Arsip untuk ‘Dokter PTT’ Kategori

PTT Galau Part 2

Posted: Januari 2, 2013 in Dokter PTT

Pagi pertama di MengkatipLanjut cerita PTT-nya. (Part 1 ada di sini)

Kegalauan saya menjelang berangkat PTT semakin bertambah karena pikiran tentang kenyataan yang harus dihadapi: untuk berangkat ke desa tempat bertugas, saya harus menumpang speedboat mengarungi sungai Barito, sungai terbesar se-Indonesia yang lebarnya mencapai ratusan meter dan sangat dalam. Membayangkan bakal terombang-ambing di atas speed yang melaju, saya langsung mual. Jangankan naik speedboat, di perjalanan darat trans-kalimantan saja saya bisa mabuk darat. Maklum sebagian besar jalan antarkabupaten atau antanpropinsi di Kalimantan tidak dalam kondisi bagus. Kebanyakan jalan di Kalimantan berkelok-kelok, sebagian hancur atau berlubang-lubang, sebagian lagi malah belum selesai diaspal tetapi tetap dipaksakan untuk dilalui. Naik mobil dari kabupaten ke kota Palangkaraya selama 4-5 jam bisa bikin saya mabuk darat. Entah bagaimana nanti saat menentang bahaya mengarungi sungai besar dengan speedboat?

Singkat cerita, tibalah hari keberangkatan saya ke tempat bertugas. Saya berangkat ke pelabuhan lebih pagi karena takut kehabisan tiket. Memakai jaket lengkap dengan rompi pelampung dan sandal jepit, saya jadi satu-satunya penumpang yang beda sendiri. Mungkin hanya saya penumpang yang tidak bisa berenang hari itu.

Karena datang lebih dahulu, saya berhasil mendapatkan tempat duduk yang menghadap ke depan, di baris ketiga. Kebetulan pada hari itu speedboat yang beroperasi adalah speedboat yang cukup besar dan lebih panjang dibanding speedboat angkutan umum standar. Jadi, di speedboat ini ada 3 baris tempat duduk yang menghadap ke depan yaitu tempat duduk motoris (sopir) di baris pertama dan dapat diisi satu orang penumpang di sebelah kiri motoris, sedangkan dua baris tempat duduk berikutnya masing-masing dapat diisi tiga orang penumpang dewasa (atau 4 orang anak-anak). Sisanya berupa tempat duduk panjang di kedua sisi perut speedboat, sehingga penumpangnya duduk saling berhadap-hadapan seperti di dalam angkot. Total penumpang yang dapat diangkut sekitar 30-40 orang berdesak-desakan. Barang bawaan dijejalkan di kolong di bawah kaki atau di tengah speedboat. Di sini, speedboat yang mengangkut penumpang disebut ‘taksi’. Ya, di Kalimantan, tampaknya semua angkutan umum yang bisa mengangkut banyak penumpang ke desa-desa disebut ‘taksi’.

Seperti kata orang-orang bijak, sedih, senang, nyaman atau tidak, semua dipengaruhi oleh pikiran kita sendiri. Supaya merasa nyaman dan menikmati perjalanan, saya pun membayangkan naik speedboat pribadi di teluk Marina atau Malibu, Venesia, Maldives, atau laut manapun yang jadi lokasi syuting film-film action Hollywood, di mana jagoannya berkejar-kejaran dengan penjahat sambil saling menembak di atas speedboat yang sedang melaju. Bedanya, pemandangan di pinggir sungai kebanyakan adalah hutan hijau yang kadang diselingi perkampungan tradisional – bukan pantai yang indah, pelabuhan besar, atau gedung-gedung tinggi seperti di film-film. Angin yang menerpa wajah sangat kencang, diselingi hujan gerimis. Beberapa kali speedboat mampir ke beberapa desa untuk menurunkan atau menaikkan penumpang. Tidak terasa perjalanan 3 jam naik speedboat ternyata tidak seburuk yang saya bayangkan.

Sampai di desa, saya naik ke rumah bibi saya yang berada di tepi Sungai Barito, di sebelah hulu desa. Seperti hampir semua rumah lainnya di desa, rumah bibi saya berbentuk rumah panggung dan terbuat dari kayu. Rumah beliau memiliki loteng, dengan 3 kamar tidur yang berada di lantai atas, sedangkan di lantai bawah hanya ada ruang tamu, ruang, keluarga, ruang makan, dan dapur. Bagian depan rumah menghadap ke jalan desa, sedangkan bagian belakang rumahnya menghadap ke sungai. Karena besarnya Sungai Barito, kebanyakan masyarakat menyebutnya ‘laut’. Jadi, balkon atas dan pelataran bawah yang menyatu dengan dapur di bagian belakang rumah menghadap ke ‘laut’. Hebatnya lagi, pelataran belakang rumah ini menghadap ke timur, jadi setiap pagi bisa bersantai menikmati pemandangan matahari terbit di atas ‘laut’.

Di rumah ini, hanya ada bibi, paman, dan seorang sepupu perempuan yang bekerja sebagai guru SD di desa tersebut. Sepupu saya ini sudah menikah, namun suaminya bekerja di Palangkaraya dan belum dikaruniai anak. Sedangkan anak-anak bibi yang lain sudah berkeluarga dan bekerja di kota lain. Saya menginap seminggu di rumah bibi sebelum pindah ke rumah dinas dokter di belakang puskesmas. Jarak puskesmas dari rumah bibi hanya sekitar 100 meter.

Hal yang tidak menyenangkan di desa – selain sepi, tentu saja – adalah listrik dan air ledeng yang tidak tersedia 24 jam. Listrik baru menyala sekitar pukul setengah lima sore dan padam pada pukul enam pagi. Kadang ada pemadaman bergilir yang berarti listrik tidak menyala selama lebih dari 30 jam. Ledeng dari PDAM baru menyala tengah malam dan mati berbarengan dengan listrik padam. Jika ada pemadaman listrik, maka air ledeng mati selama minimal 2 hari. Itu pun air ledeng yang sampai ke rumah warga sangat keruh. Perlu waktu 12-24 jam untuk menunggu air yang sudah ditampung itu menjadi jernih. Bibi dan keluarganya sudah terbiasa MCK di jamban di sungai. Saya sendiri terpaksa sekali mengikuti kebiasaan mereka, dan menyiasatinya dengan mengangkut air bersih ke jamban!

Kesusahan lain di desa adalah sulitnya mencari makanan enak. Pasar hanya buka setiap hari Selasa; tidak lengkap, namun sembako dan sayur-sayuran yang diimpor dari Pulau Jawa sudah tersedia. Ada segelintir pedagang yang menjual ayam potong dan jarang sekali ada pedagang yang menjual ikan segar. Di desa ini ikan segar hanya didapatkan sendiri dengan memancing atau memasang jala panjang (reng-ge’). Sayangnya di masa sekarang ini agak sulit mencari ikan di Sungai Barito. Tampaknya populasi ikan dan udang di sungai sudah jauh berkurang akibat pencemaran dan penangkapan ikan ilegal dengan menggunakan setrum listrik dan racun. Walaupun memiliki kulkas, warga desa ini tidak bisa menyimpan ikan dan sayur segar karena kulkas tidak bisa berfungsi maksimal gara-gara listrik tidak full 24 jam.

Kadang ada warga yang menjual ikan hasil dari budidaya keramba miliknya, tetapi sangat jarang. Sesekali ada ibu-ibu yang berkeliling kampung menjajakan ikan hasil tangkapan dan sayuran hasil tanaman sendiri maupun hasil mencari di hutan. Juga ada seorang bapak tua yang menjajakan kue-kue tradisional dan bubur kacang. Tapi, ya, tetap saja tidak ada banyak pilihan. Untuk jajanan, yang menjadi andalan di desa ini adalah bakso (cilok) dan pentol goreng. Namun pada hari pasar, banyak pedagang soto Banjar, gado-gado, dan sate, dengan rasa yang mengecewakan.

Yah, selain kendala teknis, sebenarnya hidup di desa dan bekerja di puskesmas terpencil tidak terlalu buruk. Mau tidak mau semua harus dijalani dengan ikhlas dan pikiran positif agar hati selalu senang dan menikmati masa penugasan di desa.

PTT Galau

Posted: Oktober 26, 2012 in Dokter PTT

fotoku_4Sudah berbulan-bulan blog ini tidak tersentuh. Entah kenapa, sejak 2,5 tahunan yang lalu semakin malas menulis, seiring dengan menurunnya minat membaca. Nonton TV dan mengutak-atik smartphone lebih menarik ketimbang membuka buku dan novel-novel bagus serta laptop. Padahal ada niat untuk menuliskan pengalaman-pengalaman kerja yang menarik seperti masa-masa koas dulu. Janji untuk bercerita tentang kehidupan di rumah sakit pun tidak bisa saya penuhi. Apa daya, impian untuk menulis cerita yang layak untuk dijadikan skenario serial macam House dan  Grey Anatomy versi Indonesia pun menguap dengan perlahan tapi pasti.

Sejak Oktober 2012 ini saya berganti status dari dokter freelance atawa dokter kontrak menjadi dokter PTT pusat di pedalaman Kalimantan. Perlu waktu satu setengah tahun untuk menyiapkan mental untuk keluar dari zona nyaman kehidupan kota yang sangat mudah. Memang sih kedua orang tua saya tinggal di salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah, kota kecil yang sepi, tapi setidaknya ada listrik full, air ledeng lancar, jaringan TV kabel, dan sambungan internet.

Hampir 2 tahun yang lalu, setelah melaksanakan prosesi sumpah dokter, menyelesaikan uji kompetensi, dan mendapatkan STR (Surat Tanda Registrasi dokter), beberapa orang teman bergegas mendaftarkan diri untuk mengikuti PTT pusat. Alasan terbesar memilih untuk PTT ketimbang jadi PNS sih karena punya pengalaman PTT memberi poin lebih jika ingin melanjutkan pendidikan untuk menjadi dokter spesialis; di samping itu gaji dokter PTT lumayan besar. Konsekuensinya, mereka harus siap untuk ditempatkan di daerah-daerah tertinggal yang minim fasilitas.

Banyak cerita yang sudah saya dengar dari teman-teman yang sudah pernah merasakan kehidupan PTT – tentang gimana lamanya perjalanan menuju lokasi penempatan dan sulitnya medan yang harus ditempuh, listrik yang kadang ada kadang cuma wacana, tidak ada sinyal ponsel, sulit mendapatkan air bersih, banyak nyamuk dan hewan liar yang berbahaya, masyarakat yang kurang terdidik dan sulit menerima informasi-informasi baru dari kota serta sulit diajak bekerjasama, ditambah kasus-kasus penyakit sulit dengan fasilitas yang super minim. Belum lagi kondisi geografis daerah yang menjadi lokasi penempatan dokter PTT, kalau bukan daerah pegunungan yang rawan konflik seperti di Papua, pasti daerah-daerah tepi laut seperti di Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara, atau pedalaman Kalimantan yang harus ditempuh melalui sungai.

Kalau mau PTT, jelas saya tidak akan memilih Papua. Sedangkan di tepi laut atau mengarungi sungai juga sulit buat saya yang tidak bisa berenang ini, karena notabene ada kewajiban pelayanan puskesmas keliling ke desa-desa dengan mengendarai speedboat/perahu motor/sampan. Ngeri sekali membayangkan jika saya harus hidup di desa yang serba kekurangan tanpa jaminan keselamatan, tetapi dituntut untuk memberi pelayanan maksimal. Namun apa mau dikata, akhirnya saya ikut PTT juga.

Sejak awal tahun 2012 saya mulai memutuskan untuk mencoba mendaftar PTT pusat yang dibuka tiap 3 bulan sekali. Saya memilih penempatan di wilayah kabupaten kampung halaman saya yang bisa dibilang berada tepat di tengah-tengah pulau Kalimantan, agar dekat dengan tempat tinggal orang tua saya. Di kesempatan pertama ternyata tidak ada formasi di kabupaten yang saya inginkan. Di kesempatan kedua, karena kegalauan hidup dan pikiran yang labil, saya melewatkan masa pendaftaran yang hanya dibuka selama 1 minggu. 1 hari setelah pendaftaran itu ditutup, saya baru tahu jika pendaftaran telah dibuka seminggu yang lalu. Aissssh…

Akhirnya di kesempatan ketiga untuk tahun 2012 saya berhasil mendaftar sebagai dokter PTT pusat, lulus seleksi, kemudian ditempatkan di kabupaten yang telah saya pilih. Sebagian besar kecamatan dan desa di kabupaten ini berada di tepi sungai Barito dan anak-anak sungai di sekitarnya. Medan yang sangat ingin saya hindari, namun tidak banyak pilihan lain. Saya ditempatkan di Puskesmas Mengkatip yang wilayah kerjanya meliputi 9 desa di pedalaman, menembus hutan melewati anak-anak sungai Barito. Dari kabupaten ke kecamatan ini harus ditempuh dengan menumpang speedboat selama 3 jam. Desa terjauh yang harus dikunjungi saat kegiatan puskesmas keliling juga harus ditempuh dengan mengendarai speedboat selama 2 jam. Jika mengendarai kapal motor, waktu tempuhnya bisa mencapai dua kali lipat.

Uhm.. masih banyak hal yang bisa diceritakan; akan saya lanjutkan secepatnya begitu kembali bertemu dengan akses internet. See you..

*Doakan saya bisa kembali dari penugasan dalam keadaan sehat wal’afiat, jauh dari marabahaya dan celaka. Aamiiiin*

*Follow @raiyaroof via twiter

Blog Baru

Posted: Februari 28, 2012 in Dokter PTT, Intermezzo

Akhirnya saya bikin blog di wordpress juga. Sejak dulu kepingin nge-blog tapi masih nulis-nulis cerita nonfiksi ringan di notes facebook tentang pengalaman-pengalaman unik selama koas. Satu setengah tahun belakangan saya jarang sekali menulis, apapun! Lama-lama otak saya semakin menumpul, jari-jari semakin kaku, bahkan mata sudah tidak awas lagi menatap keyboard.

Mudah-mudahan inspirasi-inspirasi yang berlalu-lalang di benak saya bisa tertuang ke laman ini, tidak lagi hanya mengendap, lalu tergerus waktu, dan terbang lenyap tak berbekas.

Di lain kesempatan saya akan cerita pengalaman saya selama hidup di lingkungan rumah sakit, tempat orang-orang sakit menyerahkan nasibnya kepada para kacung rumah sakit, tempat para pengantar orang sakit yang tanpa sadar sering berbuat absurd karena kepanikan membungkus logikanya, dan tempat kami para pekerja medis komersial mencari nafkah untuk menyambung hidup.

Akhirnya, salam kenal ^_^

*pic’s taken from http://vi.sualize.us/amiejoyce/reading/
*Follow @raiyaroof via twiter