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
· Tahun terbit : 2014
· Tebal : 536 hlm
· ISBN : 978-602-03-0981-1

Follow @raiyaroof via twitter

Jauh sebelum mengenal istilah backpaker dan buku-buku The Naked Traveler yang berisi kisah-kisah petualangan Trinity mengarungi dunia, jalan-jalan ke luar negeri khususnya Eropa cuma ada di mimpi saya. Saya pikir saya harus menabung seumur hidup untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri, mengingat biaya perjalanan untuk keluar dari kampung saya di pedalaman Kalimantan ini saja tidak murah, belum lagi tiket pesawat ke luar Kalimantan. Selama ini biaya terbesar saat liburan adalah tiket pesawat dan hotel. Jika harga tiket pesawat dari Palangkaraya ke Jakarta saja sudah 500 ribu rupiah, berapa juta rupiah harga tiket pesawat ke luar negeri? Orang biasa seperti saya tidak akan mampu menginjakkan kaki di luar Indonesia tercinta ini. (Baca tulisan saya sebelumnya, Traveler Wanna Be)

Namun pandangan saya tentang traveling berubah saat saya tahu bahwa ada yang namanya budget traveling alias jalan-jalan murah. Harga tiket pesawat ke luar negeri dapat terjangkau jika kita jeli memantau penjualan tiket promo sejak jauh-jauh hari. Biaya penginapan di luar negeri pun dapat ditekan hingga hanya 150-250 ribu rupiah per malam dengan menginap di hostel! Dan maskapai penerbangan yang paling gencar memberikan kemudahan dan keringanan biaya dengan harga promo besar-besaran adalah Air Asia! Bayangkan, saya dan dua orang sahabat pernah ke Kuala Lumpur hanya dengan membayar 100 ribu lebih untuk harga tiket pesawat Jakarta-Kuala Lumpur, dapat hot seat pula! (Baca Rezeki Tak Ke Mana) Jalan-jalan ke luar negeri yang tadinya tampak mustahil ternyata sangat bisa dilakukan oleh siapa saja. Ya, siapa saja yang punya mimpi dan mau berusaha😉.

Buat saya, ke luar negeri bukanlah hal mewah yang ingin saya pamerkan. Bukan soal kebanggaannya. Hanya saja saya punya pandangan bahwa hidup kita di dunia hanya sekali, dan relatif singkat. Sedangkan bumi yang sudah Tuhan ciptakan ini sangat luas dan sangat indah. Alangkah bahagianya jika kita pernah melihat dan mengalami secara langsung kehidupan masyarakat di belahan lain dari bumi ini, yang jauh berbeda dibanding atmosfer di sekeliling kita saat ini. Pengalaman itu tentu tak akan ternilai harganya.

Dulu saya tidak pernah bermimpi ingin bertualang ke tempat-tempat yang jauh, melihat pemandangan alam yang indah, menikmati karya seni bangsa lain, kebudayaannya, kulinernya, bahkan suhu udara yang berbeda dari tempat tinggal saya saat ini. Namun sejak saya mengenal Air Asia dan tiket-tiket promonya, sekarang saya yakin, jalan-jalan ke luar negeri itu bukanlah sebuah mimpi yang sulit untuk diwujudkan, tetapi cita-cita yang sangat mungkin untuk dicapai. Ya, selama ada Air Asia, impian saya pasti akan jadi kenyataan.

image

Follow @raiyaroof via twitter

The Cuckoo’s Calling

Posted: Maret 1, 2014 in Books section
image

Dekut burung kukuk

[Resensi] Saat kematian digambarkan begitu nyata, melaui kisikan-kisikan yang ia tinggalkan pada orang-orang terdekat semasa hidupnya.

Kisah ini bermula dari kematian mengenaskan seorang model tenama, Lula Landry yang tubuhnya terhempas jatuh ke atas jalanan Mayfair di kota London yang bersalju dari atas balkon lantai tertinggi apatemen 3 lantai yang ditinggalinya. Ada berjuta alasan yang membuat seluruh dunia mempercayai bahwa gadis dengan gangguan mental bipolar sekaligus pecandu narkoba itu telah mengakhiri hidupnya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Akan tetapi John Bristow, kakak angkat korban yang sangat penyayang dan protektif terhadap Lula yakin bahwa adiknya terlalu waras untuk mencoba bunuh diri di puncak karirnya yang gemilang. Ia mungkin dapat menerima kematian adiknya, namun tidak dapat mempercayai bahwa tidak ada seorang pun yang bertanggung jawab atas peristiwa itu. Tidak ada apapun yang ia inginkan, kecuali keadilan.

Dengan sedikit asa, John menemui seorang kenalan lama, mantan polisi militer di cabang investigasi khusus yang pernah menerima penghargaan dan saat ini berkarir sebagai detektif swasta, Cormoran Strike. Strike, tanpa John ketahui (meski ia telah menyelidiki secara mendalam mengenai latar belakang kehidupan Strike), adalah pria usia pertengahan 30an yang gagal dalam percintaan, terlilit utang hingga hampir bangkrut, dan hampir tidak memiliki klien potensial yang dapat menjadi sumber pemasukan bagi keberlangsungan kantor detektifnya, bahkan untuk menunjang kehidupannya sehari-hari. John mengabaikan penampilan Strike yang tak kalah busuk dibanding kantor kumuhnya. Ia hanya berharap Strike menjadi satu-satunya orang di muka bumi (selain dirinya sendiri) yang percaya bahwa adiknya telah dibunuh dengan sengaja, dan bersedia melakukan sesuatu untuk menguak kebenaran. John beruntung Strike tertarik mencobanya. Dengan pengalamannya yang matang di Angkatan Darat, ketelitiannya, dan sedikit kerja keras, serta bantuan berharga dari sekretaris temporernya, Robin, Strike meyakini bahwa kebenaran (akan) berangsur-angsur muncul dari banyaknya detail yang (tampaknya) tidak saling terkait. Yang tidak – belum – ia miliki hanyalah bukti. (Hal.325)

Dengan pintar Galbraith alias JK Rowling menggiring pembaca kepada berbagai asumsi dalam teka-teki kematian Lula – yang biasa dipanggil Cuckoo (Burung Kukuk) oleh salah seorang sahabatnya. Bersama fakta-fakta yang terkuak samar satu persatu, jika benar kematian Lula adalah sebuah tindak kriminal, maka bisa saja kita berpikir bahwa setiap tokoh dalam novel ini (kecuali Strike sendiri tentunya), mungkin adalah pembunuhnya. Pembunuh berdarah dingin yang keji. Berbalut drama kehidupan selebritis yang glamor (kontras dengan sang tokoh utama), novel ini begitu menghanyutkan sampai pada akhirnya kita diberi sebuah penutup yang epik dan memuaskan. Wajar jika novel ini mendapat penilaian yang positif dari para kritikus Eropa.

Konon The Cuckoo’s Calling merupakan novel pertama dalam serial detektif yang akan ditulis oleh JK Rowling yang mengangkat tokoh utama bernama Cormoran Strike. Strike adalah seorang tokoh yang unik dengan sedikit kelebihan dan sedemikian banyak kekurangannya. Berasal dari sebuah keluarga yang berantakan, hidupnya yang tak kalah carut marut tetap saja menampilkan kebaikan dan sisi positif dari seseorang yang mampu bertahan, selamat dari masa muda yang mengerikan. Setidaknya nilai moral yang dimiliki Strike masih dapat dijadikan teladan bagi para pembaca, meski saya menyarankan sebaiknya novel ini hanya boleh dibaca oleh pembaca yang cukup umur.

Sebagai salah satu karya JK Rowling, secara naluriah kita pasti akan membandingkan novel ini dengan mahakaryanya yang fenomenal, Harry Potter. Seperti biasa novel JK Rowling sarat dengan deskripsi. Ia menggambarkan latar, suasana, hingga emosi tokoh-tokohnya dengan gablang, seterang kemampuan pembaca untuk berimajinasi. Sayangnya desripsinya yang berlebihan dalam usahanya memvisualisasikan tiap ruangan yang menjadi latar dalam novel ini malah memperlambat plotnya. Bagi pembaca novel-novel detektif, detil-detil semacam itu patut diabaikan. Yang terpenting adalah: Apa yang sebenarnya telah terjadi? Siapa pelakunya?

Adegan demi adegan dalam kisah ini ditata sedemikian rupa seperti kepingan puzzle yang unik dan rumit, namun saling mengisi dan melengkapi menjadi sebuah cerita yang utuh, begitu lugas bagai menyaksikan sendiri sebuah peristiwa yang menggetarkan sekaligus memilukan. Tak ayal pembaca pun larut membaca sebuah novel berukuran besar, setebal 520 halaman dengan font kecil ini tanpa mau melepaskannya dari pandangan sebelum berhasil menamatkannya.

Mengapa harus Strike yang dipilih John untuk menangani kasus ini? Apa hubungan antara masa lalu Strike dan kasus kematian Lula yang janggal? Siapa dalang dari tragedi ini dan apa motifnya? Dan apakah pada akhirnya keadilan benar-benar dapat ditegakkan? Sebaiknya temukan sendiri dan nikmati kesenangan saat membaca novel ini. Sayangnya karena detil-detil tak penting yang terkesan dipaksakan dalam visualisasi setting, saya tidak dapat memberikan nilai sempurna untuk novel ini; hanya 4,5 dari 5 bintang..

(Tak lupa saya memberikan apresiasi untuk penerjemah, Siska Yuanita serta tim editor yang telah menyusun kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia – yang saya yakini – tak kalah indah dibanding versi aslinya. Hanya saja saya menemukan 4-5 kesalahan pengetikan di sepanjang novel ini. Tapi tetap saja: Good job, anyway)

Judul : The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk)
Pengarang : Robert Galbraith a.k.a. JK Rowling
Alih Bahasa : Siska Yuanita
Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2014
Tebal : 520 hlm
ISBN : 978-602-03-0062-7

*Tulisan ini terpilih menjadi #ResensiPilihan Gramedia minggu pertama Maret 2014
*http://gramedia.tumblr.com/post/78525660138/resensi-pilihan-the-cuckoos-calling

Follow @raiyaroof via twiter

There’s Always A Chance

Posted: Desember 31, 2013 in Cerita Mini (fiksi)

Lomba nulis cerpen kilat di malam tahun baru
“Mbak, nggak turun sekarang?”

“Pintu keluar masih penuh, Pak. Lagian nanti juga bakalan lama nunggu bagasi.”

Suara percakapan itu beradu dengan desing mesin pesawat yang baru beberapa saat mendarat di tanah Kalimantan. Kedua pintu keluar baru terbuka semenit yang lalu, namun para penumpang yang tidak sabaran sudah berdesakan di antara dua deret kursi. Alfa duduk diam mendengarkan di tempatnya dengan sabuk pengaman yang belum ia sentuh. Ia mengamati ibu-ibu yang kerepotan membawa dua tas oleh-oleh di tangan dan anaknya yang masih kecil. Dalam hati Alfa terbesit keinginan untuk menolongnya, namun lorong itu terlalu penuh hingga ia pun tidak muat menjejalkan diri di tengah-tengah orang-orang yang sibuk dengan barang bawaannya masing-masing. Alfa mencuri pandang ke arah perempuan yang ia dengar suaranya tadi. Gadis itu masih bergeming di tempatnya. Ia tampak asik memasukkan sebuah buku dan pemutar musik ke dalam tasnya. Kursi-kursi di sekitarnya sudah kosong melompong. Alfa pun kembali berkonsentrasi dengan dirinya sendiri.

Ban berjalan itu kembali dikerumuni manusia. Alfa berdiri di belakang para penumpang lainnya namun dengan tinggi tubuhnya, ia masih dapat mengamati koper-koper yang berjalan satu-persatu. Itu dia! Ia bergegas menyeruak memungut kopernya.

“Aw!” Pekik seorang perempuan.

Gadis itu tadi. Sesaat Alfa mengamati wajahnya sebelum muncul perasaan bersalah. “Maaf.. Maaf…” Koper Alfa tidak sengaja menyenggol gadis itu.

Gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya mengangkat kedua bahunya.

“Mari..” Ucap Alfa berbasa-basi, lalu membawa kopernya ke loket taksi. Alfa menoleh kembali ke gadis berambut hitam sebahu itu. Rambutnya tebal dan lurus. Hidungnya cukup mancung, mengingatkan Alfa kepada seseorang, namun entah siapa. Ia merasa deja vu.

***
Pemakaman umum Kota Palangkaraya di hari terakhir tahun 2013 itu lumayan ramai oleh pengunjung dibanding hari biasanya. Namun tidak ada siapa-siapa di sekitar Alfa. “Ma, apa kabar Mama di sana. Enakkah tinggal di Surga?” Air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia menyapu-nyapukan bunga yang bertaburan di atas batu nisan putih di hadapannya dengan tangan. “Aku kangen banget sama Mama. Mungkin gara-gara itu aku sampai ngerasa kalo cewek cantik yang kutemuin kemarin ngingetin aku sama Mama.” Alfa terpekur menatap nama dan tahun yang terukir di batu nisan itu. “Papa juga kangen sama Mama. Dia titip salam. Dia minta maaf karena nggak bisa ninggalin kerjaannya di Jakarta.”

“Ma, aku udah jadi sarjana sekarang. Makasih atas doa-doa Mama. Semoga aku bisa dapat kerjaan bagus, jadi orang sukses, jadi kebanggaan Papa sama Mama, dan dapat cewek sebaik Mama. Selamat tahun baru, Ma.” Alfa memejamkan matanya kemudian memanjatkan sebaris doa. Hari sudah sore di pemakaman itu. Beberapa kelompok orang datang dan pergi setelah menziarahi makam keluarganya.

Alfa bersiap pulang setika segerombol muda-mudi memasuki area pemakaman. Mereka tampak menenteng keranjang-keranjang berisi bunga rampai. Mereka berpapasan. Sekilas Alfa mengenali salah satu di antaranya. Ya. Gadis cuek di pesawat itu.

***
Dari kejauhan tampak Bundaran Besar diterangi lampu neon di setiap sisinya, tempat warga kota Palangkaraya berkumpul merayakan malam tahun baru. Alfa memarkirkan Jeep-nya cukup jauh. Jalan-jalan besar yang mengarah ke pusat Kota Cantik itu sudah dipadati parkir liar dan orang-orang yang berjalan kaki mendekati panggung hiburan, tempat para artis ibukota tampil menghibur masyarakat..

30 meter di depan panggung, Alfa berpikir kalau ia melihat siluet gadis itu lagi. ia memicingkan matanya. Penglihatannya tidak salah. Alfa merangsek ke depan, menyeruak ke samping gadis itu. “Hai..” Alfa mengembangkan senyumnya. Kedua lesung pipinya terukir jelas meski dalam cahaya remang-remang.

“Oh, hai.” Gadis itu tampak terkejut. Suaranya hampir tenggelam dalam hingar bingar musik dari sound sistem.

Alfa mengeraskan suaranya. “Kita ketemu di bandara kemarin. Koper.” Gadis itu mencoba mengingat-ingat. “Di kompleks pemakaman.. Err.. Aku juga liat kamu tadi sore.” Alfa terdiam sambil menggaruk kepalanya. Wajahnya samar-samar memerah. Ia sadar gadis itu tidak memperhatikannya saat berpapasan di pemakaman beberapa jam yang lalu.

“Oh, iya.” Bibir tipis gadis itu melengkung. Ia kembali mengamati Raisa yang sedang menyanyikan lagu favoritnya di atas panggung.

“Alfa.” Ucap Alfa sambil sedikit merunduk mendekati telinga gadis itu. Ia dapat mencium aroma wangi dari rambut gadis itu.

Gadis itu menoleh, lalu membalas jabat tangan Alfa. “Mia.”

“Sama siapa?”

Mia menyenggol kedua teman perempuannya dan memperkenalkan mereka satu persatu: Aline dan Septi.

“Cewek semua?” Tanya Alfa lagi.

“Cowokku di Bandung, gak bisa datang. Tunangannya Aline bentar lagi nyusul, jemput dia. Tinggal aku sama Septi,” jawab Mia. “Kamu?”

Tiba-tiba Alfa kehilangan semangat untuk menjawab pertanyaan itu. Ia mengangkat alisnya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Aku bareng lima ribu orang yang haus akan hiburan di tempat ini.” Ia menjawab sekenanya.

“Hahaha..” Tanpa disangka Mia tergelak. “Kamu bisa aja.” Ia memamerkan deretan giginya yang rapi.

Alfa ikut tersenyum sambil terus melirik ke wajah Mia yang berdiri di sebelahnya. Ia mencoba berpura-pura fokus pada band yang sedang beratraksi di panggung, namun pikirannya ingin merekam wajah cantik itu lama-lama. Kehangatan yang ia rindukan sejak dulu.

“Mia. Boleh minta nomor telfonmu?” Alfa menyodorkan ponselnya.

Gadis itu menatapnya tajam, seakan Alfa tertangkap basah sedang berusaha menipunya. Alfa salah tingkah.

Gadis itu tertawa lagi. “No problemo,” jawabnya sambil mengetik-ngetik di layar ponsel Alfa.

Tanpa mereka sadari kerumunan massa berangsur-angsur semakin ramai, saling mendesak untuk lebih dekat ke panggung. Udara dipenuhi riuh rendah musik dan suara yang keluar dari mulut ribuan orang serta bunyi letupan kembang api yang silih berganti menghiasi langit malam di pusat kota Palangkaraya. Sang pembawa acara yang berwajah oriental mirip Daniel Mananta memimpin hitungan mundur menyambut pergantian tahun.

….
SEMBILAN…

Entah apa yang akan terjadi nanti..

TUJUH…

Aku bersyukur bisa berada di sini..

LIMA…

Berdiri di sampingmu..

TIGA…

Seakan sudah lama aku mengenalmu..

SATU…

TEEEEEETTTTTT…. Terompet-terompet serentak ditiupkan..

Alfa tersentak saat merasa seperti ada sebentuk kulit halus menyentuh telapak tangannya. Alfa mengamati tanpa Mia sadari. Wajah gadis itu kaku, seakan jiwanya tidak berada dalam tubuhnya. Alfa balas menggenggam tangan Mia. Langit semakin terang oleh jutaan percikan api berwarna-warni.

“Selamat tahun baru Palangkaraya. Semoga kalian semua yang ada di sini, mulai detik ini, punya semangat baru untuk menghadapi hari yang baru di tahun 2014. Jangan lagi menoleh pada kegagalan di masa lalu. Maafkan segala kekeliruan yang sudah kita sendiri lakukan dan juga tentu saja kesalahan orang lain. Semua harus bangkit lagi, berjuang kembali untuk meraih hidup yang lebih baik, lebih sukses, lebih bahagiaaa!!!” Sang pembawa acara berorasi di tengah panggung dan kembali disambut sorakan dan tiupan terompet.

“Yuk, Nathan. Eh, sori.” Mia melepaskan tangannya. “Alfa. Aku pulang duluan ya.”

Alfa tersenyum. “Yup. Hati-hati di jalan, yaa.” Ia melambaikan tangannya. Matanya yang teduh terus mengamati sampai Mia dan Septi menghilang di tengah keramaian.

***
Alfa berbaring terlentang di atas kasur. Rumah begitu sepi hingga yang terdengar hanya detik jam yang tak henti berputar. Ia tidak berminat untuk keluar menjelajahi kota, apalagi ikut ke acara kakek dan neneknya menghadiri undangan koleganya. Malam belum larut, kantuk pun masih jauh dari kelopak matanya. Ia merenung, selain ibunya, apa lagi yang membawanya jauh ke kota ini? Ia punya kehidupan dan masa depan di ibukota.

Rrrrrrr… Rrrrrrr…

Alfa meraih ponsel yang bergetar di atas meja di samping ranjangnya. “Halo..”

“Hai.” Suara yang terdengar familiar. Mia.

“Ada apa nih? Tumben nelfon?” Tanya Alfa riang.

Hening sesaat. “Sori. Aku ganggu ya?”

“Nggak. Aku lagi santai di rumah. Kamu? Apa kabar?”

“Nggak. Ehm. Baik. Ehm. Tiba-tiba aja pengen ngobrol,” jawab Mia ragu-ragu. “Ya udah, aku gak enak ganggu malam-malam gini.”

“Eh, bentar. Jangan ditutup dulu,” cegah Alfa. “Kamu baik-baik aja? Ada yang pengen kamu omongin?” Alfa duduk tegak di tepi tempat tidurnya.

“Nggak papa. Aku lagi kesel aja.”

“Malam minggu kok kesel?” Goda Alfa. “Oh iya, cowok kamu nggak di sini ya?” Ia terkekeh.

Terdengar hela napas di seberang telefon. “Nathan nggak bisa dihubungin dari sore. BBM juga nggak dibales.” Mia membicarakan kekasihnya. Gantian Alfa yang menghela nafas tanpa Mia sadari.

“Udah coba hubungi teman-temannya?” Alfa mencoba terdengar wajar, meski dalam hati ia geregetan setengah mati.

“Belum, sih. Dia udah ingkar janji, gak dateng tahun baruan di sini. Inget itu bikin aku bete aja,” keluh Mia.

Alfa ingin tertawa, tapi ia tahan kuat-kuat. Ia tidak mau Mia menganggapnya ‘cowok tidak punya perasaan’. “Jangan bete-bete dong. Kan sayang kalau cewek cantik wajahnya cemberut.” Hening. Alfa menampar pelan pipinya sendiri. Ia merasa sudah terlalu lancang.

Alfa mendehem. “Besok siang ada acara nggak?” Ia berharap Mia tidak menyimak kata-katanya tadi. Atau jika sudah terlanjur mendengarnya, mudah-mudahan Mia segera melupakannya.

“Nggak ada, sih. Kenapa?

“Aku mau ke Nyaru Menteng. Ikut yuk?”

“Tempat penangkaran orang utan itu?” Tanya Mia tanpa semangat. Nyaru Menteng berjarak hampir satu jam dari rumahnya. “Aku takut sama orang utan.”

“Nggak papa. Kita liat yang jinak-jinak aja. Lagian di sana banyak nanny-nya. Pasti aman, kok. Ketimbang kamu bete aja di rumah” bujuk Alfa.

“Oke,” jawab Mia setengah hati.

***
Mia melangkah takut-takut memasuki pintu gerbang tempat penangkaran orang utan itu. Ia menarik bagian belakang baju Alfa. Pak Khairul, salah satu petugas yang sudah lama bekerja di penangkaran itu menyambut mereka dengan ramah.

“Kapan datang, Mas Alfa?” Ia menyalami Alfa dan Mia bergantian. Sementara Mia menatap kedua pria di hadapannya bergantian dengan wajah melongo.

“Minggu lalu, Pak. Gimana kabar anak-anak?”

“Roy dan Rani sudah cukup dewasa dan dilepas ke hutan sekitar dua bulan yang lalu,” jawab Pak Khairul. Rupanya mereka membicarakan bayi orang utan yang diselamatkan dari kebakaran hutan beberapa tahun yang lalu. “Kalau Alfian..” Pak Khairul terpekur sejenak. “Dia nggak selamat. Luka bakarnya sebagian besar sembuh, tapi ada beberapa bagian yang terlampau parah dan terlanjur terinfeksi. Dia meninggal dua hari setelah Mas Alfa terakhir ke sini.” Ia mengajak Alfa dan Mia ke gudang makanan lalu mendahului mereka ke kandang luas yang didesain mirip hutan hujan asli di pedalaman Kalimantan. “Kita ketemu Susan dulu. Dia baru melahirkan enam bulan yang lalu. Sekarang tampaknya dia hamil lagi, jadi agak sensitif,”

Mia mengerenyitkan dahinya. “Nggak menggigit, kan, Pak?” Tanyanya was-was.

Pak Khairul dan Alfa terbahak mendengarnya. “Susan cukup jinak. Tapi, manusia yang sedang hamil aja kadang berubah jadi pemarah. Begitu juga dengan orang utan.

Di dalam kandang raksasa itu tampak beberapa orang petugas yang disebut nanny sedang asik dengan pekerjaannya masing-masing. Beberapa orang sedang memberi makan hewan-hewan mirip manusia itu, sebagian memberi susu dalam botol dot bayi kepada bayi-bayi orang utan yang digendongnya, sedangkan di kejauhan tampak beberapa petugas sedang melatih hewan berbulu itu untuk bertahan hidup di alam liar. Pak Khairul memperkenalkan Alfa dan Mia kepada beberapa nanny baru dan lama yang sedang asik bermain dengan orang utan-orang utan itu. Suara burung hutan bersahut-sahutan dengan lengkingan-lengkingan orang utan dan owa dari kejauhan.

“Kamu sejak lahir tinggal di Palangkaraya tapi belum pernah ke sini?” Tanya Alfa heran.

Mia menggeleng. Ia jongkok dan dari jauh mengamati Alfa yang sedang memegangi seekor bayi orang utan. Sementara Pak Khairul pamit untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain. Bau kotoran hewan-hewan penghuni kandang itu masih tercium samar walaupun kandang itu terlihat cukup bersih.

“Ayo, dekat-dekat sini. Aman, kok,” bujuk Alfa.

Mia kembali menggeleng. “Kamu aja, deh.”

Alfa memberi tatapan ‘ya sudah’ ke arah Mia lalu kembali asik menggoda bayi orang utan yang dipegangnya. Ia menyodorkan sebotol susu lalu menjauhkannya lagi saat bayi orang utan itu akan meminumnya. Alfa tertawa jahil.

“Aku nggak punya saudara. Bermain dengan bayi-bayi orang utan ini membuatku merasa seperti memiliki keluarga yang besar,” kata Alfa tiba-tiba. “Mamaku sudah lama wafat. Aku sudah gak ingat dengan pasti kapan. Mungkin saat aku masih TK atau kelas 1 SD. Aku bahkan sudah gak ingat lagi gimana persisnya wajah mamaku.” Alfa tercenung. “Aku pulang ke sini untuk jenguk mamaku. Sekalian jenguk kakek & nenekku yang cuma tinggal bertiga sama mbak Minah di rumah.”

Mia menatapnya dengan wajah yang sulit ditebak. Ia ingin mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Alfa namun akhirnya urung melakukannya. “Papa kamu di mana?”

“Papa tingal di Jakarta. Dia sibuk dengan pekerjaannya. Dia nggak menikah lagi, jadi dengan bekerja dia anggap bisa membantu mengalihkan pikirannya dari mama.” Alfa terdiam.

“Kamu sendiri? Ngapain kemarin dari Jakarta?” Alfa mengamati wajah Mia lekat-lekat.

Mia memanyunkan bibirnya. Lucu. “Harus dijawab, ya?” Ia menarik napas. “Aku habis dari Bandung, nemuin Nathan. Dia nggak bisa balik karena sibuk sama thesisnya.”

“Ooh..,” jawab Alfa datar. “Kalian udah baikan?”

Mia mengangkat kedua bahunya enggan. Alfa mulai akrab dengan kebiasaan Mia yang satu ini. Keduanya kembali tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

“Alfa. Bulu mata kamu lentik juga ya?” Celetuk Mia tiba-tiba. Ternyata diam-diam Ia mengagumi bulu mata hitam lentik dan alis tebal yang terukir rapi melengkapi rambut ikal milik Alfa.

“Jangan lama-lama ngeliatinnya. Ntar naksir. Gimana Nathan?” ledek Alfa.

“Udah, jangan ngomongin dia. Bikin bete kumat lagi,” rajuk Mia.

Alfa menatap Mia sambil membelai bayi orang utan di pangkuannya. Ia tertawa-tawa melihat wajah manyun Mia.

Pak Khairul kembali menemui mereka. “Mas Alfa, mau liat Alfian?”

Alfa mengangguk dengan wajah sumringah.

“Alfian mau dilepas di habitatnya minggu depan. Kalau mau, Mas Alfa boleh ikut.”

“Oh, ya?” Alfa tampak antusias. “Mia boleh ikut nggak, Pak?”

Pak Khairul menatap Mia sekilas lalu tersenyum. “Boleh-boleh saja kalau berani. Medannya nggak mudah.”

Lagi-lagi Mia mengangkat kedua bahunya. “Nggak janji, ya.” Ia balas menatap wajah Alfa yang memasang ekspresi penuh harap.

“Siiip..”

***
Alfa meregangkan tubuhnya sesaat, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengucek-ucek matanya. Ia menyunggingkan senyum meski matanya silau karena cahaya matahari pagi yang menerobos melewati sela gorden. Tadi malam ia kesulitan memejamkan mata. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan apa saja yang akan ia lakukan hari ini. Bersama Mia. Ia bergegas ke kamar mandi.

Alfa mengecek ponselnya. Ada pesan BBM yang belum ia baca. Mia.

‘Alfa, sori, ya. Aku nggak jadi ikut hari ini..’

Alfa langsung memencet nomor ponsel Mia.

“Halo?” Terdengar suara berisik di belakang Mia.

“Halo, Mia? Kamu di mana? Ada apa? Kok tiba-tiba nggak jadi?”

“Halo? Alfa? Gak kedengeran. Aku lagi di bandara nih.”

“Hah? Kamu mau ke mana? Kok mendadak?” Alfa setengah berteriak.

“Nathan tiba-tiba dateng. Aku jemput dia.” Mia menjawab hati-hati.

“Oh. Ya udah. Selamat bersenang-senang,” ucap Alfa kecewa. Ia mengakhiri telefonnya dengan hati bagai habis tertimpa kayu gelondongan. Remuk.

***
Danau Tahai ramai pengunjung di hari libur ini. Dengan perasaan tak karuan Alfa mengayuh perahu angsanya kuat-kuat hingga terengah-engah kehabisan tenaga di tengah danau. Mestinya ia menaiki perahu angsa ini bersama Mia. Danau ini hanya berjarak 10 menit dari Nyaru Menteng. Ia sudah berencana untuk mengajak Mia menghabiskan sore ini di danau ini setelah mengantarkan orang utan dari Nyaru Menteng ke habitatnya. Akhirnya ia sendiri juga batal ikut rombongan Pak Khairul dan pergi ke danau wisata ini sendirian. Ia memerhatikan bayangan dirinya memantul di atas air jernih yang berwarna coklat kehitaman di bawahnya. Pohon-pohon rindang dengan akar-akar terjalin tampak tumbuh tak beraturan mengelilingi danau membuat udara terasa sejuk.

Kenapa harus Mia? Dan kenapa harus ada Nathan? Alfa mengenang kembali pertemuannya dengan Mia saat di pesawat, saat di bandara. Genggaman tangan Mia di malam tahun baru. Sifat tertutup Mia tidak mampu menyembunyikan kehangatan pribadinya. Alfa selalu merasa nyaman saat berada dekat dengan gadis itu. Hidungnya selalu mengingatkan Alfa akan kelembutan ibunya saat ia masih kecil dulu, meski Mia tidak benar-benar mirip dengan ibunya. Mia, Aku udah kangen sama kamu.

Alfa menarik napas panjang kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Mia udah punya cowok. Mereka saling menyayangi. Aku nggak punya kesempatan. Dia milik Nathan. Aku nggak berhak suka sama dia. Alfa membatin. Memikirkannya aja aku nggak pantas.

BRUKK!! Wajah muram Alfa tersentak kaget saat menyadari perahu angsanya menabrak perahu lain. Bapak muda yang sedang mengayuh perahunya bersama seorang anak perempuan itu tidak berkata apa-apa. “Maaf, Pak. Maaf, nggak sengaja.” Perasaan Alfa semakin tak karuan.

Bapak muda itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lain kali jangan melamun, Dek. Apalagi kamu sendirian. Kalau kemasukan, gimana?” Ia terkekeh.

“Kemasukan itu apa, Pi?” Celetuk gadis cilik di sebelah bapak itu. Perahu Angsa mereka perlahan menjauh.

Alfa termenung. Tadi ia sempat membaca kalimat yang tertulis di kaos yang dikenakan bapak itu. ‘Keep calm. There’s Always A Chance’. Jangan menyerah. Selalu ada harapan. Tiba-tiba Alfa merasa jiwanya bangkit. Aku akan cari cara agar Mia juga menyukaiku.

***
Nathan sudah kembali ke Bandung. Mia yang merajuk membuatnya terpaksa pulang ke Palangkaraya untuk meluruskan persoalan. Namun waktunya tidak banyak, karena ia juga harus menyiapkan penelitian bersama profesornya ke luar negeri. Mia berceloteh tanpa beban saat mereka sedang bersantai di tepi kolam pemancingan tak jauh dari Jembatan Kahayan. Bagi Alfa, keterbukaan Mia yang menganggapnya seperti seorang sahabat adalah sebuah kemajuan. Meski keberadaan Nathan masih menjadi duri dalam daging bagi Alfa. Kenapa harus ada Nathan?

Pekerjaan freelance Mia di sebuah perusahaan konstruksi tidak memberikan Alfa banyak kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan Mia. Karena meski berstatus karyawan lepas, banyaknya proyek yang sedang dikerjakan Mia dan rekan-rekannya membuat ia tak punya banyak waktu luang. Namun Alfa tak mau berputus asa. “There’s always a chance”, bisiknya pelan.

“Kamu ngomong apa barusan?” Mia menyadarkan Alfa dari lamunannya.

“Eh, nggak. Nggak ngomong apa-apa,” sangkalnya. “Ini ikan nilanya mau dibakar apa digoreng?”

***
”Kamu harus balik ke Jakarta besok,” ucap Ayah Alfa tegas.

“Tapi, Pa..” Alfa ragu melanjutkan kata-katanya. Ia tahu tak ada gunanya membantah perintah ayahnya, orang tua tunggal yang sudah membesarkannya sendirian. “Aku kan baru sebentar di Palangkaraya. Kakek dan nenek masih butuh aku di sini.” Ia mencoba mencari alasan.

“Papa butuh bantuan kamu di sini secepatnya. Kamu mau liat Papa jatuh sakit akibat lembur tiap hari karena nggak ada yang bantuin Papa di kantor?”

Alfa terenyuh. Tidak ada bantahan lagi. Indahnya matahari terbenam petang ini buyar hanya karena sebuah panggilan telefon dari Jakarta.

***
‘Aku harus ketemu sama kamu malam ini.’

Pesan itu sudah terkirim satu jam yang lalu.

“Ada apa, sih?” Mia menemui Nathan dengan piyama hijau toska lembut yang ditutupi sweater navi blue dan beberapa buah rol rambut di kepalanya.

Alfa terkekeh melihat penampilan Mia yang berbeda dari biasanya. Namun ia segera teringat akan tujuannya menemui Mia. “Yuk, ikut.” Alfa setengah memerintah.

“Ke mana?” Pertanyaan retorik yang hanya dijawab Alfa dengan membukakan pintu penumpang Jeep-nya dan menuntun Mia ke kursi tersebut.

“Kita nggak akan ke mall atau restoran.” Kata Alfa menenangkan Mia yang tampak cemas karena keluar rumah hanya dengan kostum tidurnya. Alfa mengajaknya berkeliling kota, menikmati jalanan lebar yang lengang dan lampu-lampu jalan yang cahayanya lebih banyak dibantu oleh taburan bintang dan bulan purnama yang bersinar terang.

“Aku harus balik ke Jakarta besok.” Pandangan Alfa lurus ke depan. Sementara Mia menatapnya dengan lidah tercekat.

“Aku harus bantuin Papa di kantor,” lanjut Alfa tanpa gairah.

Mia terdiam. Pikirannya berkecamuk, namun ia tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Ia takut mengucapkan sesuatu yang tidak tepat, yang mungkin bisa merusak suasana, atau malah melukai hati Alfa.

“Maaf, aku nggak bisa lama-lama tinggal di sini. Aku nggak pengen balik, tapi aku juga nggak tega sama Papa.”

Aku pengen tetap di sini, dekat sama kamu. Jagain kamu. Bikin kamu juga sayang sama aku.

“Iya. Papa kamu orang yang paling penting dalam hidup kamu. Kamu nggak boleh ngecewain dia.” Akhirnya Mia berhasil mengucapkan sesuatu yang terdengar bijak.

Buat aku, kamu dan papa sama-sama penting, jawab Alfa dalam hati.

“Hati-hati, ya,” lanjut Mia sebelum kembali tercenung.

“Kamu juga jaga diri baik-baik.” Sampai aku balik ke sini lagi, lanjut Alfa lagi dalam hati. Kemudian hanya terdengar deru mesin mobil di sepanjang sisa perjalanan.

***
Antrian konter chek in tiket sudah mengular saat Alfa tiba. Ia memeriksa jam tangannya. Ia tidak datang terlambat.

“Alfa!” Suara yang sudah mulai tertanam di otaknya sejak sebulan belakangan ini sayup-sayup terdengar. Ia berpaling dan menemukan Mia di kejauhan. Dengan setengah tak percaya ia keluar dari barisan antrian.

“Ngapain kamu di sini?” Ia memerhatikan kelopak mata Mia tampak sembab. Mungkin ia juga kurang tidur.

“Cuma mau nganterin kamu.”

“Cuma itu?” Alis hitam Alfa terangkat sementara kedua matanya mengerjap-ngerjap.

Mia tampak gelisah. “Jaga kesehatan ya. Jangan terlalu fokus kerja sampai lupa istirahat,” ucapnya sesaat kemudian.

Alfa tersenyum.

“Ya udah. Masuk sana,” usir Mia dengan halus seraya menyodorkan tangannya.

Alfa menggenggam tangan Mia dengan erat. Harusnya ini saat di mana aku memeluk dan membelai rambut kamu, Mia. Alfa mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri, mengusir khayalan dalam kepalanya.

‘There’s Always A Chance’.

“Sampai ketemu lagi, ya.” Wajah Alfa berseri-seri walaupun saat itu harus berpisah dengan belahan hatinya. “There’s always a chance,” bisiknya.

Follow @raiyaroof via twitter

Size 12 Is Not Fat

Posted: Desember 15, 2013 in Books section

001.jpg[Resensi] ‘Dilema mantan artis remaja yang terkait kasus pembunuhan berantai di tempat kerja.’

Lari dari kenyataan bukanlah pilihan bagi Heather Wells. Harusnya ia punya masa depan yang cerah dan hidup berkecukupan sebagai seorang mantan artis remaja. Namun apa daya, setelah karirnya di dunia musik jatuh gara-gara konflik kepentingan dengan pihak produser, ayahnya dipenjara, ibu kandungnya sendiri mengkhianati dan meninggalkannya hidup sendirian tanpa sedikit pun sisa kekayaan dari masa jayanya. Kecewa yang dialami Heather semakin bertambah saat ia memergoki tunangannya berselingkuh dengan artis wanita lain yang sedang naik daun. Dengan menanggung cobaan berat tanpa tempat untuk bersandar, ia memilih makanan-makanan enak untuk melegakan pikirannya. “Ukuran 12 tidak gemuk,” katanya. “Rata-rata wanita Amerika berukuran 12.” Ia mencoba menyangkal bahwa rata-rata wanita Amerika itu gemuk.

Tanpa uang dan tempat tinggal, Heather mencari jalan untuk menafkahi dirinya sendiri. Ia bertekad untuk bangkit dari keterpurukan, meski ia tidak mampu berbuat apa-apa soal berat badannya yang tidak terkontrol. Beruntunglah kakak kandung dari mantan tunangannya memberikan banyak pertolongan. Cooper Cartwright, sang pemberontak yang memutuskan hubungan dari keluarganya dan memilih jalan hidupnya sendiri, memberikan tempat tinggal yang layak untuk Heather di loteng apartemennya – apartemen dua lantai yang terbuat dari batu pasir merah muda peninggalan kakek Cartwright. Ditambah sedikit keberuntungan, Heather juga mendapatkan pekerjaan tidak jauh dari apartemen itu.

Semua yang ada di sekitar Heather indah dan berjalan normal sampai peristiwa itu terjadi. Penemuan mayat di asrama – maaf, gedung tinggal – tempat Heather bekerja sebagai asisten direktur gedung tinggal mahasiswa New York College, Fisher Hall. Kematian berturut-turut dua mahasiswi pintar dan kuper di dasar lubang lift tidak bisa dijelaskan oleh pihak kepolisian. Satu-satunya penjelasan dari pihak administrasi kampus adalah mereka tewas karena tergelincir saat bermain selancar lift, sendirian. Penjelasan yang sangat tidak masuk akal bagi Heather, karena hanya mahasiswa-mahasiswa bandel yang melakukan hal bodoh dan berbahaya semacam itu… dan beramai-ramai!

Heather, dengan sedikit bantuan dari Cooper mencoba mencari tahu, apakah peristiwa itu murni kecelakaan, atau sebaliknya adalah tindak kriminal. Jika benar kematian tragis itu merupakan kasus pembunuhan, siapakah pelakunya? Apakah mahasiswa yang tinggal di gedung itu? Atau pekerja gedung? Atau malah orang yang selama ini berada dekat dekat dengan Heather sendiri?

Novel ini sudah cukup lama saya miliki, namun baru tersentuh beberapa minggu yang lalu. Sebagai sebuah novel terjemahan, Size 12 Is Not Fat menyajikan kisah unik yang hampir tidak mungkin ditemui dalam novel-novel karangan penulis lokal. Dengan pengalaman menulis lebih dari dua lusin teenlit dan chicklit laris (termasuk The Princess Diaries), ide yang dipilih oleh Meg Cabot begitu original. Sayangnya gangguan kepribadian yang dimiliki oleh Heather Wells kurang digali secara mendalam, sehingga penggambaran karakternya kurang tajam. Judul yang dipilih pun kurang terhubung dengan keseluruhan cerita. Apalagi – karena novel ini terjemahan – gaya bertutur yang digunakan oleh penulis sangat ‘Amerika’. Bagi pembaca yang kurang familiar dengan film-film drama Hollywood, tidak mudah untuk memahami narasi novel ini, meskipun penulis menggunakan sudut pandang orang pertama.

Namun demikian, cerita thriller kasus pembunuhan yang dibalut dengan kisah asmara secara berimbang ini patut diacungi jempol. Penulis cukup berhasil mengaduk emosi pembaca, dengan selingan ketegangan-ketegangan hingga aksi klimaks di akhir cerita. Novel ini dapat dinikmati oleh penggemar cerita thriller dan aksi detektif, maupun penggemar drama percintaan. Cukup menghibur. 3.5 of 5 stars dari saya!

Judul : Ukuran 12 Tidak Gemuk (Size 12 Is Not Fat)
Pengarang : Meg Cabot
Alih Bahasa : Barokah Ruziati
Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2011 (cetakan kedua)
Tebal : 416 hlm
ISBN : 978-979-22-6001-4

Follow @raiyaroof via twiter

Berjibaku di ‘Kandang Singa’

Posted: November 20, 2013 in Intermezzo

Ini adalah lanjutan dari kisah Beginner dan Keluar Dari Mulut Buaya, Ada Mulut Singa dan Dinosaurus Mengantri.

Ujian PPDS tahap II saya ibaratkan dengan ‘kandang singa’. Ada beberapa rintangan sulit yang harus saya hadapi di fase ini, mulai dari tes psikiatri berupa psikotes, MMPI, sampai wawancara dengan psikiater, hingga General Check Up. Para calon residen harus dipastikan sehat fisik & mentalnya. *lap keringat*

Kalau dalam tes akademik kemarin saya terpaksa memutar otak untuk memilih jawaban mana yang paling masuk akal (yang paling benar), mengandalkan logika (karena nggak menguasai teorinya) dengan cara menganalisis soal dan mencocokkannya dengan pilihan jawaban yang tersedia, kali ini yang dinilai adalah keadaan mental dan fisik saya apa adanya – nggak perlu mikir. Tapi tetap saja saya nggak tenang kalau tanpa persiapan. Apalagi melihat ada puluhan judul buku contoh soal-soal psikotes yang dipajang di toko buku bikin saya merasa terintimidasi. Beberapa teman menyemangati saya untuk belajar psikotes dengan sungguh-sungguh. Bahkan seorang teman ‘memaksa’ saya untuk menghapalkan kunci jawaban MMPI milik orang lain! Absurd..

Setahu saya, psikotes digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan dan kematangan mental seseorang sedangkan MMPI digunakan untuk menilai kepribadian, kewarasan, dan gangguan mental yang mungkin tersembunyi (CMIIW). Psikotes terdiri dari beberapa kelompok soal pilihan ganda yang harus dikerjakan dalam waktu terbatas. Sedangkan MMPI terdiri dari 567 soal (pernyataan) dengan pilihan jawaban ya(setuju)/tidak. Sejauh yang saya tahu juga, kepribadian & status mental seseorang sudah bawaan dalam dirinya, tidak bisa dimanipulasi atau ditutup-tutupi (jika seluruh pernyataan dipilih dengan jujur).

Maka tibalah fase ujian tahap II. Di hari pertama saya langsung mengikuti psikotes yang hanya berlangsung sekitar dua jam lebih. Jauh lebih singkat dan jumlah soal yang jauh lebih sedikit ketimbang 2 psikotes yang pernah saya ikuti saat masuk SMU dan kuliah. Setelah istirahat, kami langsung melanjutkannya dengan MMPI. Lancar. Kan sudah ‘belajar’.. Yang penting baca soal dengan teliti dan ingat-ingat pernyataan-pernyataan sebelumnya, karena ada beberapa pernyataan yang berulang, dengan bentuk kalimat yang berbeda (kalimat aktif atau pasif). Jika pilihan kita berubah-ubah, maka kita bisa dinilai tidak konsisten. Malu kan?

Menurut saya, rangkaian tes di fase ini cukup mudah, nggak perlu banyak mikir. Makanya saya menganalogikannya dengan kandang singa: ngeri, berbahaya, banyak (singanya). Tapi karena zodiak saya berlambang singa, harusnya ‘kandang singa’ ini menerima saya dengan tangan terbuka. Saya menggampangkannya.

My day was super perfect before that kamfret text message came. I have to retake MMPI test! *maybe bcoz I’m looks too nice as a human being* (twit saya sore itu)

Saya harus mengulang MMPI, sodara-sodara! Saya merasa sudah memilih jawaban-jawaban dengan ‘sempurna’, tapi ternyata hasil MMPI saya TIDAK VALID! Salahnya di mana???

Dengan rasa penasaran, saya baru browsing info tentang MMPI. Ternyata ada banyak faktor yang dapat membuat hasil MMPI kita tidak valid. Tidak menjawab lebih dari 30 soal, tidak konsisten, menyimpang (pura-pura sehat atau pura-pura sakit), berbohong/mendeskripsikan diri terlalu positif (yang tidak realistis), dan berusaha tampak terlalu baik (hati) atau sikap positif/normatif yang ekstrim (rukun dengan org lain, bebas dari masalah psikologi, terlalu yakin dengan kebaikan manusia) ternyata tidak dapat diterima dalam skoring MMPI.

Teman-teman ‘menuduh’ saya TIDAK KONSISTEN tapi saya yakin satu-satunya kesalahan saya adalah karena saya tampak ‘terlalu malaikat’ di tes MMPI. Yah, saat mengikuti MMPI itu mood saya sedang bagus-bagusnya. I was too positive! Saya memilih pernyataan yang menunjukkan bahwa saya orang baik, yang bahkan terlalu baik untuk manusia kebanyakan. (Silakan coba sendiri kalau pingin tahu bagaimana komponen tes MMPI).
I am in manic phase.. Soo positive.. And it’s seems unrealistic for MMPI scoring.. *invalid and be retaker* #bipolarmentaldisorder (twit saya lagi)

Besoknya saya pun mengulang MMPI dan berusaha untuk menjadi lebih tampak ‘manusiawi’. Semuanya lancar. Syukurlah.

Hari berikutnya, saya mengikuti wawancara dengan seorang psikiater yang mengkonfirmasi hasil psikotes & MMPI saya. Sialnya dalam wawancara, ibu ahli jiwa itu juga bertanya banyak hal soal kehidupan pribadi saya dan mengungkit-ungkit masalah-masalah yang sudah enggan untuk saya bahas lagi (malesbanget.com). Mood bahagia saya beberapa hari sebelumnya pun langsung down ke level depresi. Ah, payah!

Follow @raiyaroof via Twitter